Friday, October 21, 2011

Bersikap Profesional

Hari ini kami ada pertemuan sesama CPNS. Aku yang baru pulang pelatihan gak tau masalah, tiba-tiba diajak kumpul. Ya ayok aja sih.

Ada beberapa yang dibahas. Terutama tentang sikap, etika, bla bla bla bla, yg ribeeet banget. Sebagai orang yang menjunjung tinggi profesionalisme, pesan aku cuma sedikit aja buat mereka "jangan terlibat secara emosional, dan selalu bersikap profesional"

Tau gak apa yang paling bikin orang yg sirik ama kita tuh, jd kesel banget? Jawabannya, kalo dia liat kita tetap senyum ramah baik-baik aja, walopun dia udah nunggang nungging ngomongin jelek-jelek tentang kita.

That's what I did all the time. Aku tau mereka habis ngomongin jelek tentang aku, aku sakit hati juga. Tapi di depan mereka aku tetap ramah, tetap senyum, tetap tanggapin. Gak akan pernah sedikitpun aku kasih mereka kepuasan karena udah jahat ama aku. Mereka ngomong jahat ke aku, aku ketawain. Aku bilang Alhamdulillah. Hahaha.

So, itu yang aku bilang ke mereka. Hak kita buat marah, capek, kesel, malas, bosan, en pengen istirahat. Hak mereka juga untuk kasih komentar jelek, ngomongin di belakang, biarin. Selama mereka gak nyentuh kita, gak jambak rambut kita, gak ngelempar kita pake sepatu, cuekin aja. Ketawain aja. Kalo kita terpancing, ikutan marah, mereka bakal puas.

Ada orang-orang yang memang hidup dari konflik. Adrenalin terpacu kalo udah berhasil ngomporin orang lain. Orang-orang kayak gini didengerin aja pake kuping kanan, tapi habis itu keluarin lagi dari kuping kiri. Habis energi, waktu, en mood jadi jelek kalo semua hal terlalu dimasukin ke hati.

Bukan muna', dulu aku resign dari 3 tempat kerja karena ngerasa kesal ama pasien yang demanding banget. Itu karena aku terlalu terlibat secara emosional. Sejak itu aku belajar untuk menebalkan hati, membiasakan diri belajar profesional. Orang akan lebih suka pada mereka yang bisa manajemen konflik, dibanding orang reaktif, yang marah dulu baru mikir.

So, that's what happen today. Still, tomorrow I'll give them my best smile. It will hurt them most. Trust me.

Thursday, October 20, 2011

Hari Paling Ironis

Setiap melihat orang yang berkali-kali hamil, hati selalu menjerit "KAPAN GILIRAN AKU?"

Kemarin ada pasien yang sengaja 'bunuh' janinnya dengan menaruh obat-obatan tertentu ke vagina. Pas bayinya 'dilahirkan' ternyata perempuan, badannya udah terbentuk, tangannya keciiiil sekali, kakinya keciiil, matanya terbuka, menatap kosong, seakan dia bingung, 'kenapa aku dibunuh mama?'.

Hiks.

Hari paling ironis sepanjang hidup aku.

Di sini, aku berdiri di sebelah bayi yang dibunuhnya, sangat mengharapkan anak, terutama anak perempuan, tapi belum juga bisa terwujud.

Sedangkan di sana, dia, di kehamilan ke-6nya, malah 'membunuh' janinnya sendiri, dengan sadar, dengan kejamnya, dengan teganya. Coba sedetik aja dia mau mikirin betapa banyak ibu di luar sana yang bahkan rela mati, rela miskin, demi mendapatkan anak. Coba sedetik aja dia mau mensyukuri rezeki yang dipercayakan Tuhan ke dia, di saat kami yang masih berjuang, belum dipercaya Tuhan untuk merawat anak.

The most ironic time in my life.

Sunday, October 16, 2011

Letter To God

God, I'll make it short.

I will revise my wish. I don't need cutest child. I only need a child, a healthy one, I don't care whether it's a boy or a girl, as long as he/she comes from my womb.

