Tuesday, October 4, 2011

2 Tahun Dulu?

Ada dokter kandungan yang nyaranin kami tunggu sampai usia 2thn perkawinan dulu, baru nanti kistanya dilaparoskopi. Karena ada kasus yg juga kista endometriosis, setelah 2thn nikah, bisa hamil normal.

Masih pikir-pikir. Karena sekarang sakitnya udah gak ada lagi sih. Lagian papa juga baru sembuh.

Ya Allah, semoga ini memang bisa hamil alami. Aku takut kalo mesti dilaparoskopi segala. Amiiin..

Monday, October 3, 2011

TujuhTimeLine

1. Timeline
Time (n) : what is measured in minutes, hours, etc.
Line (c) : an imaginary limit or border between one thing or another.
(From Oxford Dictionary)

2. Timeline
Sekumpulan kalimat yang disampaikan beberapa orang dalam waktu bersamaan di akun twitter mereka masing-masing. Tempat dimana aku mengenal beberapa orang hebat, pikiran-pikiran inspiratif, motivasi, ilmu, yang mereka bagikan gratis di sana.

3. Timeline
Dimana aku pernah merasa sangat tersanjung karena banyak mention, seakan-akan dunia bersikap sangat ramah. Dimana aku juga pernah terseok sakit hati melihat berita kehamilan beberapa teman. Dimana aku bahagia menerima banyak ucapan selamat ulang tahun, walaupun aku tau sebenarnya mereka tidak ingat. Dimana aku bisa berkomunikasi langsung dengan beberapa orang yang aku kagumi, dan sangat senang ketika mereka membalas.

4. Timeline
Waktu 1 tahun yang dia habiskan untuk membuat aku mau mengatakan ya, bersedia jadi pacarnya.

5. Timeline
Tidak kurang dari 4 tahun 6 bulan kami berproses saling mengenal, saling berkompromi, berbagi tawa, air mata, sampai akhirnya aku bilang "of course" saat dia tanya "would u be my wife?".

6. Timeline
Maret 2010 hingga Oktober 2011. Usia pernikahan kami masih muda. Kalau balita, ini belum bisa jalan, masih merangkak. Begitu juga dengan kami. Masih meraba, merangkak, dan beberapa kali tersungkur mendengar kenyataan Allah belum percaya kami punya keturunan. Tidak terhitung berapa banyak bahunya menjadi tempat air mata ini tumpah. Tetapi kami masih berbagi tawa, saling menguatkan. Dan membuang jauh-jauh pikiran bahwa kami hanya akan hidup berdua.

7. Timeline
Waktu yang tidak pasti. Sampai entah kapan aku harus menunggu. Menunggu anak kami yang akan memanggil aku ibu.

Sunday, October 2, 2011

Cinlok? Yes, WE ARE!

-cerita dua tokoh ini bukan fiksi-

September, 2004

-Ika-
Hari ini hari pertama di kampus. Wuidih, jadi anak FK, euy! Seneeeeng.. Jadi istri dokter udah lama jadi cita-cita aku. Sejak kecil malah. Makanya dari SD udah belajar bagus-bagus, biar bisa jadi dokter en punya pacar dokter, trus jadi istri dokter. Alhamdulillah PMDKnya diterima. Yihaaa!! Mmmm..di jadwal kuliah tiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Sesuai dengan nomor induk mahasiswa yang ganjil, aku ada di kelas A, masuk dari jam 7 pagi dilanjutkan praktikum jam 10 sampai jam 1 siang. Pokoknya di FK ini aku harus banyak teman, ikut banyak kegiatan. , jadi panitia ini-itu. Oke, kayaknya kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) asik nih. Eh, ada penerimaan panitia Try Out SPMB, kegiatan tahunan FK USU sih, panitianya memang dari semester 1. Lumayan.. pokoknya aku punya 6 tahun waktu untuk nyari cowok mana yang baik dan bisa dijadiin suami. Yeah, i'm that shallow. Biariiinnn..

