Friday, December 30, 2011

Fave Spot

Pinggang masih sakit karena nyapu dari depan ampe belakang. Aih, aku yang selama ini pulang ke kamar udah tau beres, gimana mau tinggal sendiri? (۳º̩̩́_º̩̩̀)۳

Semangat, Ika. Harus bisa mandiri donk. ╭( '̀⌣'́ )งː̖́

Btw, ini ruang tamu. Hari ini udah pasang gorden semua. Dudududu, pas jadiin foto ini sebagai DP ввм, ada yang muji loh. Cantik katanya. Aiih, syeneng! \(´▽`)/

This is my fave spot in the house, so far. Yet to find another spots.

Wednesday, December 28, 2011

Our (Still Messy) House

Hari ini barang-barang yang dibeli dari RK datang. Setelah masuk barang gini, kok rasanya rumah jadi sempit ya?
Hahaha!
Tapi seneng karena lampu hias juga udah datang. Tinggal dipasang aja.
Ntar malam udah rencana ama Eja buat nyusun-nyusun. Kenapa malam? Yeah, blame his crazy schedules! Kerja dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Щ(˘̶Д˘̶щ)

Can't wait. Can't wait. Dari dulu pengen banget bisa nyusun rumah sendiri. Alhamdulillah, dikasi kesempatan cepet ama Allah, di usia 25 tahun udah punya rumah.

Alhamdulillah yach! *elus jambul*

Tuesday, December 27, 2011

Don't Look Around

Malam ini nungguin Eja praktek. Di ruang tunggu banyak pasien yang hamil, en banyak juga yg bawa anak.

I'm stanger here.
Don't look around, 'coz all I can see are happiest moms and happiest mom to be. I do wish I were one of them.

So, when will be my turn? :(

Monday, December 26, 2011

That's A Compliment, Mom

Just arrived home after checking our new house. Home. Finally can type home sweet home, literally coz this is our own home.

Mom's friend stopped by and said how come we have money to buy a house in fact we've only been working for a year and half? I said, it's all the matter of intention. U have to being stingy to urself if u want something big, like buying a house.

Since the day we're married, we don't spend too much money on something unimportant like gadgets we don't really need, bags, shoes, expensive clothes. I even use my 8250 Curve BB from Eja for my b'day gift till now, while a friend bought a BB Torch from her first salary. Me not.

We spent little, and earn more.

"Berhemat harus dimulai dari awal-awal nikah, kalo baru berhemat sejak mau punya rumah, gak bakal cukup."

U'll Neva Understand How God Works

Tuhan memberikan anak pada orang yang tidak menginginkannya. Dan aku bertanya kenapa.

Tuhan memberikan anak pada orang yang membuangnya. Dan aku bertanya kenapa.

Tuhan memberikan anak pada orang yang tidak bersyukur karena tidak perlu susah payah berusaha. Dan aku bertanya kenapa.

Tapi Tuhan belum memberikan anak pada aku, yang sangat menginginkannya, tidak akan membuangnya, dan sedang susah payah berusaha untuk punya.

Dan aku juga bertanya kenapa.

-Senin, 26 Desember 2011, setelah mendapat telepon dari seorang teman-

Saturday, December 24, 2011

Untuk Calon Anak Kami di Masa Depan

Batam, 24 Desember 2011. 10:15pm.

Hi, ini surat ke dua untuk kamu. Surat pertama hampir sekitar 1 tahun lalu.
Kalo kamu udah ada, pasti umur kamu udah setahunan lebih. Tapi mau bilang apa, kamu datang atau enggak, itu di luar kuasa kami. Ah.

Dear kamu, calon anak kami..
2 bulan lalu aku udah dioperasi, biar gampang hamil. Bulan lalu aku datang haid, yang artinya udah normal kembali. Bulan ini aku sangat cemas, sangat berharap mukjizat ada, aku bisa hamil. Tapi, ternyata aku salah. Aku harus kecewa. Aku harus ngerasain asinnya air mata, karena haidku datang hari ini.

