Showing posts with label Bitter. Show all posts
Showing posts with label Bitter. Show all posts

Tuesday, November 26, 2013

Aksi Solidaritas Dokter Indonesia : Sehari Tanpa Dokter


Judulnya aja udah provokatif gini dan yakin deh bikin kebat kebit. Sehari tanpa dokter? Apa masyarakat bisa tahan? Sejam aku tinggalin poli di puskesmas aja pasien udah mulai ngeluh nyariin mana dokternya. Nah, ini seharian? What would happen?

Cerita dulu, jadi aksi ini adalah respon dari kasus dr. Ayu, SpOG dkk di Menado yang dipenjara karena pasiennya meninggal. Kasus ini dari tahun 2010 dan dr. Ayu beserta 2 orang dokter lain sudah dinyatakan bebas murni setelah keluar hasil autopsi yang menyatakan pasien meninggal bukan karena kesalahan prosedur operasi dan keterlambatan penanganan, melainkan karena emboli, yang emang gak bisa diprediksi dan mematikan.

Smell fishy, rite? 

Ngapain juga kasus yang udah clear 3 tahun lalu ini diungkit lagi sampe tingkat MA dan ah elaah, putusan MA malah ketiga dokter ini dipenjara. Glek! So fishy! Aneh!

Di sinilah aksi ini dimulai. Dokter emang disumpah untuk menganggap dokter lain adalah saudara kandung yang harus disupport dan tidak boleh saling menjatuhkan. Makanya IDI pusat berkoordinasi dengan pihak terkait, Kementrian Kesehatan, Komisi IV DPR RI  membahas masalah ini. 

Sejak itu jadi banyak pro dan kontra. Ada yang bilang dokter beginilah, begitulah, tidak kompetenlah, tidak terpakailah, dan banyak yang nyukurin. ASedih ya. Dokter dituntut untuk selalu tau, selalu ceria, selalu senyum, harus bisa meredam emosi pasien, harus menjelaskan proses administrasi juga, harus berjiwa sosial tinggi dan mau menggratiskan pasiennya yang miskin, tidak boleh dapat fee terlalu mahal, dan kalau pasien sampai meninggal, dokter harus bersedia disalahkan dan masuk penjara! 

Gilaaa..

Ini dokter apa dewa?

Memang, kejadian ini jadi bikin introspeksi juga. Mungkin selama ini dokter terlihat arogan, kurang bisa komunikasi dengan pasien. Mungkin karena dokter merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk kesembuhan pasien, jadi terkesan sombong. Mari kita, sebagai dokter pelan-pelan perbaiki diri juga. Latih komunikasi yang baik dengan pasien. Pengalaman aku sebagai dokter puskesmas, pasien yang puas dengan penjelasan kita, lebih besar tingkat kesembuhannya loh. 

Dan gak ada yang lebih buat kita bahagia sebagai dokter selain liat pasien sembuh. It's a priceless feeling and i'm blessed having that.

Untuk aksi besok, puskesmas tetap buka seperti biasa. Sesuai edaran IDI, emergency tetap buka dan pasien miskin tetap dilayani. Tapi aku bakal pake baju jas dokter, biar kerasanya ikut aksi juga. Besok bakal minta Eja buat live report dari spot aksi yaitu di RS Kasih Sayang Ibu.

Buat mereka yang menghina dokter tanpa ampun (banyak kok di media sosial, di kompasiana, nyeri juga bacanya), awas loh ada karma. Dan yah, semoga kalian SEHAT terus ya, jadi gak perlu ke dokter. Gak perlu jumpa profesi yang kalian benci ini.

Bangkit guys. Fight back. Stand for our right. Yang gak adil, harus diluruskan. 

Saturday, September 21, 2013

I Need Ur Smile, ASAP!

Terbangun jam 3 pagi karena badan Agi panas lagi dan batuknya makin sering. Ini udah hari ke-4 Agi sakit, demam tinggi, sedikitpun gak mau makan, hanya nyusu aja. Udah 4 hari juga aku begadang, susah tidur, lupa makan, dan sekarang malah pilek.