-Reza-
Alhamdulillah diterima di FK USU. Gak sia-sia mama doain ya. Baru hari pertama di kampus, aku udah ditunjuk jadi komting, komisaris tingkat. Semacam ketua kelas. Sesuai NIM yang genap, aku masuk ke kelas B, praktikum jam 7 pagi, lanjut belajar di kelas jam 10 sampai jam 1 siang. Sekelas ada 100 mahasiswa gini, apa nanti bisa ingat nama-nama mereka ya? Belum lagi harus ingat temen seangkatan di kelas A. Ya udah. Kita liat nanti aja. Aku maunya bisa aktif di sini, kan udah jadi mahasiswa, bukan anak SMA lagi. Makanya aku ikut HMI, dan jadi panitia Try Out SPMB. Menambah teman, nambah kenalan.

-Ika-
Jam 1 ini ada pertemuan anggota muda HMI. Datang ajalah, toh kuliah juga udah kelar. Eh, ada komting B itu, aku lupa namanya. Padahal dia juga panitia TryOut, satu divisi ama aku lagi. Duh, duh lupa. Reza ya, kalo gak salah. Nantilah, aku tanyain aja ama Dina. Biasanya Dina cepat hapal nama orang. Oke, mari kita dengarkan pengarahan. *yawn*

-Reza-
Sudah sampai di komisariat HMI. Tadi di depan pintu ketemu cewek rambutnya pendek. Cuma dia sendiri yang pake rok selutut, baju kemeja, gak berjilbab di sini. Aku gak kenal. Pernah liat kayaknya waktu rapat TryOut kemaren. Tuh, ada temennya manggil dia Ika. Oke, gampanglah, lembar absen ada di aku kok, tinggal cari namanya gampang. Loh, loh, ini pengarahan kok tiba-tiba udah siap?

-Ika-
Jumpa lagi ama Reza itu di pintu keluar. Hmm, tasnya Rusty, sepatunya Nike, lumayan, lumayan, pasti tajir. Dia bawa kunci mobil kayaknya. Lumayan. Yah, yah, si Dina udah duluan pergi. Bisa ketinggalan naik angkot kalo gak ama Dina ini. Cabut. Cabut.

-Reza-
Aduh, si Ika itu ngeliatin, jadi grogi masang sepatu ini. Aduh, kebalik ini yang kanan malah mau dipasangin di kiri. Sial. Loh, kok udah pergi Ikanya? Bentar, bentar.

-Ika-
Hop. Aman, Dina udah di samping. Tinggal nyebrang aja, nyari angkot pulang.

-Reza-
"Ikaa!"

-Ika-
Loh, si Reza itu manggil aku. Ini ada apa ya. "Kenapa?"

-Reza-
Manisnya si Ika waktu noleh ke belakang tadi. Jadi lupa mau tanya apa. "Mau pulang? Naik apa?"

-Ika-
Yah, cuma nanya aku naik apa pulang ini. Kirain mau nawarin ngantar pulang. "Naik angkot, ama Dina"

-Reza-
"Oh, ya udah" Sial. Kenapa jadi gak berani nawarin biar aku yang ngantar dia pulang? Bego. bego.

Januari, 2005

-Reza-
Ini jari tangan pada bego semua. Daritadi ngetik proposal salah-salah terus. Apa karena ada Ika di sini ya? Aduh, mana duduknya dekat banget. Wangi. Sial, salah lagi. Delete.

-Ika-
Lagi di rumah Reza, sama Harbi en yang lain, ngerjain proposal TryOut SPMB. Yah, baru hari Sabtu gini yang sempat ngerjain. Tugas kuliah banyak banget, kayak kerja rodi. Btw, rumahnya bagus. Oh, ternyata adeknya ada 2 yang cowok, kakak perempuan 1. Baguslah proposalnya udah mau siap. Tinggal aku cari tumpangan ke depan, trus naik angkot pulang. Semoga gak keburu Maghrib di sini.