For now God, I only wanna feel like a normal woman. Getting pregnant.

Please God.
Please.

Wednesday, October 12, 2011

Perjuangan Punya Rumah

Dulu, rencana punya rumah masih jauh dari pikiran kami. Kata papa, setelah mapan, baru boleh pindah dari rumah papa mama. Mapan kalo menurut aku, ada anak, cukup kerja, gaji banyak. Setahun, setahun setengah, anak yang ditunggu-tunggu gak ada juga. So, agaknya kami gak bisa lagi jadikan punya anak sebagai patokan kemapanan. Saat itulah kami berencana beli rumah.

Properti di Batam itu muahaaal! Kalo kita mau di daerah agak pinggir, mungkin bisa yang lebih terjangkau, tapi rawan banjir. So, dibela-belain beli rumah nantinya di kawasan agak baik dan yang pasti bebas banjir.

Sampai akhirnya aku liat iklan di koran tentang penjualan rumah di salah satu perumahan. Ajak mama, papa, en Eja buat survey ke sana, ternyata rumah yang dimaksud terlalu kecil dan adanya di jalan buntu. So, gak jadi. Kami pun muter-muterin perumahan itu, dan tiba-tiba kepentok ama cluster di bagian depan. Eh, masih ada yang baru dibangun ternyata. Oleh pak satpam di situ kami dikasih nomor kontak marketingnya.

2hari kemudian aku ama mama ke sana. Sekali liat tempatnya, langsung suka. Udah oke banget. Akhirnya bayar tanda jadi.

Sekarang rumahnya masih dibangun. Uang muka masih dicicil dan sisanya bakal pake KPR. Setiap 1minggu sekali pasti aku en Eja ke sana, sekadar melihat rumah itu, calon rumah kami. Kecil dibanding rumah mama, tapi yang penting muat untuk kami tinggali.

Aduh, ada perasaan hangat tiap kali membayangkan nantinya kami akan hidup berdua, gak di rumah mama lagi. Mungkin aku akan sangat repot, tapi setidaknya bisa mengatur rumah tangga sendiri.

Semoga setelah ini, setelah rumah kami tempati Januari nanti, anak yang ditunggu-tunggu bakal datang. Karena kami makin siap sekarang.

Amiin.

Tuesday, October 11, 2011

#fiksi: The Big Day

"Hi, how are you?"

"I'm fine. Thanks."

*jeda* "Well, tomorrow is your big day."

"Iya"

*hening* "Semoga dia bisa menyiapkan kopi kesukaanmu yang tidak terlalu manis. Semoga dia tidak lupa melipat selimut sebelum tidur, dengan lipatan ke arah luar. Semoga dia sabar menghadapi sifat bawel kamu tentang kerapian. Semoga dia bisa membahagiakanmu."

*sigh* "Aku..aku masih berharap namamu yang ada di undangan ini, bukan namanya"

"Kamu bisa bilang itu ke anakmu kelak. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang baik. Ajarkan dia untuk tidak menyakiti hati orang lain"

"Ini..undangan untukmu"

"Terima kasih. Selamat menempuh hidup baru"

Si wanita mengakhiri kalimatnya dengan tetesan air mata. Rambut panjangnya tergerai saat dia menunduk tidak mampu menahan tangisan. Pelan ia mengelus perutnya yang membuncit. Anak mereka.

Monday, October 10, 2011

Ironic. Yeah.

It's ironic no. 1. U're a certified IUD and implant doctor, u teach people to postpone, but u're still struggling to have kids.

It's ironic no.2. U have zero experience in pregnancy and delivery. But, in the next 10days u'll be a certified APN (Asuhan Persalinan Normal) doctor.

Now u imagine how does it feel.

Obsesi Saat Hujan

Akibat pengaruh komik Jepang yang udah aku konsumsi sejak masih umur 10 tahun, suatu saat aku berkhayal bakal ditembak cowok di tengah hujan deras. Pasti sangat romantis. Pada masa itu aku belum kepikiran kalo hujan deras bikin kita menggigil dan suara jadi gemelutuk kedinginan. Juga aku lupa fakta kalo hujan deras bikin rambut kriyep-kriyep, gak ada manis-manisnya sama sekali. Yah maklumlah, anak remaja cuma kepikiran hujan itu sangat romantis.