Ah.

Merasa sedikit kecil hati karena Agi sakit dan aku jadi bingung. Papapnya lagi jauh, Aginya gak mau lepas dari aku, tapi kerjaan yang udah ditinggalin seminggu ini udah menumpuk. Semoga masih cukup semangat dan sikap positif (yang biasanya aku dapet dari papapnya Agi) buat sisa bulan ini.

Ah, my baby..
How mama needs ur big grin..
Ur big laugh..
Ur big smile..

Liat dia baring gak tenang karena demam, bibirnya yang pucat, mukanya yang merah kepanasan, aku jadi sedih. Apapun mau deh aku kasih dan aku lakuin, supaya dia sehat dan ceria lagi. Obat udah, istirahat udah, makan yang masih susah.

Bukan cuma Agi yang menderita, Nak.
Mama juga sangat tersiksa denger Agi kepayahan nafas karena batuk. 
Liat Agi bolak balik badan tidur gak tenang karena demam.. 
Sini, sakitnya buat mama aja ya. 

Karena mama pasti lebih cepat sembuh liat Agi udah sembuh..

Mama needs ur smile. 
Cepet sembuh ya sayang.*hiks*


Thursday, February 23, 2012

Bridesmaids. Thumbs down.

Just watch 3/4 of the movie Bridesmaids. And it's sooo terrible. I saw the note on the cover "funnier than Hangover". After watching it, I kinda blaaaah. They're lying. It's not even close! Puhlissss!!

Okay, here we go. The movie is gross. And bad sex moves as the opening act is really..I don't know, bad start(the scene is not as good as in Basic Instinct, so back off). 10 minutes later it's just goin' worse, more gross scenes come out more and more. I REALLY REALLY don't get the humour. In fact, there's nothing funny stuffs there! I'm sooo pissed off!

I spend half of my night watching this bad movie. It's just sad. I don't think this is a funny movie. It's a tragic chick flick, not fun at all, and I'm sure the one who comment it's funnier than Hangover has been brain washed.

Still thinking to finish watching it or not, maybe I'll do it tomorrow. Just to make sure I've finished what I've started. Oh, the pain..

Conclusion : Don't watch it, unless u wanna ruin ur night. And it's definitely ruin my night! Darn it!!

Tuesday, December 20, 2011

Target 2012

Sebentar lagi, atau tepatnya 10 hari lagi, udah tahun 2012 aja.

Aku cuma punya target 1, tahun ini : ~ punya anak ~ Dan itu udah gak tercapai.. (dalam hati masih pingiiiiiin banget ada keajaiban di 10 hari ini kalo aku hamil..) *amiin*
Tapi sebagai gantinya, gak direncana-rencanain, kami bisa beli rumah. *yayy*

So, target 2011 ~ punya rumah ☑

En target 2012 ~ punya anak.

Thursday, December 1, 2011

Diskriminasi Terhadap ODHA is So Last Decade!

Hari ini tanggal 1 Desember 2011. Publik taunya hari ini adalah Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day. Seperti biasa, di twitter akan banyak yang menyampaikan pesan-pesan supaya jangan mendiskriminasikan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), yah walopun pesan ini harus kita ingat setiap hari, tapi pada hari ini sepertinya semua orang punya ingatan cemerlang dan hati yang putih bersih untuk tidak mendiskriminasi.

Jadi ingat, suatu hari aku jadi MC di acara kampus, tentang seminar HIV/AIDS, temanya seputar Stop Diskriminasi Terhadap ODHA. Hari itu tepat 1 Desember. Pembicara ada 3 orang, 1 dokter umum, 2 lagi dari komunitas HIV/AIDS di Medan. Salah satu pembicara, mbak Bebi namanya, menyampaikan materi dengan sangat baik. Badannya kekar bagus, sinar matanya cemerlang, rambutnya panjang, dan intonasi bahasanya baik. Setelah sampai di materi diskriminasi terhadap ODHA, dia bilang "saya ini HIV+" dan satu ruangan langsung sunyi senyap. Pause lama, sampai akhirnya ada salah satu peserta yang bertepuk tangan karena salut terhadap keberanian mbak Bebi buat 'coming out'. Kata mbak Bebi, "saya lebih takut kalian menulari saya kuman. Saya harus punya gunting kuku saya sendiri, saya harus punya tempat makan saya sendiri, karena saya rentan terhadap penularan kuman dari orang lain".