-Reza-
Oke, siap proposalnya. Si Harbi minta antar pulang. Sekalian aja aku tawarin Ika mau gak diantar pulang. Ternyata dia mau.

-Ika-
Barusan aja diantar Reza pulang ke rumah tante. Sempet susah banget pas dia masukin mobil ke gang yang sempit kayak lubang neraka ini. Hahaha. Tadi di jalan kami ngobrol banyak, jadi tau kalo dulu dia sebenarnya mau masuk teknik mesin, tapi lulus di kedokteran. Eh, bentar, ada sms dari Reza nih.

-Reza-
"Ika malam ini ada acara gak?"-sent. Setelah setengah jam lebih mikirin sms Ika apa enggak, akhirnya terkirim juga. Tinggal setengah mati nahan sakit perut nunggu Ika balas apa.

-Ika-
Aaaaakk!! Aku jawab apa ini!!! Jawab apaaa!!
"Gak, emang kenapa?" -sent. Standar banget sih jawabnya emang. Nunggu 1 menit..2 menit..Arghh! Mana balasannya?

-Reza-
Beres dari toilet. Ternyata tadi emang sakit perut beneran. Holy shit, ada balasan dari Ika. Aku langsung balas aja "Kita jalan yok. Nonton kek, atau makan, yang penting jalan lah. Mau gak?- sent.

-Ika-
AAAAakkk!! Aku diajak ngedate! Ini pertama kalinya ada yang ngajak ngedate sejak kuliah.. Duh, capek lonjak-lonjak kesenengan. "Oke, boleh"- sent. Kata kak Inda jawab aja pendek-pendek, biar gak keliatan kali ngarepnya.

-Reza-
Yes! Ika mau. "Aku jemput jam 7 ya, Ka"-sent. Bersihin mobil dulu, minjem parfum mobil ama Kak Ida, trus cari jaket kesayangan ada dimana. Dududu..

-Ika-
Mampus ini! Aku pake baju apa!? Pake sepatu apaaaa?! Gawaaaat!! Whole world, help me!!

-setelah beberapa kali ngedate, ikut kepanitiaan yang sama, ikut organisasi yang sama, akhirnya dua tokoh kita ini pun semakin dekat.-

Desember, 2005

Reza : "Ka, mau gak kalo sama-sama aku terus?"
Ika : "Maksudnya, jadi pacar, gitu?"
Reza : "Iya, mau gak?"
Ika : "mmm..boleh"

Maret, 2009

Reza : "Ka, would you be my wife?
Ika : "Of course"

Maret, 2010

Reza : "Saya terima nikahnya Fairuza Laily binti Amuransyah dengan mas kawin tersebut"
Ika : "Alhamdulillah.."

Hari-hari sekarang,

Teman : "Kalian dulu satu kampus ya, makanya bisa ketemu?"
Ika : "Iya, satu angkatan malah."
Teman : "Wah, cinlok dong"
Ika : "Cinlok? yes, we are!"

-fin-




Hari Udah Berganti

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Dalam sekejap mata, tahun 2011 inipun akan berakhir. Dan masih belum ada tanda-tanda kehamilan dari aku. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Sebentar lagi November, lalu Desember, dan dalam sekejap mata sudah 2012. Lalu dalam sekejap saja, 2 tahun sudah pernikahan kami, tanpa keturunan. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Semakin banyak teman yang hamil, semakin banyak teman yang nikah dan langsung hamil, semakin banyak teman yang masang foto bayinya jadi display picture ввм. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Tapi aku masih sakit setiap kali liat kebahagiaan mereka yang punya anak. Aku iri. Aku sakit hati. Aku menangis dalam hati. Aku mengutuk diri sendiri. Aku mau kebahagiaan yang sama seperti mereka. Kenapa harus aku yang nunggu segini lama? *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Masih sangat susah bersyukur atas apa yang telah aku raih. Dan terus berfokus pada satu hal yang belum aku punya, anak. Beribu hal lain yang harus aku syukuri karena orang lain gak punya, jadi gak punya arti dibanding satu hal itu. Beribu hal baik lain yang telah kami raih, jadi hilang artinya karena satu hal itu. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Dari bulan Januari ini kami sudah berdoa semoga tahun ini jadi orangtua. Tapi apa daya, kuasa itu bukan di tangan kami. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Tapi keinginan aku masih sama, tahun ini aku mau jadi ibu.

