Showing posts with label Dokter. Show all posts
Showing posts with label Dokter. Show all posts

Friday, March 6, 2015

Bahayakah Dot Untuk Bayi?

                                                                   *gambar dari sini*

Halo para mama. Mau cerita sedikit tentang bahaya pemakaian dot untuk bayi, setelah ada yang nanya tentang dot apa yang aman untuk bayi di FB Page KEPRI Peduli ASI. Yuk mari kita bahas. 

Setelah bayi lahir, maunya kita pasti memberikan yang terbaik. Secara ini anugerah yang sudah ditunggu-tunggu 9 bulan, ya kan? Jadi pasti mama ngasih ASI donk, buat sang buah hati. ASIP juga sudah dipompa untuk adek bayi selama ditinggal kerja nanti. Pokoknya yang terbaik deh untuk anak. Hari cuti berakhir datang, mama harus balik kerja lagi. Si adek ditinggal ama pengasuh, sudah dipesankan ke pengasuh/ nenek/ tante/ sodara lain, untuk ngasih ASIP sekian mili setiap dua jam sekali. Mama udah persiapkan banget semuanya. Sebulan, dua bulan, si adek masih lancar nyusunya. Kalo siang dia minum ASIP, sore sampai malam lanjut nyusu langsung ama mama. Aman dunia.

Tapi oh tapi, di bulan keemapat, si adek nolak nyusu langsung ama mamanya. Nangis kalo tiap kali disodorin puting. Langsung buang muka kalo diposisikan untuk menyusu. Apa ada yang salah dengan mama ya? Apa ASI mama sudah gak enak? Eh tapi kalo minum ASIP dari botol susu, si adek keliatan lahap banget, langsung ludes satu botol penuh. Apa yang salah ini ya?

Mama bingung, merasa kecil hati. Biasanya mesra-mesraan ama si adek pas nyusui, sekarang gak bisa lagi karena si adek nolak nyusu ama mama. Aduh, sedihnya. Mama stres, ASI macet, ASIP makin berkurang, dan di bulan kelima, ASI sama sekali udah gak ada. Si adek pun dengan terpaksa minum sufor. Gagal lah rencana ASI Ekslusif yang sudah dipersiapkan sejak masih hamil dulu. Ah.

Sebenarnya, masalahnya dimana?

Kalau dilihat dari gambar ini 

Keliatan kan kalo yang menstimulasi otak untuk keluarnya oksitosin (untuk mengeluarkan ASI) dari hipotalamus itu adalah..hisapan bayi. Jadi, makin sering bayi menghisap payudara langsung, payudara semakin "kosong", maka hormon prolaktin akan semakin banyak memproduksi ASI. ASI mama akan semakin melimpah. Hisapan bayi juga makin bikin oksitosin keluar loh. Jadi ASI banyak, dan keluarnya lancar, semua karena hisapan bayi.

Pada kasus mama tadi, frekuensi bayi menghisap payudara langsung, semakin berkurang karena sudah digantikan dengan penggunaan dot. Pemakaian dot ini selain membuat frekuensi menghisap payudara berkurang, juga akan menyebabkan bayi bingung puting. Itulah yang terjadi pada bayi mama yang takut ketika melihat puting mama, atau menolak keras saat disodorin puting. Karena terbiasa dengan bentuk dot yang mirip puting, jadi bayi bingung. Akhirnya nangis meronta. 

Ditambah lagi, mekanisme kerja dari puting dan puting palsu, alias dot ini, sangatlah berbeda. 

Dari gambar di atas, terlihat kalo di dalam mulut bayi, puting kita akan memanjang dan akan langsung menuju tenggorokan bayi. Lalu bayi akan mengisap puting (mekanisme seperti vakum) dulu beberapa detik, barulah ASI keluar setelah diperah oleh lidah bayi. Jadi tidak langsung keluar setelah mulut bayi nemplok di payudara kita loh, mama. Nah, ini sangat berbeda dengan mekanisme dot. Kalo minum ASIP dari dot, ujung dot akan dijepit oleh bibir bagian atas dan bawah, lalu tanpa harus menghisap terlebih dahulu, ASIP akan langsung keluar. Memang ini lebih mudah untuk bayi, maka ketika dia harus menyusu lagi dari payudara, yang harus dihisap dulu beberapa detik, barulah ASI keluar, maka tentu dia akan bingung dan menolak. Padahal mekanisme menyusu langsung seperti ini adalah yang paling sempurna, karena akan menstimulasi seluruh otot rahang bayi, baik untuk perkembangan mulut dan kemampuan berbicara di masa depan.