See, mereka lebih takut tertular penyakit dari kita loh, karena sistem imun mereka lemah. Tapi kok ya, yang banyak kejadian malah orang-orang sehat (tidak/belum tau mengidap HIV/tidak) malah menjauhi takut tertular. Kebalik, jek.

Kita bisa dengan gampang menularkan flu dari bersin ke mereka. Flu di kita yang hanya 2-3 hari, di mereka bisa berminggu-minggu. Tau kan, kalo HIV itu gak nular melalui bersin, ciuman, berenang, dan berbagai aktivitas normal lainnya? Belum tau? Lah, katanya manusia modern.. Masa gak tau?

Diskriminasi terhadap ODHA ini yang membuat penderita HIV+ jadi putus harapan. Gak sedikit yang bunuh diri. Hayo, pasti ada yang mikir "mampus lah, rasain akibat perbuatan mereka sendiri". That's super cruel, 'coz I have a story about Aprilia here, seorang anak usia 2 tahun, penderita marasmus, dengan HIV+. Dia meninggal minggu lalu. Apakah salah dia sampai kena' HIV? Think again, dude.

Kalo kamu di satu ruangan dengan 1 orang mabuk dan 1 penderita HIV+. kamu harus pilih duduk di salah satu kursi mereka.. Sebagian dari kamu bakal milih duduk di dekat si pemabuk. Tapi aku, bakal milih duduk dekat penderita HIV+. Jauh lebih tidak berbahaya. Your call, to stop any discrimination.



Thursday, November 17, 2011

Dinas Malam Di Asrama Haji

Sialnya dapat jadwal jaga malam di asrama haji embarkasi Batam. Dari kemaren udah coba menghindar dari dinas malam ini dengan alasan "kenapa sih, bukan yang masih single aja yg jaga? Kenapa sih harus dokter perempuan yang jaga malam? Kenapa bukan yang laki-laki aja, kan dia gak ada ngurus suami bla bla bla.." *ah lu Ka, alesan ngurus suami, padahal tiap hari yang bangun duluan juga Eja*

And crap. Tadi malam jadilah aku dinas malam di sini. Untung ada tempat tidur, lumayan empuk kok. Pasien cuma satu yang harus diobservasi, nenek-nenek, jadi pastilah aman. Jam 11 malam teng, aku udah mulai ambil posisi tidur.

.... zzz...

Tiba-tiba terbangun karena denger ngorok keras banget. Keras kayak ikan paus lagi horny. Bah! Itu ngorok apa jerit? Ternyata itu keluarga si nenek yang ikutan tidur jagain. Woy! Woy! Polusi suara woy!

*nangis*

Sampai Subuh aku gak bisa tidur lagi. -_________-"

Ya begitulah. Mari kita bersiap pulang dan puas-puasin tidur di kamar tercinta.

Saturday, November 5, 2011

"I'm Normal, I'm Sane!!"

Pagi ini chat dengan Kak Wulan (@wulskie). Dia senior aku di FK, sekarang lagi ppds anastesi.

We've never had any chat before in college, just said hi there, so this is the first time we actually did a long conversation.

Banyak kata-kata dia di sini yang bisa bikin aku kayak nyadar, terutama setelah aku ngeluh kenapa ini belum hamil juga. Kata dia "Ini ujian dr allah,kita berserah aja sama Allah.."
Pas aku bilang kalo aku ini anomali krn belum hamil juga, dia langsung protes, "Kok anomali,yg anomali itukan kalo punya anak pdhl blom merit..Ihihihihihi,yaa kun?"