*sigh*

Saturday, October 1, 2011

Bersyukur #1

Mulai tanggal 1 Oktober hingga bulan depan mari kita mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi setiap harinya.

Hari ini aku bersyukur karena..
..Papa udah bisa pulang dari RS...
..Teman-teman puskesmas datang jenguk papa, bawa kue banyak...
..Tadi marahan ama Eja cuma sebentar, sekitar 5 menit...
..Bisa makan malam bareng Eja. Kirain tadi gak bakal sempat karena dia mau dinas malam...
..Perut udah gak sakit lagi sekarang.

Terimakasih ya Allah. :')

Malam Minggu Si Istri Dokter

#Disclaimer : tokohnya nyata, ceritanya fiksi.

Malam Minggu ini bukan malam Minggu biasa. Ini lebih istimewa. Matanya menyapu meja makan. Apalagi yang mesti disiapkan? Ohya, lilin. Dia pun mengambil lilin dari lemari, lalu menyalakannya dengan lighter. Ah, romantis sekali. Tangannya merapikan gaun hitam yang melekat erat di badan. Baju berbelahan punggung rendah dengan tali hitam yang menggantung di belakang leher. Seksi. Siapapun yang melihat pasti berdecak kagum. Dia tersenyum kecil. Membayangkan hal-hal nakal yang akan menjadi kelanjutan dari makan malam ini.

Matanya tertumbuk pada jam dinding. Aduh, sebentar lagi waktunya akan tiba. Cepat dia ke ruang tamu menghidupkan CD player, dan lagu berirama lembut mengalir pelan. Makanan lezat, lilin temaram, musik merdu, suasana menjadi romantis. Sangat sempurna untuk malam istimewa ini.

KRIIING!
Telpon rumah berbunyi. Bergegas dia mengangkat telpon itu.

"Ya, halo?"
"Sayang, ini aku"
"Sayaaaang, kenapa belum pulang, aku nunggu loh"
"Iya, maaf sayang.."
*jeda* "Aku masih ada pasien. Kondisinya gawat sekali. Aku tidak bisa pulang malam ini"
*jeda lama*
"Sayang, kamu gak marah kan? Kok diam aja?"
Dia menghela nafas.
"Aku..iya, aku denger."
"Kamu udah makan kan, sayang? Aku nanti makan di sini aja, udah ada perawat yang menyiapkan dari rumah sakit"
"Oke, gak apa-apa"
"Naah, gitu donk. Besok kan kita bisa ketemu. Bye sayang"
"Iya, bye"

Klik.

Malam Minggu. Hari ini tepat setahun pernikahan mereka.

Friday, September 30, 2011

September Ends, but Miracle Still Not Here

*sigh*

Tomorrow will be a new month. And still, our efforts to conceive is failed again this month. Like another painful failed month. I also gotta do diagnostic laparoscopy to find out what exactly happen with my uterus, my ovarium, or my hormones.

To be honest, I'm so afraid to do any operations, needles, scalpel, hospital, infusion, all of that stuff. I'm afraid! But, I've made promise to myself for not giving up trying, even tough it's full of pain. There will be a lot of pain.

But like a wise man long ago told us, You are what you think.
I think, we'll be succeed this year. We will have wonderful kids. We will have amazing kids that's worth to wait.

We will be what we think we will be.

mengenal ciuman : mari kita flashback

#Disclaimer : cerita berikut mengandung 40% fiksi, 60% fakta. Yang mana fiksi dan yang makna fakta, biarlah menjadi misteri.

