Showing posts with label 15HariMenulisDiBlog. Show all posts
Showing posts with label 15HariMenulisDiBlog. Show all posts

Wednesday, October 12, 2011

Perjuangan Punya Rumah

Dulu, rencana punya rumah masih jauh dari pikiran kami. Kata papa, setelah mapan, baru boleh pindah dari rumah papa mama. Mapan kalo menurut aku, ada anak, cukup kerja, gaji banyak. Setahun, setahun setengah, anak yang ditunggu-tunggu gak ada juga. So, agaknya kami gak bisa lagi jadikan punya anak sebagai patokan kemapanan. Saat itulah kami berencana beli rumah.

Properti di Batam itu muahaaal! Kalo kita mau di daerah agak pinggir, mungkin bisa yang lebih terjangkau, tapi rawan banjir. So, dibela-belain beli rumah nantinya di kawasan agak baik dan yang pasti bebas banjir.

Sampai akhirnya aku liat iklan di koran tentang penjualan rumah di salah satu perumahan. Ajak mama, papa, en Eja buat survey ke sana, ternyata rumah yang dimaksud terlalu kecil dan adanya di jalan buntu. So, gak jadi. Kami pun muter-muterin perumahan itu, dan tiba-tiba kepentok ama cluster di bagian depan. Eh, masih ada yang baru dibangun ternyata. Oleh pak satpam di situ kami dikasih nomor kontak marketingnya.

2hari kemudian aku ama mama ke sana. Sekali liat tempatnya, langsung suka. Udah oke banget. Akhirnya bayar tanda jadi.

Sekarang rumahnya masih dibangun. Uang muka masih dicicil dan sisanya bakal pake KPR. Setiap 1minggu sekali pasti aku en Eja ke sana, sekadar melihat rumah itu, calon rumah kami. Kecil dibanding rumah mama, tapi yang penting muat untuk kami tinggali.

Aduh, ada perasaan hangat tiap kali membayangkan nantinya kami akan hidup berdua, gak di rumah mama lagi. Mungkin aku akan sangat repot, tapi setidaknya bisa mengatur rumah tangga sendiri.

Semoga setelah ini, setelah rumah kami tempati Januari nanti, anak yang ditunggu-tunggu bakal datang. Karena kami makin siap sekarang.

Amiin.

Tuesday, October 11, 2011

#fiksi: The Big Day

"Hi, how are you?"

"I'm fine. Thanks."

*jeda* "Well, tomorrow is your big day."

"Iya"

*hening* "Semoga dia bisa menyiapkan kopi kesukaanmu yang tidak terlalu manis. Semoga dia tidak lupa melipat selimut sebelum tidur, dengan lipatan ke arah luar. Semoga dia sabar menghadapi sifat bawel kamu tentang kerapian. Semoga dia bisa membahagiakanmu."

*sigh* "Aku..aku masih berharap namamu yang ada di undangan ini, bukan namanya"

"Kamu bisa bilang itu ke anakmu kelak. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang baik. Ajarkan dia untuk tidak menyakiti hati orang lain"

"Ini..undangan untukmu"

"Terima kasih. Selamat menempuh hidup baru"

Si wanita mengakhiri kalimatnya dengan tetesan air mata. Rambut panjangnya tergerai saat dia menunduk tidak mampu menahan tangisan. Pelan ia mengelus perutnya yang membuncit. Anak mereka.

Monday, October 10, 2011

Obsesi Saat Hujan

Akibat pengaruh komik Jepang yang udah aku konsumsi sejak masih umur 10 tahun, suatu saat aku berkhayal bakal ditembak cowok di tengah hujan deras. Pasti sangat romantis. Pada masa itu aku belum kepikiran kalo hujan deras bikin kita menggigil dan suara jadi gemelutuk kedinginan. Juga aku lupa fakta kalo hujan deras bikin rambut kriyep-kriyep, gak ada manis-manisnya sama sekali. Yah maklumlah, anak remaja cuma kepikiran hujan itu sangat romantis.

Setelah komik, muncullah film-film yang bikin aku makin pengen ditembak pas hujan deras. Kebetulan film-film remaja masa aku SMA semuanya ada adegan basah-basahan di tengah hujan. Belum lagi film India yang adegan nari pas hujan termasuk salah satu adegan wajib ada, selain nyanyi kelilingin pohon, dan adegan loncat dari kereta api langsung ke mobil yang hebat banget. Duh, makin pengen deh ditembak, ditanya "mau gak jadi pacar aku" di tengah hujan deras. Pokoknya jadi obsesi banget deh.