Aku bilang, keinginan punya anak ini udah hampir obsesi. Dan dia berkali-kali ingetin tentang ini.
"Kalo ntar dah sampe jd obsessed,gak ada nikmatnya lg loo.. Lagian,nafsu & ambisi yg belebih itu kawannya setan..
Nikmati aja ik,gak ada yg perlu diburu.. Waktu gak bs dibeli kembali,jd jgn buang waktu dgn bersedih.. Itu aja,selebihnya tinggal masalah waktu,nikmati aja proses menunggu rejeki ini.. Biar kalo dah dpt rejekinya,kita akan jd sgt amat menghargainya.."

Kata dia, obsesi dan nafsu itu yang bakal bikin kita rusak, bikin orang-orang sekitar kita rusak. Yang ada nanti kita bakal ditinggalkan sendirian. And I don't want that to happen.

Trus, waktu aku bilang aku ini emang gak normal kayak wanita lain, she said "Ahahahaha,don't ever use the word 'normal' again please.. Just bcoz u don't have baby (yet),doesn't mean you're not normal.. Puhleaseee,jgn selebay itu akh ik.. Jgn merendahkan diri sendiri,gak bagus ik bwt kesehatan jiwamu.."

Apakah iya selama ini aku udah misjudge terhadap diri sendiri? Ngata2in diri sendiri gak normal. Ngata2in diri sendiri gak waras, karena ada Eja yang waras.

And kak Ulan juga bilang gitu, "Iyah,keknya ika suka merendahkan diri yaa..Normal,waras.. Pola pikir itu yg salah,itu yg tertanam & merusak.. Self destructive deh ika ini,pesimis & negatif!"

Geez, she slapped me with her words. She's damn rite. I'm doing self destructive right now with my silly mind. I let my negativity control my mind. And that's sucks.

Belum hamil, bukan berarti aku anomali, bukan berarti aku gak normal. Dan aku masih waras untuk berfikir jernih. Fokus ke yang sudah ada, mensyukuri nikmat yang sudah ada, bukan meratapi kenapa aku belum punya anak. Itu di luar kuasa kita. Di luar kuasa aku.

From now on, I have to plant it in my mind that I'm Normal, I'm Sane.
I'm Normal, I'm Sane.
I'm Normal, I'm Sane.

I'M NORMAL, I'M SANE!!!!
I'M NORMAL, IK

Monday, October 31, 2011

Get Out, Negativity!

I can't help but thinking about the happy faces of pregnant women out there, especially my friends while I'm here, holding my stomach, struggling to wake up from bed without being hurt. And failed.

Still thinking this is so unfair.

But..ah.

Oh please, get out u, negativity!

Penyakit Hilang, tapi Kesakitan Datang.

Bukan bermaksud ngeluh atau apa. Tapi cuma pengen share buat mereka yang mau dilaparoskopi. Laparoskopi ini bukan ilmu baru sih, tapi teknik operasi yang gak semua dokter bisa. Terutama karena untuk menggunakan alat laparoskopi ahli-ahli harus sekolah lagi.

Anyway, I'm not gonna talk about how laparoscopic procedure being done, or what medicine should we take before doing so, u just can simply google it. But, I'll tell u about laparoscopy by my point of view as a patient.

Setelah 1 minggu sebelumnya aku kesakitan sampai menggigil pas haid, akhirnya Kamis, 27 Okt, aku periksa lagi ke papa. Rencana papa buat laparotomi ternyata gak jadi, karena ngeliat ukuran kista yang kecil. Gak sebanding ama resikonya. Akhirnya papa hubungin temennya di Medan, dr. Ichwanul Adenin, SpOG, dan direncanakan untuk laparoskopi terapeutik di hari Sabtu di RS Stella Maris.