-Ika, usia 9 tahun-
Asik, dikasih nonton video di rumah temen ama mama. Semoga power rangers kali ini, kan dia punya laser disk di rumahnya. Asik, asik, hore, hore.
*sampai di rumah teman, film diputar* LOH? Kok yang main orang cina? bukan power rangers ya? Ha? Kok perempuannya buka baju? Ha? Kok tangan si kakak itu masuk ke dalam celana pacarnya? IH! kok ada ciumannyaa? Pulang ah, takut mama marah.

-Ika, masih usia 9 tahun-
*pas jam keluar main* *cerita ke teman lain* Eh, kemaren aku nonton video yang ada ciumannya loh. Ternyata ciuman itu artinya tukaran ludah. Jorok ya. Kok mau ya mereka tukaran ludah gitu?

-Ika, usia 16 tahun-
Pulang sekolah ini, udah janjian ama teman-teman sekelas mau nonton Ada Apa Dengan Cinta. Pas liat artikel tentang film AADC ini di majalah Gadis kemaren, yang main ganteng banget. Semoga bagus ya. Karena masih trauma ama film Jelangkung yang serem kali itu.
*pas nonton* Sedihnyaaaa, Rangga udah di bandara, en Cinta ngejar-ngejar gini. Semoga ketemu. Semoga ketemu.
Hore! mereka ketemu juga. *terharu*
*2 menit kemudian*
Cinta : Ini gak fair, hiks.
Rangga : *mulai mendekati bibir Cinta*
HUAAA!? MEREKA CIUMAN! MEREKA CIUMAN!

-Ika, awal kuliah-
Topik tentang ciuman bakal aku masukin ke percakapan sehari-hari deh. Yah, kayak ngomentarin cuaca aja. Lagaknya ahli.
*percakapan dengan kakak sepupu* Ciuman itu enak tau, Ka.
*percakapan dengan nenek* Ciuman itu kayak makan bakso. Kenyal-kenyal. Apalagi yang bibirnya tebal.
*percakapan dengan teman* Aku gak pernah ciuman, Ka. Pernahnya dicium.
*percakapan dengan sahabat pena dari Italia* WHAT? You've never been kissed? OMG.

-Ika, awal menikah-
Ciuman itu..harus dengan orang yang tepat, dan saat yang tepat. Right time. Right place.

-dan dilanjutkan dengan ciuman-ciuman lain yang punya banyak arti lain-

Thursday, September 29, 2011

Situs Pelipur Lara

Udah 3 hari terakhir ini aku kunjungin situs www.bayi-tabung.com dan hampir tiap kali baca kisah mereka (yg juga berjuang untuk punya anak) aku ikutan sedih dan nangis. Kisah mereka yang berjuang untuk hamil, beberapa kali ikut bayi tabung dan gagal, ada yang mencari donor telur karena ovariumnya gak ada, ada juga yg mau jadi surrogate mother (ibu pengganti) yang bersedia mengandung anak orang lain, dan ada juga yang 'menawarkan' anaknya kepada pasangan lain yg belum beruntung diberi karunia seorang anak.

Selain kisah sedih, juga banyak kisah bahagia mereka yang berhasil bayi tabung. Admin akan banyak memasang foto-foto bayi hasil bayi tabung dan sebagian besar dari mereka itu kembar. Ada juga yg kembar 3. Ah, senangnya.. Kalo liat itu, dan liat lama rata2 mereka menikah yg 5-9thn baru mencoba bayi tabung, aku kok jadi merasa 'belum' cukup usaha buat hamil alami. Usia pernikahan kami baru 1,5 tahun, dan aku udah mikirin bayi tabung. Ini penyakit gak bisa sabar emang harus aku buang jauh-jauh dari pikiran deh.

Baca kisah-kisah di sini bikin aku jadi malu sendiri kenapa selalu mengeluh, bahkan marah ama Tuhan karena aku belum dikasih keturunan juga. Seperti kisah mbak Ami, di sini yang didiagnosis menopause dini padahal umurnya masih 30 tahun dan belum punya anak. Setiap komentar di bawahnya menguatkan mbak Ami. Memang di sini support yang paling perlu. Gak kebayang kalo kejadian itu terjadi ama aku.