Apakah akhirnya aku jadi ditembak cowok di tengah hujan deras?

Oh, tidak.

Tapi aku ditembak cowok pas lagi main ice skating, persis seperti adegan di serial Korea Full House. Sangat romantis juga lho. Asap-asap es, dingin, wuidih, romantis banget.
Btw, ni cowok yang nembak aku, 5 tahun kemudian jadi suami.

Eh, aku lupa bilang ya, pas jaman kuliah dan sering nonton Full House, jadi bikin aku pengen ditembak cowok pas lagi main ice skating?

Mission accomplished.

Sunday, October 9, 2011

Interviewing Ika

Hi Ika. Selamat malam. Bisa minta waktunya sebentar? Ini ada sedikit pertanyaan. Ada beberapa sih. Kita mulai langsung ya.

Apa sih hadiah paling berkesan dari..
1. Dari Papa?
"Sepatu 2 pasang. Pas aku umur 6 tahun. Papa bilang aku dibeliin dua karena papa sayang aku. Ah, udah lupa sepatunya warna apa aja, yang masih inget tuh perasaan senengnya."

2. Dari Mama?
"Mmm..agak lupa-lupa ingat. Tapi kayaknya AC deh waktu aku ulang tahun ke-15. Jadinya gak panas kalo pulang sekolah. Langsung klik, jadi dingin. Walopun mama jadi tambah sering ngomel karena listrik jadi mahal. "

3. Dari Adek-adek?
"Mereka curang. Padahal bertiga, tapi kadonya selalu satu. Hahaha. Tahun ini mereka patungan beliin sepatu yang udah lama aku pengenin."

4. Dari Teman-teman?
"Tahun ini sih, mereka gak ada ngasih hadiah barang gitu. Cuma mereka doain aku, supaya cepat jadi ibu. Karena kata mereka umur 25tahun itu paling pas buat jadi ibu. Langsung aku amiiin yarabbalalamiin-kan bangeet."

5. Dari Eja?
"Paling berkesan hadiah ulang tahun yang ke-25 ini. Karena kadonya dia beli pake uang hasil kerja sendiri. Yes. Tapi sebenarnya..gak usah dikasih hadiah barang juga aku udah seneng. Selama ini dia udah jadi suami yang baik banget. Bahkan untuk pertanyaan bodoh aku semacam "kenapa bukan Ika yang hamil, kenapa orang lain?" yang bakal dia jawab dengan "Ika..rezeki orang beda-beda. Mungkin Ika dikasih rezeki di tempat lain, belum di anak". Just being that nice and loving me that much, even in my silliest moment, is just priceless.

6. Dari Diri sendiri?
"Ahahaha. Suka deh ama pertanyaan ini. Aku ngasih diri sendiri hadiah kedewasaan. Stop denial. Mulai menerima bahwa kita ini hanya manusia, harusnya pasrah, tapi terus berusaha. Bukan malah menantang Tuhan, dengan sikap marah aku selama ini.
7. Dari Tuhan?
"Ah, Tuhan sudah mengizinkan aku hidup sampai hari ini itu aja udah jadi hadiah paling berharga. Dikasih keluarga yang baik, suami yang sayang, pekerjaan yang lumayan, dan aku yang harus menoyor kepala sendiri karena malah tidak bersyukur. Tapi bukan manusia namanya kalo gak minta lebih. Tahun ini aku mau hadiahnya anak, ya Tuhan.. Boleh ya, Tuhan?"

Oke Ika. Terimakasih untuk waktunya ya. Silahkan kembali beraktivitas.

Saturday, October 8, 2011

#fiksi : Jendela Jeruji Besi

Ini saat favoritnya. Melihat ke luar, ke arah jendela yang dengan senang hati menampung titik-titik air hujan. Sambil menyesap teh hangat yang baru saja diseduh, dia ambil kursi. Memandang jauh ke luar jendela. Hmmm, hujan gerimis ini cantik sekali, pikirnya. Sekilas dia menyapu pandangan ke pohon pinus di ujung sana. Ah, mereka pasti bersukaria setelah sekian lama kehausan. Setelah ini pasti mereka akan tumbuh besar, rindang, dan membuat orang lain bahagia cukup dengan melihat indahnya mereka.