Setelah komik, muncullah film-film yang bikin aku makin pengen ditembak pas hujan deras. Kebetulan film-film remaja masa aku SMA semuanya ada adegan basah-basahan di tengah hujan. Belum lagi film India yang adegan nari pas hujan termasuk salah satu adegan wajib ada, selain nyanyi kelilingin pohon, dan adegan loncat dari kereta api langsung ke mobil yang hebat banget. Duh, makin pengen deh ditembak, ditanya "mau gak jadi pacar aku" di tengah hujan deras. Pokoknya jadi obsesi banget deh.

Apakah akhirnya aku jadi ditembak cowok di tengah hujan deras?

Oh, tidak.

Tapi aku ditembak cowok pas lagi main ice skating, persis seperti adegan di serial Korea Full House. Sangat romantis juga lho. Asap-asap es, dingin, wuidih, romantis banget.
Btw, ni cowok yang nembak aku, 5 tahun kemudian jadi suami.

Eh, aku lupa bilang ya, pas jaman kuliah dan sering nonton Full House, jadi bikin aku pengen ditembak cowok pas lagi main ice skating?

Mission accomplished.

Sunday, October 9, 2011

Interviewing Ika

Hi Ika. Selamat malam. Bisa minta waktunya sebentar? Ini ada sedikit pertanyaan. Ada beberapa sih. Kita mulai langsung ya.

Apa sih hadiah paling berkesan dari..
1. Dari Papa?
"Sepatu 2 pasang. Pas aku umur 6 tahun. Papa bilang aku dibeliin dua karena papa sayang aku. Ah, udah lupa sepatunya warna apa aja, yang masih inget tuh perasaan senengnya."

2. Dari Mama?
"Mmm..agak lupa-lupa ingat. Tapi kayaknya AC deh waktu aku ulang tahun ke-15. Jadinya gak panas kalo pulang sekolah. Langsung klik, jadi dingin. Walopun mama jadi tambah sering ngomel karena listrik jadi mahal. "

3. Dari Adek-adek?
"Mereka curang. Padahal bertiga, tapi kadonya selalu satu. Hahaha. Tahun ini mereka patungan beliin sepatu yang udah lama aku pengenin."

4. Dari Teman-teman?
"Tahun ini sih, mereka gak ada ngasih hadiah barang gitu. Cuma mereka doain aku, supaya cepat jadi ibu. Karena kata mereka umur 25tahun itu paling pas buat jadi ibu. Langsung aku amiiin yarabbalalamiin-kan bangeet."

5. Dari Eja?
"Paling berkesan hadiah ulang tahun yang ke-25 ini. Karena kadonya dia beli pake uang hasil kerja sendiri. Yes. Tapi sebenarnya..gak usah dikasih hadiah barang juga aku udah seneng. Selama ini dia udah jadi suami yang baik banget. Bahkan untuk pertanyaan bodoh aku semacam "kenapa bukan Ika yang hamil, kenapa orang lain?" yang bakal dia jawab dengan "Ika..rezeki orang beda-beda. Mungkin Ika dikasih rezeki di tempat lain, belum di anak". Just being that nice and loving me that much, even in my silliest moment, is just priceless.

6. Dari Diri sendiri?
"Ahahaha. Suka deh ama pertanyaan ini. Aku ngasih diri sendiri hadiah kedewasaan. Stop denial. Mulai menerima bahwa kita ini hanya manusia, harusnya pasrah, tapi terus berusaha. Bukan malah menantang Tuhan, dengan sikap marah aku selama ini.
7. Dari Tuhan?
"Ah, Tuhan sudah mengizinkan aku hidup sampai hari ini itu aja udah jadi hadiah paling berharga. Dikasih keluarga yang baik, suami yang sayang, pekerjaan yang lumayan, dan aku yang harus menoyor kepala sendiri karena malah tidak bersyukur. Tapi bukan manusia namanya kalo gak minta lebih. Tahun ini aku mau hadiahnya anak, ya Tuhan.. Boleh ya, Tuhan?"