Atau kisah mbak Flowers di sini yang udah pake donor telur tapi gagal juga bayi tabungnya. Ada komentar di sana yang bilang anak bukan segalanya, bukan juga penentu masuk surga atau enggak, tapi mbak Flowers mau ngasih segalanya buat ngedapetin anak. Gak kebayang berapa banyak materi dan waktu yang dia keluarkan untuk bisa punya anak.

Tapi paling sedih kisah mbak Dede di sini yang kedua saluran tubanya tertutup dan rusak sehingga jalan satu-satunya hanya bayi tabung. Yang bikin sedih karena mbak Dede malah dimarahi suami, mertua, bahkan orang tuanya sendiri. Padahal bukan maunya dia buat sakit kayak gitu kan.. Hanya mereka yang berpikiran pendek yang malah menyalahkan mbak dede ini. Makanya kisah mbak dede ini sedih banget..

Situs ini aku bilang situs pelipur lara. Kenapa? Karena aku jadi tau "penderitaan" aku belum seberapa dibanding mbak-mbak di atas. Mereka pasti lebih ngerasa tidak beruntung, tidak ada artinya hidup, tapi mereka masih semangat banget buat berusaha. Prinsipnya, usaha sampai kita gak mampu lagi, jangan menyerah, sampai Tuhan ngasih yang terbaik buat kita pada waktunya.

Ahh..
Perjalanan kami masih panjang banget. Umur masih 25 tahun, nikah baru 1,5 tahun, rumah belum ada, mobil juga dikasih orang tua, soooo...masih banyak yang bisa kami persiapkan buat si calon anak nanti. Biar pas dia hadir, gak kesusahan, gak kurang apapun, en kami lebih siap.

Allah pasti tau kapan kami lebih siap buat punya anak.

Tuesday, September 27, 2011

*menatap iri*

Si ini hamil, si itu hamil 3 bulan, si anu juga hamil. Arrrgh!!

Aku..

*menatap iri*
*sambil bertanya-tanya*
*kapan giliran aku, ya Allah?*

Usaha Itu Porsi Kita

Tadi ada pasien datang dengan keluhan utama lemas, badan susah digerakkan, mau pingsan. Seperti biasa, pertanyaan aku seputar haid, sedang haid/tidak, ada jatuh/tidak, ada muntah/mual/tidak, standarlah. Pas aku tanya, ada terlambat haid gak, dia bilang enggak. Baru selesai haid 2minggu lalu. Usianya udah 33thn jadi aku tanya, anaknya umur berapa, dia bilang "belum punya anak". Dan entah kenapa usil aku tanya, udah berapa lama nikahnya, dia bilang 9 tahun.

9 tahun..

Dia diperiksa, TD normal, cek Hb normal, tapi pucat banget. Jadi aku bilang ke dia, ini juga bisa kemungkinannya hamil. Karena gejala hamil itu tidak selalu mual muntah, dan sangat subjektif. Denger aku bilang kemungkinan hamil, dia langsung nangis..

Aku bingung, en jadi ikut sedih juga. Kata dia "itulah yang ditunggu-tunggu bu". Aku sarankan untuk cek pake testpack. Kalo minggu ini masih negatif, boleh diulang minggu depannya. Air mata dia masih juga keluar.. Suaminya juga ikut berkaca-kaca sambil bilang "alhamdulillah, semoga memang bener terjadi.." Aku tanya, selama 9 tahun ini ada periksa gak. Mereka bilang ada, dan hasilnya sama-sama subur dan normal.

Aku kasih vitamin, sambi bilang "ini saya kasih vitamin, sekalian buat jaga-jaga kalau memang hamil. Kurangi aktivitas berat, jangan stres, dan terus berdoa ya bu.."