Dia mulai merasa kedinginan. Sambil mengeratkan pelukan tangan ke badan, berharap akan mendapat sedikit kehangatan. Seandainya saat seperti ini ada orang yang memakaikan selimut, pasti aku akan bahagia sekali, kembali batinnya berbicara. Tapi siapakah kita ini yang bisa menentukan nasib, kita hanya bisa pasrah. Sekian lama dia berada di sana, baru sekarang rasa damai itu datang. Rasa marah pada Tuhan, marah pada keadaan, berganti menjadi rasa syukur untuk hidup yang pernah dicecapi. Kadang pahit, tetapi dia masih bisa mengingat saat-saat bahagia, saat tawanya masih lebar. Kenangan itu yang membuat dia masih bisa bertahan untuk terus meneruskan hidup ini. Biarkanlah Tuhan yang menentukan hidupnya, kita manusia hanya bisa pasrah.

Ya Tuhan, dingin sekali ini, akhirnya dia bergumam sendiri. Ah, sudah lama dia tidak menyebut nama Tuhan. Saat paling putus asa, dia hampir tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Tetapi hari ini beda, Tuhan rasanya dekat sekali. Tuhan sayang sama saya, yakinnya berkali-kali. Ini memang sudah jalannya dari Tuhan. Saya pasrah ya Tuhan, gumamnya di sela-sela doa.

"Utari Kirana!!"
Ah! Dia tersentak kaget. Lalu 2 orang wanita menghampiri, salah seorang dari mereka membawa map. Mereka juga diikuti oleh 2 orang pria lain yang berseragam polisi.
"Apakah benar Anda bernama Utari Kirana?"
Dia menelan ludah sebelum menjawab. "Iya, benar."
"Anda didakwa atas pasal pembunuhan berencana atas suami Anda sendiri pada tanggal 7 Oktober 2005. Untuk itu Anda dikenakan hukuman mati. Ada permintaan terakhir?"

Seulas senyum menghiasi bibirnya. Matanya memandang jauh ke balik jeruji besi, ke arah jendela, dengan titik-titik hujan cantik.
"Saya ingin berada di luar sana", tunjuknya sambil menunjuk ke arah jendela. "Saya ingin merasakan hujan", sambungnya lagi.

Kedua wanita itu saling berpandangan.

Friday, October 7, 2011

Hey, kiddo..

Hey kiddo,
I wish one day I could tell you all of these words. By making a message for you, even tough you're not coming yet, makes my heart blows in happiness. That I do still have a chance to have u one day.

Hey kiddo, there's something I need to talk to you.
I know it's too early, but when you're here, and I'm sure one day you will, please respect us, your parents.
You have no idea how much efforts and tears we shed for having you. You don't wanna know the nights I spent crying alone in my bed, while holding my negative test packs. You'll be sad knowing that I almost giving up to have you. I blamed your future dad, even I blamed God for making me suffer like this.

No, don't get me wrong kiddo, I do love your future dad so much. I won't giving up our marriage. You know what, either you believe it or not, we, I mean me and your future dad, we've talked about this, about what if we can't have kids, what if in the end there will be only two of us, looong ago before I said "I do" to him. But can't believe it, we're facing it now. Really can't believe it.

Hey, kiddo..
By the time I wrote this letter to you, I'm still struggling to make peace with myself. I'm calming my self down. I have to change. I can't be like a soda water, easily to explode. Maybe you're asking why. Because I have to reject all the negativity from my mind. Even if I don't have power to decide whether I'll have you this month, this day, or even this century, but I do can control my mind. Having faith. Believe in something good. That you'll come here, with us, soon.

Hey kiddo,
No one in this world could guarantee when you come, we'll be happier. Many couples split up because of their children. Many parents cry and die in sadness caused by their kids. And countless kids make their parents in danger and total pain. But, we'll take that risks. We're ready for it. You hear that kiddo, we'll take any risks.

Hey kiddo,
If you're up there, please tell God we're ready here. We're ready to have u, now.

Thursday, October 6, 2011

Telur Dadar Award

Telur dadar adalah salah satu masakan paling pertama yang aku bisa masak dengan benar. Urutannya harus tepat. Pecahin telur, masukkan sejumput garam, aduk sebentar pakai garpu, panaskan minyak, tuang telur, dan naaah, di sini bagian yang penting. Kapan mesti membalik telur dan jaga supaya jangan berhamburan.