Sabtu, tanggal 29 Oktober 2011 ( 2 hari lalu), aku dilaparoskopi dengan diagnosis kista endometriosis 2cm, dengan sangkaan perlengketan tuba falopii. Operasi jam 1 siang. Dari jam 7 pagi aku udah puasa gak makan apa-apa lagi. Stres cuma sedikit, tapi segera hilang karena aku percaya aku bisa sembuh. Jam 12lewat aku diantar ke ruang operasi. Sampai di ruang operasi, aku dipasang alat-alat yang terhubung ke monitor. Sialnya karena aku gak bawa kacamata (emang gak boleh juga), aku gak bisa ngeliat monitor. That room, was the coldest room ever, it's beyond freezing. Kuku jadi biru, aku jadi ngeri. Aku minta ama perawat di sana kain untuk nutupin tangan en jari-jari aku.

Dokter anastesi datang, beliau ngajak aku ngobrol, orangnya baik banget, tapi aku gak kenal. Belakangan aku tau kalo namanya dr.Samsul, SpAn. Duh, gak sempet bilang makasih. Awalnya aku mau anastesi GA (general anasthesia/bius total) aja, karena takut sakit kalo di Spinal. Tapi dia berhasil yakinin aku buat Spinal aja. Akhirnya aku nurut, walopun stres karena udah kebayang bakal sakit banget. Ternyata ENGGAK SAKIT loh! Hebat! Aku langsung lega bangeet. Kaki mulai hangat, kebas, dan mati rasa. Kaki jadi gak bisa diangkat, dan aku sempet ngeri. Separoh badan jadinya mati rasa. Aku sempet terasa waktu mereka tarok alat-alat di badan, en waktu mereka ngarahkan kaki aku biar terbuka bener. Setelah itu..aku gak ingat apa-apa lagi.

Pas bangun, yang aku rasa cuma kesakitan banget di perut. Aku raba perut ada 4 plester di tempat berbeda. Aku inget yang pertama kali aku bilang ke perawat yang ada di sana itu "aduh sakit kali, mana analgetiknya?". Hahaha. Memang nyeri itu bisa bikin kita bangun ya. Setelah aku sadar gitu, langsung perawat lain bawa aku keluar ruangan, en disambut ama perawat dari ruang rawatan. Di luar udah ada Eja, mama, en yang lain nungguin aku. Tapi yang aku bilang cuma.."aduh,,sakit kali ini, Ika mau analgetiknya". Trus, aku coba ngumpulin sisa-sisa kesadaran, dan tetep nanyain mana ini penghilang nyerinya. Rasanya sangat sesak, karena memang laparoskopi itu akan memasukkan udara ke perut kita, untuk memperluas lapangan pandang operasi. Jadi sebagian udara masih ada di perut rasanya. Setiap gerak, perut seperti ketarik, dan itu sakiiiit banget.

Malamnya aku belum bisa kencing, akhirnya dipake kateter lepas. 4jam kemudian baru bisa pipis sendiri, tapi nyeri. Dari malam sampai pagi, aku pipis per 2jam. Kasian Eja harus dibangunin trus karena mesti ngantarin aku ke kamar mandi sambil pegang infus. Setiap pipis pasti nyeri. Pasti aku kena' ISK (Infeksi Saluran Kemih) nih. Bener aja, besoknya aku demam tinggi.

Oke, jadi penyakitnya hilang, kesakitannya datang. Nyeri post OP ini emang sakit banget. Mirip ama nyeri waktu dulu aku habis operasi usus buntu, tapi kali ini dengan 4 luka di 4 tempat berbeda.

Apapun itu, aku bersyukur karena kista berhasil diangkat, en tuba aku udah gak ada perlengketan lagi. Coba kalo kemaren haid gak nyeri banget, pasti aku gak bakal peduliin. Dan bisa aja ini penyakit makin luas dan parah. Kata dokternya, aku bisa hamil spontan / alamiah kok, karena tubanya udah bagus sekarang, kistanya udah gak ada lagi. Semoga iya, amiiiin.