Selain itu, mama, karena terbiasa dengan dot, maka hisapan bayi ke payudara juga kurang maksimal (mekanismenya aja udah beda), jadi payudara tidak benar-benar "dikosongkan". Akibatnya ASI yang bersisa ini, untuk besok-besoknya, hormon prolaktin akan semakin sedikit memproduksi ASI, sesuai dengan prinsip supply meets demand. Jadi tubuh menganggap ASI sudah semakin kurang dibutuhkan (karena bersisa) jadi untuk kedepannya makin sedikit dibuat. Belum 6 bulan, produksi ASI mama akan "kering". 

Bagaimana mama, sudah mengerti kan bahaya dot untuk bayi kita? Selain tidak baik untuk perkembangan rahang bayi, juga besar sekali resiko bayi bingung puting. 

Lalu bagaimana dengan klaim dot merk tertentu yang mirip mekanisme kerja puting, seperti iklan ini?


Tidak benar ya, mama. Ada beberapa mama yang sudah mencoba dot model ini tetapi tetap bingung puting. Seperti yang mama tahu, tidak ada yang dapat menyamai buatan Tuhan, itulah yang paling sempurna untuk anak kita. Bahkan WHO sudah menjelaskan dalam salah satu poin Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui bahwa dilarang menggunakan dot atau empeng. Bisa mama baca di sini ya. 

Jadi, kalau mama mau balik kerja setelah cuti melahirkan habis, segeralah ajari pengasuh/nenek/sodara yang mengasuh si adek untuk memberikan ASIP dengan media lain dengan resiko bingung puting yang lebih kecil, seperti dengan cup feeder, sendok kecil, pipet tetes. Pengalaman saya sendiri, anak saya yang saat itu usianya 2 bukan diajari minum ASIP dengan cup feeder. Alhamdulillah tidak pernah bingung puting dan masih menyusu hingga sekarang umurnya 2,5 tahun. Jadi, pasti mama bisa, asal niat dan konsisten. 


                                                   *memberikan ASIP dengan cup feeder*

Jangan menyerah dan jauh-jauh hari sudah ajarkan kepada keluarga. Berikan pengertian bahwa memberi ASIP bukan dengan dot ini adalah yang terbaik untuk bayi. Tentunya seluruh keluarga ingin yang terbaik untuk bayi kesayangan kita, kan? :))


Disclaimer :
Tulisan ini juga akan dimuat di FB Page KEPRI Peduli ASI dan twitter @Kepri_peduliASI




Thursday, March 20, 2014

Sekolah Lagi?



Inilah akibat dari sering browsing malam-malam karena gak bisa tidur lagi habis nyusuin Agi. I'm ended up in this *Milis Beasiswa* site.

Sekolah lagi?

Tambahkan kata "Emang pengen" sebelum 2 kata sakti di atas. Jawabannya, yap, iya, pengen. Ilmu itu bikin nagih. Itulah kenapa aku suka kerja di Puskesmas (for now) karena bakalan update terus ilmunya. Sering ikut pelatihan dan belajar ilmu lain selain ngobatin pasien.

Oke, kalo mau sekolah lagi, mau sekolah apa?

NAH!

Inilah yang masih bingung. Sebenarnya mudah kalo kita sudah tau mau kita apa, bayangan diri kita bakalan jadi apa dalam 20-25 tahun ke depan, dan sebab mau sekolah lagi ini karena pengen ilmu kah, pengen terbebas dari kewajiban kerja kah, pengen kaya kah, atau pengen jalan-jalan ke luar negeri?

Kita liat ya. Sejak di puskesmas, belajar ilmu konseling, dan jadi konselor laktasi, aku jadi sukaaa sekali membuat orang lain mengerti dan mempengaruhi mereka (dalam arti baik ya) untuk bisa menyusui bayinya ekslusif. Rasanya senang sekali. mata berbinar-binar. Mulut tersenyum lebar. Jadi aku memang mau mendalami tentang dunia ASI ini. Tapi mendalami apanya? Kalo mau terus membantu ibu-ibu biar bisa menyusui, bisa tetap jadi dokter umum, bisa juga jadi dokter anak.
Tapi menjadi dokter anak, belum tentu mudah, dan jangan dikira hanya ngurusin ibu-ibu yang kesulitan menyusui saja. Aku juga harus rela membagi waktu antara keluarga dan pasien. Which is, i'm not willing to...yet. Agi masih kecil, dan kalo papapnya sibuk, mamanya ikutan sibuk, apa gak malah dosa terkesan mengabaikan hak anak? Oh, Big No Way!