Okay, aku bukan Farah Quinn yang bisa ngasih kuliah 2 sks (1 sks tentang telur dadar, 1 sks tentang membesarkan dada) masak memasak, so let me begin this story with a day after my wedding night.

*yang ngeres udah pasang mata baik-baik nih pasti*

Kebetulan yang langka, aku nikah ama orang yang fobia/anti/enek ama telur rebus dan telur mata sapi. So, satu2nya pilihan untuk menyajikan telur buat suami tercinta adalah telur dadar. Ah, gampang kan? Kecillah, kalo cuma telur dadar aja. Masalahnya, cuma itulah masakan yang aku bisa masak menurut aturan tata laksana yang berlaku.

So, pagi hari setelah nikah, seperti biasa Eja harus sarapan jam 06.30pagi. (Biar gak kaget, sebagai ilustrasi 06.30 itu waktu aku bangun pagi). Sarapan pagi itu tebak apa. Yak, telur dadar. Aku yang buat.

Pakai telur dua. (Ya iyalah, ikaa, skip!)
Pakai daun bawang potong miring.
Pakai tomat potong dadu.
Pakai bawang merah iris bulat-bulat.
Pakai bawang putih iris tipis.
Pakai cabe merah dipotong kecil-kecil.
Pakai cabe rawit potong.

Ceeesss!!
Adonan telur dadar spesial udah dituang ke kuali. Oke, ini masalah. Kualinya belum panas, apinya aku gedein. Oh, ternyata minyaknya kebanyakan, adonan telur jadi mengambang.

Jangan menyerah, Ika.

Pinggirnya udah agak gosong, jadi aku balik telor dadarnya. Hop! Sekali balik donk, langsung bisaa *bangga*. Pinggirnya udah agak coklat, langsung aku matiin api kompor, dan angkat tuh telur dadar ke piring.

Pasti aku dipuji deh ini. Isinya banyak, macam2, wanginya udah semerbak asoi.

Eja ambil garpu, mulai motong telur. Ceesss.. Dalamnya belum mateng alias masih mentah.

*nangis*

Sejak itu aku tambah sering masak telur dadar, berkali-kali lagi kurang matang, kurang asin, kurang hambar, kurang lebar, tapi tetep Eja makan sampai habis.

Kata dia, telur dadar buatan aku juara banget. Why? Because I put love sprinkles there.

Wednesday, October 5, 2011

21 tahun setelah #TK

TK di sini maksudnya Taman Kanak-Kanak ya.

Mari kita mengandalkan memori otak sampai sejauh mana dia bisa mengingat kenangan 21 tahun lalu. (Tunggu, apaaa!? 21 tahun laluuu?! *backsound menggelegar ala sinetron pas adegan ternyata si A bukan anak kandung si B, ternyata ketuker*)

Baaiklaaah,
Prestasi waktu TK, dimulai :
- aku masuk TK pas umur masih 4 tahun. Karena mama gak tahan ama kelakuan aku yang super evil, diantaranya, jalan kaki di parit depan rumah, suka gigitin bahu mama, suka cubitin pipi adek aku yang masih bayi, suka manjat pohon cherry sampai pucuk pohon, dll dll yang terlalu nista disebutin di sini.

- aku bisa ngayun ayunan sambil berdiri di atas bangku ayunan. Pokoknya rasanya kayak terbang di langit deh pas ayunan lagi kenceng banget itu. I'm on the top of the world! Rasanya gak perlu aku sebutin di sini kalo aku nangis karena ayunannya gak bisa berhenti. Untung ditangkap ama pak guru. *sniff*

- aku pernah mancing kodok di kolam ikan, pake tali pinggang temen. Oke, sekarang ketawalah kalian. Tapi zaman itu otak aku juga masih kecil, jadi wajar kalo gak tau kalo kodok gak bakalan tertarik ama tali pinggang.

- aku bisa manjat panjat-panjatan sampai paling atas. Waktu itu aku belum terlalu peduli kalo celana dalam keliatan kemana-mana. Yang penting sampai paling atas trus dudukin kursinya.

-waktu karnaval, udah pinter minta pake kostum dokter. Untung sekarang kesampean jadi dokter.