*notes
•RS Stella Maris adalah RS pertama di Medan yang ada IVF (bayi tabung) programnya. RS ini khusus untuk ibu&anak, dan kalo mau melahirkan di sini harus pesan 1 bulan sebelumnya. Pelayanannya bagus. Perawatnya juga ramah dan cantik-cantik. Yang melahirkan di sana banyak. Selama aku di sana aja, udah ada sekitar 20 bayi yang seliweran dibawa ke tempat ibunya dirawat. So, bayangin aja gimana perasaan aku pas pulang RS, tapi gak bawa bayi. Yang liat juga pada heran. Karena pasien lain pulang sambil gendong bayinya.

•Biaya laparoskopi itu mahal. Dan aku diuntungkan karena aku dokter, dan yang ngoperasi juga temen papa, akhirnya biaya dokter gratis. Tapi biaya laparoskopinya enggak sih.. RS ini emang mahal. Sebagai ilustrasi, untuk SC aja, dengan kamar VIP, bisa total 20juta. Apalagi ini laparoskopi. Berbahagialah mereka yang gak harus sakit.

• Selama aku terbaring kesakitan gini, sampai sekarang, yang kebayang ama aku adalah wajah teman-teman lain yang bisa hamil dengan gampangnya. Bahkan ada yang keguguran, trus segera hamil lagi. Aku langsung sakit hati. Mereka nasibnya bagus, gak sakit, en gak kesakitan kayak aku. Dan di ujung dari sakit hati itu, tersisa pertanyaan "kenapa aku, ya Tuhan?" Tapi ada yang bilang bahwa sakit itu adalah ujian, juga ada yang bilang sakit itu adalah anugerah, biar kita bisa selalu bersyukur. Aku sangat bersyukur keluarga aku baik, mertua baik, sangat suportif, sangat peduli, dan gak nyalahin aku yang punya penyakit gini. Belum tentu juga mereka yang punya anak itu juga dikasih keluarga en mertua yang baik banget gini..

• Semoga masa penyembuhan ini bisa cepet. Biar aku bisa aktivitas kayak biasa lagi. Sekarang jalan masih susah, tidur gak nyenyak karena takut digerakin jadi sakit, makan juga belum selera. Semoga bisa cepet sembuh. Semangat, Ika!

Sunday, October 30, 2011

Post OP

Cuma mau bilang, kalo nyeri post OP adalah nyeri paling kurang ajar. Miring kiri sakit, miring kanan sakit, telentang tambah sakit.

Tapi Alhamdulillah kistanya bisa diangkat semua. Semoga penyembuhannya cepet ya. Gak tahan banget perut kembung en luka masih nyeri gini.

Semoga habis ini aku sembuh total. En bisa segera hamil.
Amiiin..

Tuesday, October 25, 2011

This Close To Depression?

Just read few of my writings in this blog. Usually i write using my blackberry right after i'm feeling hurt the most. So, most of 'em are about dissapointment. From here, we can see, of course it's too obvious that, i'm this close to depression.

Am I?

Or,
i seldom being thankful for the gifts i got yesterday and today. Yeah, it's my bad.

:(

Monday, October 24, 2011

Hiding Tears Is Tiring


Menahan en nyembunyiin tangisan itu pekerjaan paling berat yang pernah aku lakuin dalam hidup. Kadang aku pengen terbangun, langsung aja di pagi ketika aku udah punya anak, biar aku gak usah ngerasain proses yang menyakitkan kayak gini. Kadang aku pengen fast forward ke beberapa tahun ke depan, biar semua kesedihan en kekecewaan ini gak sempet aku rasain.

Aku baru dapat kabar secara gak sengaja kalo salah seorang teman, yang juga udah 1thn lebih ini pengen punya anak, udah hamil dia. Bahkan aku gak bisa lagi nangis. Di saat aku lagi takut setengah mati ngeliat operasi yang udah di depan mata, aku malah dapat kabar kayak gini. Bener, aku terpukul banget.

Sebelum aku dapat jawaban dari Tuhan kenapa aku yang harus dapat cobaan kayak gini, aku gak bakalan bisa terima. Aku bakalan terus nangis, terus mengutuk diri sendiri, terus bilang "aku gak minta dilahirkan dengan kondisi begini, ya Tuhan..".