Oke Ika. Terimakasih untuk waktunya ya. Silahkan kembali beraktivitas.

Saturday, October 8, 2011

#fiksi : Jendela Jeruji Besi

Ini saat favoritnya. Melihat ke luar, ke arah jendela yang dengan senang hati menampung titik-titik air hujan. Sambil menyesap teh hangat yang baru saja diseduh, dia ambil kursi. Memandang jauh ke luar jendela. Hmmm, hujan gerimis ini cantik sekali, pikirnya. Sekilas dia menyapu pandangan ke pohon pinus di ujung sana. Ah, mereka pasti bersukaria setelah sekian lama kehausan. Setelah ini pasti mereka akan tumbuh besar, rindang, dan membuat orang lain bahagia cukup dengan melihat indahnya mereka.

Dia mulai merasa kedinginan. Sambil mengeratkan pelukan tangan ke badan, berharap akan mendapat sedikit kehangatan. Seandainya saat seperti ini ada orang yang memakaikan selimut, pasti aku akan bahagia sekali, kembali batinnya berbicara. Tapi siapakah kita ini yang bisa menentukan nasib, kita hanya bisa pasrah. Sekian lama dia berada di sana, baru sekarang rasa damai itu datang. Rasa marah pada Tuhan, marah pada keadaan, berganti menjadi rasa syukur untuk hidup yang pernah dicecapi. Kadang pahit, tetapi dia masih bisa mengingat saat-saat bahagia, saat tawanya masih lebar. Kenangan itu yang membuat dia masih bisa bertahan untuk terus meneruskan hidup ini. Biarkanlah Tuhan yang menentukan hidupnya, kita manusia hanya bisa pasrah.

Ya Tuhan, dingin sekali ini, akhirnya dia bergumam sendiri. Ah, sudah lama dia tidak menyebut nama Tuhan. Saat paling putus asa, dia hampir tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Tetapi hari ini beda, Tuhan rasanya dekat sekali. Tuhan sayang sama saya, yakinnya berkali-kali. Ini memang sudah jalannya dari Tuhan. Saya pasrah ya Tuhan, gumamnya di sela-sela doa.

"Utari Kirana!!"
Ah! Dia tersentak kaget. Lalu 2 orang wanita menghampiri, salah seorang dari mereka membawa map. Mereka juga diikuti oleh 2 orang pria lain yang berseragam polisi.
"Apakah benar Anda bernama Utari Kirana?"
Dia menelan ludah sebelum menjawab. "Iya, benar."
"Anda didakwa atas pasal pembunuhan berencana atas suami Anda sendiri pada tanggal 7 Oktober 2005. Untuk itu Anda dikenakan hukuman mati. Ada permintaan terakhir?"

Seulas senyum menghiasi bibirnya. Matanya memandang jauh ke balik jeruji besi, ke arah jendela, dengan titik-titik hujan cantik.
"Saya ingin berada di luar sana", tunjuknya sambil menunjuk ke arah jendela. "Saya ingin merasakan hujan", sambungnya lagi.

Kedua wanita itu saling berpandangan.

Friday, October 7, 2011

Hey, kiddo..

Hey kiddo,
I wish one day I could tell you all of these words. By making a message for you, even tough you're not coming yet, makes my heart blows in happiness. That I do still have a chance to have u one day.

Hey kiddo, there's something I need to talk to you.
I know it's too early, but when you're here, and I'm sure one day you will, please respect us, your parents.
You have no idea how much efforts and tears we shed for having you. You don't wanna know the nights I spent crying alone in my bed, while holding my negative test packs. You'll be sad knowing that I almost giving up to have you. I blamed your future dad, even I blamed God for making me suffer like this.

No, don't get me wrong kiddo, I do love your future dad so much. I won't giving up our marriage. You know what, either you believe it or not, we, I mean me and your future dad, we've talked about this, about what if we can't have kids, what if in the end there will be only two of us, looong ago before I said "I do" to him. But can't believe it, we're facing it now. Really can't believe it.