21 tahun setelah selesai TK, aku masih ingat beberapa prestasi (atau kenakalan, kalo kita lihat di zaman jahiliyah itu), dan beberapa materi pelajaran. TK zaman aku dulu, bener-bener Taman Kanak-Kanak. Hanya main, susun balok, mewarnai, bukan membaca dan berhitung seperti TK zaman sekarang.

TK buat aku dulu, adalah salah satu kemewahan masa kanak-kanak. Lebih banyak porsi ketawa dibanding sedih. Berbanding terbalik ama kehidupan dewasa 21 tahun kemudian.

Tuesday, October 4, 2011

Jangan Sampai Hilang

Di jalan waktu pulang kantor beberapa hari yang lalu, ada temen yang nanya gimana dulu waktu aku pacaran ama Eja. Well, kami pacaran hampir 5 tahun, pokoknya sepanjang masa kuliah. Kalo aku ditanya pernah gak ngalamin masalah yang beraaat banget sampe mau putus, jelas aku bilang enggak. Mungkin karena Eja tuh orangnya sangat tidak macam-macam. Gak pernah ngatur aku harus gini harus gitu. Gak pernah cemburu. Gak pernah gak percaya ama aku. Buat dia, daripada menyiksa diri dengan pikiran negatif curiga aku sama orang lain, mending perbanyak pikiran positif.

Pernah jengkel liat pasangan yang kerjaannya suka meriksain hape kita kalo ketemu? Well, aku gak pernah ngalamin. Karena Eja sama sekali gak pernah ganggu privacy aku. Bahkan sekarang, waktu kami udah nikah pun, tiap liat aku sibuk ama BB (hehe..), dia cuma bilang, "ika bikin apa sik, serius kali", trus aku langsung nyengir-nyengir en mulai ceritain apa yang aku baca/ apa yang aku tulis. Bukan dengan nada marah, karena ngerasa dicuekin. Karena sikap dia yang super percaya gini, aku jadi gak khawatir sama sekali. Walaupun dia di Rumah Sakit dikelilingi banyak perawat yang masih muda-muda dan cantik, aku sama sekali gak khawatir.

Pokoknya dalam satu hubungan itu kalo mau awet, saling jaga kepercayaan aja. Percaya kalo kita emang satu-satunya yang ada di pikiran dia saat ini. Pake prinsip ini, hubungan kami awet sampai hampir 6 tahun. Itu aja sih, yang jangan sampai hilang.

Monday, October 3, 2011

TujuhTimeLine

1. Timeline
Time (n) : what is measured in minutes, hours, etc.
Line (c) : an imaginary limit or border between one thing or another.
(From Oxford Dictionary)

2. Timeline
Sekumpulan kalimat yang disampaikan beberapa orang dalam waktu bersamaan di akun twitter mereka masing-masing. Tempat dimana aku mengenal beberapa orang hebat, pikiran-pikiran inspiratif, motivasi, ilmu, yang mereka bagikan gratis di sana.

3. Timeline
Dimana aku pernah merasa sangat tersanjung karena banyak mention, seakan-akan dunia bersikap sangat ramah. Dimana aku juga pernah terseok sakit hati melihat berita kehamilan beberapa teman. Dimana aku bahagia menerima banyak ucapan selamat ulang tahun, walaupun aku tau sebenarnya mereka tidak ingat. Dimana aku bisa berkomunikasi langsung dengan beberapa orang yang aku kagumi, dan sangat senang ketika mereka membalas.

4. Timeline
Waktu 1 tahun yang dia habiskan untuk membuat aku mau mengatakan ya, bersedia jadi pacarnya.

5. Timeline
Tidak kurang dari 4 tahun 6 bulan kami berproses saling mengenal, saling berkompromi, berbagi tawa, air mata, sampai akhirnya aku bilang "of course" saat dia tanya "would u be my wife?".

6. Timeline
Maret 2010 hingga Oktober 2011. Usia pernikahan kami masih muda. Kalau balita, ini belum bisa jalan, masih merangkak. Begitu juga dengan kami. Masih meraba, merangkak, dan beberapa kali tersungkur mendengar kenyataan Allah belum percaya kami punya keturunan. Tidak terhitung berapa banyak bahunya menjadi tempat air mata ini tumpah. Tetapi kami masih berbagi tawa, saling menguatkan. Dan membuang jauh-jauh pikiran bahwa kami hanya akan hidup berdua.