Sambil bilang gitu, dalam hati aku nangis, air mata udah mau tumpah banget, tapi aku usahain profesional. Aku keinget nasib aku en Eja sekarang yang juga lagi nunggu rezeki itu datang. Aku tulus doain semoga mereka memang diberi rezeki itu kali ini, setelah menunggu selama 9 tahun.

Sambil keluar ruangan, dia bilang "doakan kami ya bu, udah 9 tahun jadi pengantin terus".

Aku sumpah mau nangis, dan dalam hati aku bener doain mereka. Semoga tahun ini tahun terakhir mereka nerima kenyataan pahit. Semoga tahun ini jadi tahun paling bahagia buat mereka.

Dan aku juga doa dalam hati, semoga tahun ini juga tahun terakhir kami nunggu anak yang selama ini diusahain banget.

Seperti yang aku bilang di twitter "Usaha itu porsi kita. Keputusan kapan itu di tangan Allah"

-Ika Fairuza-

Sunday, September 25, 2011

God's Mistery

I've just heard a news that one of a friend of mine is 3months pregnant, while she even hasn't celebrated her 3months wedding anniversary yet.

It's still a mystery why someone else who financially and mentally not ready to have a kid, is gettin' pregnant.

I'm in a sucks situation. Damn it.

Saturday, September 24, 2011

Reaksi Keras Terhadap Drama Seri Tahajjud Cinta

Ini postingan saya yang ke-2 tentang Tahajjud Cinta. Drama seri Tahajjud Cinta karya Erma Fatima telah sampai ke episode ke-10. Semakin hari scene semakin kontroversial, adegan banyak yang bertentangan dengan nilai Islam, misalnya tidur bersebelahan, berpelukan, adegan menampakkan aurat, padahal di sepanjang cerita terdapat banyak ayat-ayat Alqur'an dan hadist. Memang drama seri ini seperti menonton dua orang ahli agama berdebat. Satu ayat dibalas ayat lain, satu hadist dibalas hadist lain.

Tapi pertanyaan terbesar dari cerita ini adalah apa maksud dan tujuan Erma Fatima membuat cerita ini?

Ada baiknya kita lihat siapa Erma Fatima ini. Erma Fatima adalah seorang wanita multitalenta, penulis cerita, produser, sutradara


Menurut situs resmi dari Tahajjud Cinta www.tahajjudcinta.com , Erma Fatima bermaksud untuk memaparkan perjuangan kaum wanita dan untuk menambah semangat di dalam diri mereka. Banyak wanita yang teraniaya dan diperparah dengan sikap pria yang menggunakan agama untuk menindas wanita. Inti dari Tahajjud Cinta, seperti yang dipaparkan oleh Erma Fatima adalah untuk memberitahukan kepada wanita mengenai hak-hak mereka.


Pertanyaan selanjutnya, apakah sampai episode ke-10 ini, inti dari Tahajjud Cinta tersebut telah terlihat?


Tuesday, September 20, 2011

Mistakes You Should Avoid When Conceiving

If u also find difficulties in conceiving, maybe u can check this out. Simple mistakes we often do, and apparently they're avoiding us to conceive.

by Beth Kiley.

[kata mereka] Tinggal Tunggu Waktu Saja

saya.
sudah ke ginekolog, memang ada 2 kista di ovarium kanan dan kiri. tapi tidak mengganggu kalau mau hamil. tinggal tunggu waktu saja.
sudah ke radiolog, benar ada 2 kista, tapi tidak menyumbat rahim. bisa hamil, tinggal tunggu waktu saja.

dia.
sudah ke urolog, katanya semua oke, tidak ada yang perlu diobati. tinggal tunggu waktu yang tepat saja.
sudah ke laboratorium, semua dalam batas normal. tidak ada yang abnormal. jadi, tinggal tunggu waktu saja.
sudah ke androlog, katanya tidak ada masalah. tinggal tunggu waktu saja. dan jangan lupa berdoa.

Jadi, di sinilah kami sekarang. Di tahap sangat bersyukur karena semua baik-baik saja.
Tinggal tunggu waktu yang tepat.

God, your call.