Dear kamu, calon anak kami..
Orang bilang, aku harus sabar. Setiap bulan aku sabar nunggu dengan sangat cemas, jangan sampai aku haid lagi. Kalo aku haid, berarti kedatangan kamu ditunda terus. Tapi setiap bulan juga aku telan lagi pil pahit kecewa, karena bukan tanda garis dua di testpack yang ada, tapi malah bercak darah tanda aku gagal lagi bulan itu.

Dear kamu, calon anak kami..
Seandainya aku tau, kenapa kedatangan kamu terus tertunda. Seandainya aku bisa jawab pertanyaan mereka, kenapa aku belum hamil juga. Seandainya aku bisa terbiasa dengan kondisi ini, yang lagi-lagi kecewa. Seandainya aku bisa tertawa maklum setiap kali gagal. Seandainya rasa optimis aku semakin hari semakin tinggi, bukan terkikis sedikit demi sedikit kayak sekarang.

Dear kamu, calon anak kami..
Aku memang orang yang sangat cengeng. Kemarin waktu mesin ATM rusak dan uangku gak keluar, aku nangis dulu baru mikir. Jadi gak usah kamu bingung kenapa aku nangis, karena cuma ini yang aku bisa. Mau mengumpat, mau mengumpat siapa? Mau menyalahkan orang lain, siapa lagi tertuduhnya di sini kalau bukan aku? Mau coba pura-pura gak tau, pura-pura gak peduli, malah dada rasanya sakit. Aku sangat beruntung karena calon papa kamu orangnya sabar, baik, dan selalu semangatin aku.

Dear kamu, calon anak kami..
Kata orang, kalo nunggunya lama, ntar pas dapet pasti yang terbaik. Aku cuma bisa bilang amiin, dan semoga umur, tenaga, harta, dan semangat masih ada pas kamu datang.

Semoga ya.
Sama-sama doa.

With My Sissy

Ini @opehime, adek paling kecil. Kemaren barusan jadi juara 1 lomba modelling di sekolahnya.

Makanya jangan heran kalo gaya berdirinya aja kayak gitu. Hahhaha.

Hari IBu Untuk Yang Belum Jadi IBu

Tanggal 22 Desember kemaren aku dapat beberapa sms, beberapa broadcast messages bilang "SELAMAT HARI IBU".
Seperti dua sisi mata uang, muka jelek ama muka cantik, reaksi aku dikirimin gini juga ada dua, Seneng en Sedih.
*Seneng karena aku anggap aja doa, biar bisa secepatnya jadi ibu.
*Sedih karena mereka salah alamat, nganggap aku udah jadi ibu.

Tapi,, gak semua wanita itu ditakdirkan jadi ibu kan?
Wanita yang memilih untuk single selamanya..
Wanita yang tidak bisa jatuh cinta dengan laki-laki..
Wanita yang tidak punya rahim..
Wanita yang menderita penyakit sampai hamil dan melahirkan berarti kematian buat dia..
Wanita yang entah kenapa tidak bisa punya anak..

Apakah para wanita ini jadi "warga kelas dua" karena tidak bisa punya anak, dan tidak bisa jadi ibu?

Betapa kejamnya kalo iya.

Ah, apapun itu, aku anggap aja semua yang ngucapain selamat hari Ibu, yaitu 2 orang mahasiswa Akbid, Ibu Nensi kepala sekolah TK, en 2 orang teman, mereka pada doain aku supaya segera, cepat, en semoga bisa jadi ibu.

Amiinn..

I'm Not Afraid Of Red

Wednesday, December 21, 2011

Postingan Lama dan Ternyata Masih Mengena

Ini sebenarnya postingan lama sih, bulan Mei 2008. Eja dapat dari satu artikel, he gave me, and want me to read it. Ahahahaha. 2 years later we're married. Ah, and reading this again, many things still relevant.

Read it, and u'll know why.

"Those who are still single may learn something from here. Those who are already married may take it as a guideline to improve your marriage.

DID I MARRY THE RIGHT PERSON?

During one of our seminars, a woman asked a common question.

She said, "How do I know if I married the right person?"

I noticed that there was a large man sitting next to her so I said, "It depends. Is that your husband?" In all seriousness, she answered "How do you know?"