7. Timeline
Waktu yang tidak pasti. Sampai entah kapan aku harus menunggu. Menunggu anak kami yang akan memanggil aku ibu.

Sunday, October 2, 2011

Cinlok? Yes, WE ARE!

-cerita dua tokoh ini bukan fiksi-

September, 2004

-Ika-
Hari ini hari pertama di kampus. Wuidih, jadi anak FK, euy! Seneeeeng.. Jadi istri dokter udah lama jadi cita-cita aku. Sejak kecil malah. Makanya dari SD udah belajar bagus-bagus, biar bisa jadi dokter en punya pacar dokter, trus jadi istri dokter. Alhamdulillah PMDKnya diterima. Yihaaa!! Mmmm..di jadwal kuliah tiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Sesuai dengan nomor induk mahasiswa yang ganjil, aku ada di kelas A, masuk dari jam 7 pagi dilanjutkan praktikum jam 10 sampai jam 1 siang. Pokoknya di FK ini aku harus banyak teman, ikut banyak kegiatan. , jadi panitia ini-itu. Oke, kayaknya kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) asik nih. Eh, ada penerimaan panitia Try Out SPMB, kegiatan tahunan FK USU sih, panitianya memang dari semester 1. Lumayan.. pokoknya aku punya 6 tahun waktu untuk nyari cowok mana yang baik dan bisa dijadiin suami. Yeah, i'm that shallow. Biariiinnn..

-Reza-
Alhamdulillah diterima di FK USU. Gak sia-sia mama doain ya. Baru hari pertama di kampus, aku udah ditunjuk jadi komting, komisaris tingkat. Semacam ketua kelas. Sesuai NIM yang genap, aku masuk ke kelas B, praktikum jam 7 pagi, lanjut belajar di kelas jam 10 sampai jam 1 siang. Sekelas ada 100 mahasiswa gini, apa nanti bisa ingat nama-nama mereka ya? Belum lagi harus ingat temen seangkatan di kelas A. Ya udah. Kita liat nanti aja. Aku maunya bisa aktif di sini, kan udah jadi mahasiswa, bukan anak SMA lagi. Makanya aku ikut HMI, dan jadi panitia Try Out SPMB. Menambah teman, nambah kenalan.

-Ika-
Jam 1 ini ada pertemuan anggota muda HMI. Datang ajalah, toh kuliah juga udah kelar. Eh, ada komting B itu, aku lupa namanya. Padahal dia juga panitia TryOut, satu divisi ama aku lagi. Duh, duh lupa. Reza ya, kalo gak salah. Nantilah, aku tanyain aja ama Dina. Biasanya Dina cepat hapal nama orang. Oke, mari kita dengarkan pengarahan. *yawn*

-Reza-
Sudah sampai di komisariat HMI. Tadi di depan pintu ketemu cewek rambutnya pendek. Cuma dia sendiri yang pake rok selutut, baju kemeja, gak berjilbab di sini. Aku gak kenal. Pernah liat kayaknya waktu rapat TryOut kemaren. Tuh, ada temennya manggil dia Ika. Oke, gampanglah, lembar absen ada di aku kok, tinggal cari namanya gampang. Loh, loh, ini pengarahan kok tiba-tiba udah siap?

-Ika-
Jumpa lagi ama Reza itu di pintu keluar. Hmm, tasnya Rusty, sepatunya Nike, lumayan, lumayan, pasti tajir. Dia bawa kunci mobil kayaknya. Lumayan. Yah, yah, si Dina udah duluan pergi. Bisa ketinggalan naik angkot kalo gak ama Dina ini. Cabut. Cabut.

-Reza-
Aduh, si Ika itu ngeliatin, jadi grogi masang sepatu ini. Aduh, kebalik ini yang kanan malah mau dipasangin di kiri. Sial. Loh, kok udah pergi Ikanya? Bentar, bentar.

-Ika-
Hop. Aman, Dina udah di samping. Tinggal nyebrang aja, nyari angkot pulang.

-Reza-
"Ikaa!"

-Ika-
Loh, si Reza itu manggil aku. Ini ada apa ya. "Kenapa?"

-Reza-
Manisnya si Ika waktu noleh ke belakang tadi. Jadi lupa mau tanya apa. "Mau pulang? Naik apa?"