Aku takut semua usaha ini sia-sia aja. Obat, makan hormon, en sekarang operasi, aku takut semua hanya suatu proses menyakitkan tanpa hasil. Seandainya aja aku punya kekuatan buat menghilangkan penyakit ini, membuat hidup aku jadi normal seperti perempuan2 lain, menikah, punya anak, punya cucu, meninggal dengan damai. Tapi, aku harus ngerasain terluka, terpukul, en kecewa berkali-kali karena berita baik selalu menjadi milik orang lain, bukan aku. Kenapa aku yang harus ngelewatin semua proses nyakitin ini?

Hiding tears is still my toughest job so far. I have to hide it from my family and friends. I want them to see me as a tough person. That I can conquer every obstacles ahead. But deep down inside, my heart has broken to pieces, my layer of hopes become thinner and thinner along with the hurtful days we have to deal with. I don't know until when I can hide my tears like this.

Hh, I'm tired.

Saturday, October 22, 2011

Selasa, Operasi?

Mmm,, setelah diliat jadwal Eja, akhirnya diputuskan operasi hari Selasa aja. Anehnya aku gak takut. Aku ngerasa nothing to lose aja. Kalo memang begini maunya Allah, begini jalan penuh susah aku ama Eja, kami ikhlas jalanin. Perawatan pasca operasi itu yang paling aku takutin. Sakit, nyeri, gak bisa jalan, gak bisa makan, obat segudang, infus yang sakit, aaargh, jujur aku takut. Tapi, apapun itu, aku coba sabar. Aku lakuin aja. Sampai di titik kami gak sanggup lagi.

Sampai kami gak sanggup berusaha lagi.

Bloody Hell Period

Setelah 3 minggu berharap, akhirnya hari ini aku harus kembali kecewa. Menstruasi yang udah telat 3 minggu, hari ini datang dan sangat sakiiiit. Akhirnya aku setuju untuk dioperasi, karena gak kuat nahan sakitnya.

Obat penghilang nyeri udah 3 macam. Analsik, gak mempan. Katesse, gak mempan. Katesse gabung ama Cataflam barulah agak lumayan. Walopun aku masih belum bisa tidur. Gak pernah aku senyeri ini kalo haid, ini udah di luar nyeri yang bisa aku tanggung. Gak akan kuat kalo nyeri kayak gini datang tiap bulan.

Btw, Rencananya operasi Selasa/Rabu, papa aja yang jadi operatornya. Aku nolak rencana semula ke Medan buat laparoskopi. Aku gak mau naik pesawat. Aku pengen di Batam aja, papa yang ngeoperasi. Selesai operasi langsung pulang ke rumah bisa bedrest. Daripada di Medan harus pulang naik pesawat.

Semoga setelah operasi ini, haid jadi teratur, dan bisa segera punya anak.

Tuhan, Kau minta hamba-Mu untuk berusaha tanpa henti. Inilah usaha kami. Kali ini izinkanlah usaha kami membuahkan hasil.

Amiin.

Thursday, October 20, 2011

Hari Paling Ironis

Setiap melihat orang yang berkali-kali hamil, hati selalu menjerit "KAPAN GILIRAN AKU?"

Kemarin ada pasien yang sengaja 'bunuh' janinnya dengan menaruh obat-obatan tertentu ke vagina. Pas bayinya 'dilahirkan' ternyata perempuan, badannya udah terbentuk, tangannya keciiiil sekali, kakinya keciiil, matanya terbuka, menatap kosong, seakan dia bingung, 'kenapa aku dibunuh mama?'.

Hiks.

Hari paling ironis sepanjang hidup aku.

Di sini, aku berdiri di sebelah bayi yang dibunuhnya, sangat mengharapkan anak, terutama anak perempuan, tapi belum juga bisa terwujud.