Let me answer this question because the chances are good that it's weighing on your mind. Here's the answer. EVERY relationship has a cycle.

In the beginning, you fell in love with your spouse. You anticipated their call, wanted their touch, and liked their idiosyncrasies. Falling in love with your spouse wasn't hard. In fact, it was a completely natural and spontaneous experience. You didn't have to DO anything. That's why it's called "falling" in love.

Because it's happening TO YOU.

People in love sometimes say, "I was swept of my feet." Think about the imagery of that expression. It implies that you were just standing there; doing nothing, and then something came along and happened TO YOU.

Falling in love is easy. It's a passive and spontaneous experience. But after a few years of marriage, the euphoria of love fades. It's the natural cycle of EVERY relationship. Slowly but surely, phone calls become a bother (if they come at all), touch is not always welcome (when it happens), and your spouse's idiosyncrasies, instead of being cute, drive you nuts. The symptoms of this stage vary with every relationship, but if you think about your marriage, you will notice a dramatic difference between the initial stage when you were in love and a much duller or even angry subsequent stage.

At this point, you and/or your spouse might start asking, "Did I marry the right person?"

And as you and your spouse reflect on the euphoria of the love you once had, you may begin to desire that experience with someone else. This is when marriages breakdown. People blame their spouse for their unhappiness and look outside their marriage for fulfilment.

Extramarital fulfilment comes in all shapes and sizes. Infidelity is the most obvious. But sometimes people turn to work, a hobby, a friendship, excessive TV, or abusive substances.

But the answer to this dilemma does NOT lie outside your marriage. It lies within it. I'm not saying that you couldn't fall in love with someone else. You could.

And TEMPORARILY you'd feel better. But you'd be in the same situation a few years later. Because (listen carefully to this):

THE KEY TO SUCCEEDING IN MARRIAGE IS NOT FINDING THE RIGHT PERSON; IT'S LEARNING TO LOVE THE PERSON YOU FOUND.

SUSTAINING love is not a passive or spontaneous experience. It'll NEVER just happen to you. You can't "find" LASTING love. You have to "make" it day in and day out. That's why we have the expression "the labour of love."

Forgive your spouse who had make a huge mistake before, because loving your spouse is easy but to forgive them is hard, that is why you need to have the courage to forgive because it takes time, effort, and energy. And most importantly, it takes WISDOM. You have to know WHAT TO DO to make your marriage work.

Make no mistake about it. Love is NOT a mystery. There are specific things you can do (with or without your spouse) to succeed with your marriage.

Just as there are physical laws of the universe (such as gravity), there are also laws for relationships. Just as the right diet and exercise program makes you physically stronger, certain habits in your relationship WILL make your marriage stronger. It's a direct cause and effect. If you know and apply the laws, the results are predictable.. . you can "make" love."

AH, this article is so right. We have to work out for everything, including marriage.

You’re My Lucky Charm?

Tiga hari ini Eja kan tugas ke Tanjung Pinang. Kemudian muncullah berbagai macam kejadian yang aarrrrghh!! Unlucky!

Hari 1 à Ambil duit ke ATM Mandiri. Sudah tekan 'yes' untuk transaksi, dan suddenly out of nowhere mesin ATM bergerung heboh, duit gak keluar. Nunggu agak lama, harap-harap cemas akhirnya kartu ATM keluar, dan gue kira transaksi gagal. Tapi holy shit, transaksi udah berhasil, uang gue udah terpotong. SMS Banking masuk. ARRRGH!!! *nangis histeris*

Sambil nangis-nangis nelpon Eja, en Eja bilang "duh..baru ditinggal sehari aja kok udah gini..". HIKS.

Hari 2 à Ke Bank Mandiri bikin keluhan tentang ambil duit kemaren. Agak lama nunggunya. Dan keluar dari Bank Mandiri Bandara, kehujanan.. *dem!*

Ikut Acara Pertemuan Puskesmas se-Kota Batam, begitu sampai, belum juga parkir mobil, langsung ada beberapa pegawai puskesmas keluar yang bilang kalo jilbab en sepatu harus hitam. DEM! Langsung nyetir kayak kuda dipecut demi pinjem jilbab hitam.