-Ika-
Yah, cuma nanya aku naik apa pulang ini. Kirain mau nawarin ngantar pulang. "Naik angkot, ama Dina"

-Reza-
"Oh, ya udah" Sial. Kenapa jadi gak berani nawarin biar aku yang ngantar dia pulang? Bego. bego.

Januari, 2005

-Reza-
Ini jari tangan pada bego semua. Daritadi ngetik proposal salah-salah terus. Apa karena ada Ika di sini ya? Aduh, mana duduknya dekat banget. Wangi. Sial, salah lagi. Delete.

-Ika-
Lagi di rumah Reza, sama Harbi en yang lain, ngerjain proposal TryOut SPMB. Yah, baru hari Sabtu gini yang sempat ngerjain. Tugas kuliah banyak banget, kayak kerja rodi. Btw, rumahnya bagus. Oh, ternyata adeknya ada 2 yang cowok, kakak perempuan 1. Baguslah proposalnya udah mau siap. Tinggal aku cari tumpangan ke depan, trus naik angkot pulang. Semoga gak keburu Maghrib di sini.

-Reza-
Oke, siap proposalnya. Si Harbi minta antar pulang. Sekalian aja aku tawarin Ika mau gak diantar pulang. Ternyata dia mau.

-Ika-
Barusan aja diantar Reza pulang ke rumah tante. Sempet susah banget pas dia masukin mobil ke gang yang sempit kayak lubang neraka ini. Hahaha. Tadi di jalan kami ngobrol banyak, jadi tau kalo dulu dia sebenarnya mau masuk teknik mesin, tapi lulus di kedokteran. Eh, bentar, ada sms dari Reza nih.

-Reza-
"Ika malam ini ada acara gak?"-sent. Setelah setengah jam lebih mikirin sms Ika apa enggak, akhirnya terkirim juga. Tinggal setengah mati nahan sakit perut nunggu Ika balas apa.

-Ika-
Aaaaakk!! Aku jawab apa ini!!! Jawab apaaa!!
"Gak, emang kenapa?" -sent. Standar banget sih jawabnya emang. Nunggu 1 menit..2 menit..Arghh! Mana balasannya?

-Reza-
Beres dari toilet. Ternyata tadi emang sakit perut beneran. Holy shit, ada balasan dari Ika. Aku langsung balas aja "Kita jalan yok. Nonton kek, atau makan, yang penting jalan lah. Mau gak?- sent.

-Ika-
AAAAakkk!! Aku diajak ngedate! Ini pertama kalinya ada yang ngajak ngedate sejak kuliah.. Duh, capek lonjak-lonjak kesenengan. "Oke, boleh"- sent. Kata kak Inda jawab aja pendek-pendek, biar gak keliatan kali ngarepnya.

-Reza-
Yes! Ika mau. "Aku jemput jam 7 ya, Ka"-sent. Bersihin mobil dulu, minjem parfum mobil ama Kak Ida, trus cari jaket kesayangan ada dimana. Dududu..

-Ika-
Mampus ini! Aku pake baju apa!? Pake sepatu apaaaa?! Gawaaaat!! Whole world, help me!!

-setelah beberapa kali ngedate, ikut kepanitiaan yang sama, ikut organisasi yang sama, akhirnya dua tokoh kita ini pun semakin dekat.-

Desember, 2005

Reza : "Ka, mau gak kalo sama-sama aku terus?"
Ika : "Maksudnya, jadi pacar, gitu?"
Reza : "Iya, mau gak?"
Ika : "mmm..boleh"

Maret, 2009

Reza : "Ka, would you be my wife?
Ika : "Of course"

Maret, 2010

Reza : "Saya terima nikahnya Fairuza Laily binti Amuransyah dengan mas kawin tersebut"
Ika : "Alhamdulillah.."

Hari-hari sekarang,

Teman : "Kalian dulu satu kampus ya, makanya bisa ketemu?"
Ika : "Iya, satu angkatan malah."
Teman : "Wah, cinlok dong"
Ika : "Cinlok? yes, we are!"

-fin-




Saturday, October 1, 2011

Malam Minggu Si Istri Dokter

#Disclaimer : tokohnya nyata, ceritanya fiksi.