Sedangkan di sana, dia, di kehamilan ke-6nya, malah 'membunuh' janinnya sendiri, dengan sadar, dengan kejamnya, dengan teganya. Coba sedetik aja dia mau mikirin betapa banyak ibu di luar sana yang bahkan rela mati, rela miskin, demi mendapatkan anak. Coba sedetik aja dia mau mensyukuri rezeki yang dipercayakan Tuhan ke dia, di saat kami yang masih berjuang, belum dipercaya Tuhan untuk merawat anak.

The most ironic time in my life.

Sunday, October 16, 2011

Letter To God

God, I'll make it short.

I will revise my wish. I don't need cutest child. I only need a child, a healthy one, I don't care whether it's a boy or a girl, as long as he/she comes from my womb.

For now God, I only wanna feel like a normal woman. Getting pregnant.

Please God.
Please.

Monday, October 10, 2011

Ironic. Yeah.

It's ironic no. 1. U're a certified IUD and implant doctor, u teach people to postpone, but u're still struggling to have kids.

It's ironic no.2. U have zero experience in pregnancy and delivery. But, in the next 10days u'll be a certified APN (Asuhan Persalinan Normal) doctor.

Now u imagine how does it feel.

Friday, October 7, 2011

Hey, kiddo..

Hey kiddo,
I wish one day I could tell you all of these words. By making a message for you, even tough you're not coming yet, makes my heart blows in happiness. That I do still have a chance to have u one day.

Hey kiddo, there's something I need to talk to you.
I know it's too early, but when you're here, and I'm sure one day you will, please respect us, your parents.
You have no idea how much efforts and tears we shed for having you. You don't wanna know the nights I spent crying alone in my bed, while holding my negative test packs. You'll be sad knowing that I almost giving up to have you. I blamed your future dad, even I blamed God for making me suffer like this.

No, don't get me wrong kiddo, I do love your future dad so much. I won't giving up our marriage. You know what, either you believe it or not, we, I mean me and your future dad, we've talked about this, about what if we can't have kids, what if in the end there will be only two of us, looong ago before I said "I do" to him. But can't believe it, we're facing it now. Really can't believe it.

Hey, kiddo..
By the time I wrote this letter to you, I'm still struggling to make peace with myself. I'm calming my self down. I have to change. I can't be like a soda water, easily to explode. Maybe you're asking why. Because I have to reject all the negativity from my mind. Even if I don't have power to decide whether I'll have you this month, this day, or even this century, but I do can control my mind. Having faith. Believe in something good. That you'll come here, with us, soon.

Hey kiddo,
No one in this world could guarantee when you come, we'll be happier. Many couples split up because of their children. Many parents cry and die in sadness caused by their kids. And countless kids make their parents in danger and total pain. But, we'll take that risks. We're ready for it. You hear that kiddo, we'll take any risks.

Hey kiddo,
If you're up there, please tell God we're ready here. We're ready to have u, now.

Thursday, October 6, 2011

Dipermainkan Nasib

Pintar. Nilai bagus di kuliah. Jadi dokter dengan IP tertinggi. Sekarang jadi dokter umum biasa.

Nilai biasa-biasa aja. Lulus kuliah dengan IP standar. Bukan anak orang kaya. Sekarang lagi sekolah PPDS.

Nilai jeblok. Lulus kuliah dengan IP yang didongkrak, eh bisa sekolah ke luar negeri.

Kita semua dipermainkan nasib di sini. Tinggal bagaimana kita menangani nasib, dan tidak terpuruk oleh nasib yang buruk.

Tuesday, October 4, 2011

2 Tahun Dulu?

Ada dokter kandungan yang nyaranin kami tunggu sampai usia 2thn perkawinan dulu, baru nanti kistanya dilaparoskopi. Karena ada kasus yg juga kista endometriosis, setelah 2thn nikah, bisa hamil normal.

Masih pikir-pikir. Karena sekarang sakitnya udah gak ada lagi sih. Lagian papa juga baru sembuh.

Ya Allah, semoga ini memang bisa hamil alami. Aku takut kalo mesti dilaparoskopi segala. Amiiin..