Hey, kiddo..
By the time I wrote this letter to you, I'm still struggling to make peace with myself. I'm calming my self down. I have to change. I can't be like a soda water, easily to explode. Maybe you're asking why. Because I have to reject all the negativity from my mind. Even if I don't have power to decide whether I'll have you this month, this day, or even this century, but I do can control my mind. Having faith. Believe in something good. That you'll come here, with us, soon.

Hey kiddo,
No one in this world could guarantee when you come, we'll be happier. Many couples split up because of their children. Many parents cry and die in sadness caused by their kids. And countless kids make their parents in danger and total pain. But, we'll take that risks. We're ready for it. You hear that kiddo, we'll take any risks.

Hey kiddo,
If you're up there, please tell God we're ready here. We're ready to have u, now.

Thursday, October 6, 2011

Telur Dadar Award

Telur dadar adalah salah satu masakan paling pertama yang aku bisa masak dengan benar. Urutannya harus tepat. Pecahin telur, masukkan sejumput garam, aduk sebentar pakai garpu, panaskan minyak, tuang telur, dan naaah, di sini bagian yang penting. Kapan mesti membalik telur dan jaga supaya jangan berhamburan.

Okay, aku bukan Farah Quinn yang bisa ngasih kuliah 2 sks (1 sks tentang telur dadar, 1 sks tentang membesarkan dada) masak memasak, so let me begin this story with a day after my wedding night.

*yang ngeres udah pasang mata baik-baik nih pasti*

Kebetulan yang langka, aku nikah ama orang yang fobia/anti/enek ama telur rebus dan telur mata sapi. So, satu2nya pilihan untuk menyajikan telur buat suami tercinta adalah telur dadar. Ah, gampang kan? Kecillah, kalo cuma telur dadar aja. Masalahnya, cuma itulah masakan yang aku bisa masak menurut aturan tata laksana yang berlaku.

So, pagi hari setelah nikah, seperti biasa Eja harus sarapan jam 06.30pagi. (Biar gak kaget, sebagai ilustrasi 06.30 itu waktu aku bangun pagi). Sarapan pagi itu tebak apa. Yak, telur dadar. Aku yang buat.

Pakai telur dua. (Ya iyalah, ikaa, skip!)
Pakai daun bawang potong miring.
Pakai tomat potong dadu.
Pakai bawang merah iris bulat-bulat.
Pakai bawang putih iris tipis.
Pakai cabe merah dipotong kecil-kecil.
Pakai cabe rawit potong.

Ceeesss!!
Adonan telur dadar spesial udah dituang ke kuali. Oke, ini masalah. Kualinya belum panas, apinya aku gedein. Oh, ternyata minyaknya kebanyakan, adonan telur jadi mengambang.

Jangan menyerah, Ika.

Pinggirnya udah agak gosong, jadi aku balik telor dadarnya. Hop! Sekali balik donk, langsung bisaa *bangga*. Pinggirnya udah agak coklat, langsung aku matiin api kompor, dan angkat tuh telur dadar ke piring.

Pasti aku dipuji deh ini. Isinya banyak, macam2, wanginya udah semerbak asoi.

Eja ambil garpu, mulai motong telur. Ceesss.. Dalamnya belum mateng alias masih mentah.

*nangis*

Sejak itu aku tambah sering masak telur dadar, berkali-kali lagi kurang matang, kurang asin, kurang hambar, kurang lebar, tapi tetep Eja makan sampai habis.

Kata dia, telur dadar buatan aku juara banget. Why? Because I put love sprinkles there.

#repost Untuk Calon Anak Kami...

*10 bulan lalu aku bikin postingan ini. Tapi kesedihannya masih sama.*

Dear Calon Anak Kami (Yang Entah Kapan)...

Bahkan sebelum surat ini siap pun, aku yakin kamu gak akan baca.

Kenapa? Yah, karena aku gak tau kapan kamu akan datang, kapan kamu akan tinggal di rahim ku, kapan kamu akan manggil kami dengan mama dan papa.