Malam Minggu ini bukan malam Minggu biasa. Ini lebih istimewa. Matanya menyapu meja makan. Apalagi yang mesti disiapkan? Ohya, lilin. Dia pun mengambil lilin dari lemari, lalu menyalakannya dengan lighter. Ah, romantis sekali. Tangannya merapikan gaun hitam yang melekat erat di badan. Baju berbelahan punggung rendah dengan tali hitam yang menggantung di belakang leher. Seksi. Siapapun yang melihat pasti berdecak kagum. Dia tersenyum kecil. Membayangkan hal-hal nakal yang akan menjadi kelanjutan dari makan malam ini.

Matanya tertumbuk pada jam dinding. Aduh, sebentar lagi waktunya akan tiba. Cepat dia ke ruang tamu menghidupkan CD player, dan lagu berirama lembut mengalir pelan. Makanan lezat, lilin temaram, musik merdu, suasana menjadi romantis. Sangat sempurna untuk malam istimewa ini.

KRIIING!
Telpon rumah berbunyi. Bergegas dia mengangkat telpon itu.

"Ya, halo?"
"Sayang, ini aku"
"Sayaaaang, kenapa belum pulang, aku nunggu loh"
"Iya, maaf sayang.."
*jeda* "Aku masih ada pasien. Kondisinya gawat sekali. Aku tidak bisa pulang malam ini"
*jeda lama*
"Sayang, kamu gak marah kan? Kok diam aja?"
Dia menghela nafas.
"Aku..iya, aku denger."
"Kamu udah makan kan, sayang? Aku nanti makan di sini aja, udah ada perawat yang menyiapkan dari rumah sakit"
"Oke, gak apa-apa"
"Naah, gitu donk. Besok kan kita bisa ketemu. Bye sayang"
"Iya, bye"

Klik.

Malam Minggu. Hari ini tepat setahun pernikahan mereka.

Friday, September 30, 2011

mengenal ciuman : mari kita flashback

#Disclaimer : cerita berikut mengandung 40% fiksi, 60% fakta. Yang mana fiksi dan yang makna fakta, biarlah menjadi misteri.

-Ika, usia 9 tahun-
Asik, dikasih nonton video di rumah temen ama mama. Semoga power rangers kali ini, kan dia punya laser disk di rumahnya. Asik, asik, hore, hore.
*sampai di rumah teman, film diputar* LOH? Kok yang main orang cina? bukan power rangers ya? Ha? Kok perempuannya buka baju? Ha? Kok tangan si kakak itu masuk ke dalam celana pacarnya? IH! kok ada ciumannyaa? Pulang ah, takut mama marah.

-Ika, masih usia 9 tahun-
*pas jam keluar main* *cerita ke teman lain* Eh, kemaren aku nonton video yang ada ciumannya loh. Ternyata ciuman itu artinya tukaran ludah. Jorok ya. Kok mau ya mereka tukaran ludah gitu?

-Ika, usia 16 tahun-
Pulang sekolah ini, udah janjian ama teman-teman sekelas mau nonton Ada Apa Dengan Cinta. Pas liat artikel tentang film AADC ini di majalah Gadis kemaren, yang main ganteng banget. Semoga bagus ya. Karena masih trauma ama film Jelangkung yang serem kali itu.
*pas nonton* Sedihnyaaaa, Rangga udah di bandara, en Cinta ngejar-ngejar gini. Semoga ketemu. Semoga ketemu.
Hore! mereka ketemu juga. *terharu*
*2 menit kemudian*
Cinta : Ini gak fair, hiks.
Rangga : *mulai mendekati bibir Cinta*
HUAAA!? MEREKA CIUMAN! MEREKA CIUMAN!

-Ika, awal kuliah-
Topik tentang ciuman bakal aku masukin ke percakapan sehari-hari deh. Yah, kayak ngomentarin cuaca aja. Lagaknya ahli.
*percakapan dengan kakak sepupu* Ciuman itu enak tau, Ka.
*percakapan dengan nenek* Ciuman itu kayak makan bakso. Kenyal-kenyal. Apalagi yang bibirnya tebal.
*percakapan dengan teman* Aku gak pernah ciuman, Ka. Pernahnya dicium.
*percakapan dengan sahabat pena dari Italia* WHAT? You've never been kissed? OMG.

-Ika, awal menikah-
Ciuman itu..harus dengan orang yang tepat, dan saat yang tepat. Right time. Right place.

-dan dilanjutkan dengan ciuman-ciuman lain yang punya banyak arti lain-