Kita liat lagi minat aku dimana. Aku pengen kuliah di luar negeri. Biar wawasan luas. Bisa ajak Agi juga. Tapi ya terkendala di biaya. Sebenarnya kalo niat kita kuat, pastiii aja ada jalan. oke deh, untuk yang satu ini niat juga belum kuat. Emang targetnya aku mulai mikirin sekolah dan karier ke depannya setelah Agi umur 3 tahun, sekitar 19 bulan lagi (hahaha, bentar lagi!). Prioritas sekarang, ya ke Agi dulu. Kemaren sempet liat tentang jurusan Informatika Kesehatan. Menarik sekali. Tapi yang cocok beginian ya si papap, tukang otak atik software. Liat juga jurusan Public Health, bagus, menarik, aku sudah kebayang sedikit-sedikit aplikasinya gimana, tapi belum bisa dan belum mau fokus mikirkan itu.

Anyway, sekarang ini aku punya waktu sekitar 19 bulan untuk nentuin, mau kuliah apa, dimana, dan gimana pembiayaannya. Yang penting, niat sekolah dan mencari ilmu lagi ini jangan sampai padam, mimpi jangan sampai malas, cita-cita jangan sampai terpendam.

Be a good dreamer.
Be a good prayer.

Tuesday, November 26, 2013

Aksi Solidaritas Dokter Indonesia : Sehari Tanpa Dokter


Judulnya aja udah provokatif gini dan yakin deh bikin kebat kebit. Sehari tanpa dokter? Apa masyarakat bisa tahan? Sejam aku tinggalin poli di puskesmas aja pasien udah mulai ngeluh nyariin mana dokternya. Nah, ini seharian? What would happen?

Cerita dulu, jadi aksi ini adalah respon dari kasus dr. Ayu, SpOG dkk di Menado yang dipenjara karena pasiennya meninggal. Kasus ini dari tahun 2010 dan dr. Ayu beserta 2 orang dokter lain sudah dinyatakan bebas murni setelah keluar hasil autopsi yang menyatakan pasien meninggal bukan karena kesalahan prosedur operasi dan keterlambatan penanganan, melainkan karena emboli, yang emang gak bisa diprediksi dan mematikan.

Smell fishy, rite? 

Ngapain juga kasus yang udah clear 3 tahun lalu ini diungkit lagi sampe tingkat MA dan ah elaah, putusan MA malah ketiga dokter ini dipenjara. Glek! So fishy! Aneh!

Di sinilah aksi ini dimulai. Dokter emang disumpah untuk menganggap dokter lain adalah saudara kandung yang harus disupport dan tidak boleh saling menjatuhkan. Makanya IDI pusat berkoordinasi dengan pihak terkait, Kementrian Kesehatan, Komisi IV DPR RI  membahas masalah ini. 

Sejak itu jadi banyak pro dan kontra. Ada yang bilang dokter beginilah, begitulah, tidak kompetenlah, tidak terpakailah, dan banyak yang nyukurin. ASedih ya. Dokter dituntut untuk selalu tau, selalu ceria, selalu senyum, harus bisa meredam emosi pasien, harus menjelaskan proses administrasi juga, harus berjiwa sosial tinggi dan mau menggratiskan pasiennya yang miskin, tidak boleh dapat fee terlalu mahal, dan kalau pasien sampai meninggal, dokter harus bersedia disalahkan dan masuk penjara! 

Gilaaa..

Ini dokter apa dewa?

Memang, kejadian ini jadi bikin introspeksi juga. Mungkin selama ini dokter terlihat arogan, kurang bisa komunikasi dengan pasien. Mungkin karena dokter merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk kesembuhan pasien, jadi terkesan sombong. Mari kita, sebagai dokter pelan-pelan perbaiki diri juga. Latih komunikasi yang baik dengan pasien. Pengalaman aku sebagai dokter puskesmas, pasien yang puas dengan penjelasan kita, lebih besar tingkat kesembuhannya loh. 

Dan gak ada yang lebih buat kita bahagia sebagai dokter selain liat pasien sembuh. It's a priceless feeling and i'm blessed having that.

Untuk aksi besok, puskesmas tetap buka seperti biasa. Sesuai edaran IDI, emergency tetap buka dan pasien miskin tetap dilayani. Tapi aku bakal pake baju jas dokter, biar kerasanya ikut aksi juga. Besok bakal minta Eja buat live report dari spot aksi yaitu di RS Kasih Sayang Ibu.

Buat mereka yang menghina dokter tanpa ampun (banyak kok di media sosial, di kompasiana, nyeri juga bacanya), awas loh ada karma. Dan yah, semoga kalian SEHAT terus ya, jadi gak perlu ke dokter. Gak perlu jumpa profesi yang kalian benci ini.

Bangkit guys. Fight back. Stand for our right. Yang gak adil, harus diluruskan.