Tapi satu hal yang pasti, kapanpun Tuhan mau titipkan kamu ke kami, insyaAllah kami sudah lebih siap sekarang. Calon mama dan papamu ini sudah jarang berantem lagi, sudah lebih kompak, sudah tidak boros, dan pekerjaan juga sudah tetap. Kami mau kamu tidak kekurangan satu apapun. Kami mau memberikan kamu limpahan kasih sayang dan materi yang cukup. Biar kamu tumbuh jadi anak baik dan sehat.

Hanya buat kamu, calon anak kami yang entah kapan..

Kamu tau gak, di profesi aku, hampir tiap hari aku liat orang hamil. Ada yang baru menikah 1 bulan langsung test pack nya positif. Ya, test pack itu alat melihat hamil atau tidak. Ada juga yang sudah punya anak 4, tapi kali ini hamil lagi. Semua tampak mudah di mereka. Tiap kali melihat itu, aku sering nangis dalam hati, sambil bertanya-tanya kapan giliran aku yang test packnya positif. Apalagi kalo aku dengar berita mereka yang menggugurkan kandungannya. Sangat miris.

Kenapa gak dikasih ke aku aja, ya Tuhan? Sedih sekali rasanya.

Dear calon anak kami yang entah kapan..

Nanti, kalo aku dikasih kesempatan untuk mengandung kamu, aku janji tidak malas dengerin musik klasik, yang katanya bisa bikin kamu pinter. Aku juga janji mau makan sayur, segala macam sayur, supaya kamu sehat. Aku janji akan minum susu dan berbagai vitamin, walaupun aku sangat mual mencium aroma susu. Aku janji mengurangi waktu jalan-jalan dengan teman-temanku, dan perbanyak istirahat. Aku juga janji gak akan tidur larut, kebiasaan jelek yang bikin calon papa kamu itu marah-marah, dan harus dicium dulu pipinya biar gak marah lagi.

Sekarang ini, entah kamu denger atau gak, doain calon mamamu ini berhasil pengobatannya ya. Sudah 10 bulan kami berusaha biar kamu datang, tapi ternyata Tuhan masih minta kami sabar, dan benar-benar dalam kondisi fit sebelum punya kamu. Doain ya. Katanya doa anak untuk orang tuanya itu manjur loh.

Semoga suatu saat kamu memang datang ke kehidupan calon papa dan mamamu ini ya. Sampai saat itu tiba, kami gak akan berhenti berdoa dan melakukan segala yang perlu biar siap didatangin kamu. Cuma buat kamu, anak kami yang entah kapan..

Ya sudah, aku harus kerja lagi ya. Ini ada pasien yang nunggu buat diperiksa, dan pasti mereka heran liat mata aku yang bengkak. Oh ya, cerita ini jangan sampai dibaca calon papamu ya, pasti nanti dia nangis. Orangnya lembut hati, calon papamu itu. Gampang terharu. Tapi nanti pasti dia akan sayang sekali sama kamu, karena dia memang suka anak-anak.

Dear calon anak kami yang entah kapan..

Jangan lupa datang ya, kami masih menunggu di sini.

Ayo, nanti kami ajak kamu melihat dunia

Dipermainkan Nasib

Pintar. Nilai bagus di kuliah. Jadi dokter dengan IP tertinggi. Sekarang jadi dokter umum biasa.

Nilai biasa-biasa aja. Lulus kuliah dengan IP standar. Bukan anak orang kaya. Sekarang lagi sekolah PPDS.

Nilai jeblok. Lulus kuliah dengan IP yang didongkrak, eh bisa sekolah ke luar negeri.

Kita semua dipermainkan nasib di sini. Tinggal bagaimana kita menangani nasib, dan tidak terpuruk oleh nasib yang buruk.

Wednesday, October 5, 2011

21 tahun setelah #TK

TK di sini maksudnya Taman Kanak-Kanak ya.

Mari kita mengandalkan memori otak sampai sejauh mana dia bisa mengingat kenangan 21 tahun lalu. (Tunggu, apaaa!? 21 tahun laluuu?! *backsound menggelegar ala sinetron pas adegan ternyata si A bukan anak kandung si B, ternyata ketuker*)

Baaiklaaah,
Prestasi waktu TK, dimulai :
- aku masuk TK pas umur masih 4 tahun. Karena mama gak tahan ama kelakuan aku yang super evil, diantaranya, jalan kaki di parit depan rumah, suka gigitin bahu mama, suka cubitin pipi adek aku yang masih bayi, suka manjat pohon cherry sampai pucuk pohon, dll dll yang terlalu nista disebutin di sini.

- aku bisa ngayun ayunan sambil berdiri di atas bangku ayunan. Pokoknya rasanya kayak terbang di langit deh pas ayunan lagi kenceng banget itu. I'm on the top of the world! Rasanya gak perlu aku sebutin di sini kalo aku nangis karena ayunannya gak bisa berhenti. Untung ditangkap ama pak guru. *sniff*

- aku pernah mancing kodok di kolam ikan, pake tali pinggang temen. Oke, sekarang ketawalah kalian. Tapi zaman itu otak aku juga masih kecil, jadi wajar kalo gak tau kalo kodok gak bakalan tertarik ama tali pinggang.

- aku bisa manjat panjat-panjatan sampai paling atas. Waktu itu aku belum terlalu peduli kalo celana dalam keliatan kemana-mana. Yang penting sampai paling atas trus dudukin kursinya.

-waktu karnaval, udah pinter minta pake kostum dokter. Untung sekarang kesampean jadi dokter.

21 tahun setelah selesai TK, aku masih ingat beberapa prestasi (atau kenakalan, kalo kita lihat di zaman jahiliyah itu), dan beberapa materi pelajaran. TK zaman aku dulu, bener-bener Taman Kanak-Kanak. Hanya main, susun balok, mewarnai, bukan membaca dan berhitung seperti TK zaman sekarang.

TK buat aku dulu, adalah salah satu kemewahan masa kanak-kanak. Lebih banyak porsi ketawa dibanding sedih. Berbanding terbalik ama kehidupan dewasa 21 tahun kemudian.

Tuesday, October 4, 2011

Jangan Sampai Hilang

Di jalan waktu pulang kantor beberapa hari yang lalu, ada temen yang nanya gimana dulu waktu aku pacaran ama Eja. Well, kami pacaran hampir 5 tahun, pokoknya sepanjang masa kuliah. Kalo aku ditanya pernah gak ngalamin masalah yang beraaat banget sampe mau putus, jelas aku bilang enggak. Mungkin karena Eja tuh orangnya sangat tidak macam-macam. Gak pernah ngatur aku harus gini harus gitu. Gak pernah cemburu. Gak pernah gak percaya ama aku. Buat dia, daripada menyiksa diri dengan pikiran negatif curiga aku sama orang lain, mending perbanyak pikiran positif.

Pernah jengkel liat pasangan yang kerjaannya suka meriksain hape kita kalo ketemu? Well, aku gak pernah ngalamin. Karena Eja sama sekali gak pernah ganggu privacy aku. Bahkan sekarang, waktu kami udah nikah pun, tiap liat aku sibuk ama BB (hehe..), dia cuma bilang, "ika bikin apa sik, serius kali", trus aku langsung nyengir-nyengir en mulai ceritain apa yang aku baca/ apa yang aku tulis. Bukan dengan nada marah, karena ngerasa dicuekin. Karena sikap dia yang super percaya gini, aku jadi gak khawatir sama sekali. Walaupun dia di Rumah Sakit dikelilingi banyak perawat yang masih muda-muda dan cantik, aku sama sekali gak khawatir.

Pokoknya dalam satu hubungan itu kalo mau awet, saling jaga kepercayaan aja. Percaya kalo kita emang satu-satunya yang ada di pikiran dia saat ini. Pake prinsip ini, hubungan kami awet sampai hampir 6 tahun. Itu aja sih, yang jangan sampai hilang.