Hari 3 à Masuk poliklinik umum, tangan ketabrak ama pintu. And...the diamond on my ring has gone! Jantung rasanya hampir berhenti. Panik banget nyariin berliannya yang cuma sebesar batu kecil. AAAKK! My wedding ring..

HIKS. Untuuunng..ada temen yang bantuin cari, en KETEMU!! Langsung aku simpan dalam plastik, dihekter ketat-ketat, simpan dalam dompet. Berarti ini harus ke Medan lagi buat masang berliannya ke slotnya balik.

SEE!?

Selama 3 hari Eja gak ada, ini kesialan beruntun banget. Hari ini dia pulang dari Tanjung Pinang, seneng banget!

Can't wait to see you, Eja, my lucky charm..

*kiss kiss*

Tuesday, December 20, 2011

Target 2012

Sebentar lagi, atau tepatnya 10 hari lagi, udah tahun 2012 aja.

Aku cuma punya target 1, tahun ini : ~ punya anak ~ Dan itu udah gak tercapai.. (dalam hati masih pingiiiiiin banget ada keajaiban di 10 hari ini kalo aku hamil..) *amiin*
Tapi sebagai gantinya, gak direncana-rencanain, kami bisa beli rumah. *yayy*

So, target 2011 ~ punya rumah ☑

En target 2012 ~ punya anak.

Saturday, December 17, 2011

:(((

They said Happiness is a state of mind.
And am I supposed to feel sorry for making my happiness is a state of having kids.
:(

Friday, December 16, 2011

Harta Gono Gini Pertama

Okay, officially sekarang rumah kami udah ada. Dan aku malah ketakutan karena masih mikirin gimana ngisinya tuh rumah. Dimana ntar kursi, dimana ntar tivi, dimana ntar sofa, apa bednya cukup, perlu beli karpet atau enggak, dapur ntar gimana. Arrrgh!!
*take a deep breath*

Tadi udah ke tempat wallpaper, udah beli en siap dipasang hari Senin. Tapi kata Eja terlalu cepat masangnya Senin. Eja mau siap teralis dulu baru dipasang wallpapernya. Duh, kami jadi sering berantem gara-gara soal sepele gini loh. Sama-sama pengen perfect. Kalo Eja dia tuh lama banget perhitungannya, ini dulu, itu dulu, itu ntar, arrgh ribet. Kalo aku, main hajar en ayok ajaaa..langsung pasang!! Malas mikir yang ribet-ribet.

Btw, ini harta gono gini kami yang pertama loh. *ngikik* Di surat perjanjian kredit juga disebutin kalo rumah ini adalah harta gono gini, dan kalau suatu saat mau dijual, harus dengan persetujuan kedua belah pihak. Ahahhahaha. Akhirnya punya juga kami benda yang bisa dibanggakan, karena beli pake uang hasil kerja sendiri, keringat sendiri, tabungan hemat-hemat, sama sekali gak minta ama ortu. Ah, BANGGA!

Tapi..sedikit ada rasa iri, ya muna' aja kalo aku gak iri..ama mereka yang gitu tamat dokter, kawin (dibayarin ortu), trus beranak pinak (dibayarin ortu juga), sekarang ambil spesialis yang juga dibayarin ortu. MEH! Malu banget yang kayak gitu. Udah berani kawin, berani juga donk, menghidupin keluarga. Jangan bisanya cuma sumbang sperma, bikin anak, trus biar mulut tu anak bisa ngunyah lu minta duit ama ortu, lagi. Malu, kawan.
Sperma sperma elu, anak anak elu, tapi yang biayain ortu lu.

Mungkin ada yang komentar , "ah, itu orang tuanya aja yang kelebihan duit en baik banget mau biayain". HMMPPH!

Gini deh, kalo lu 'terlihat' dan dinilai mampu membiayain rumah tangga lu sendiri, pasti lain ceritanya. Pasti ortu juga gak bakalan biayain, en lu pasti tolak donk, in the name of pride lu sebagai kepala rumah tangga. Tapi kalo lu sekolah juga masih ngemis ortu, jajan anak juga masih mangap di depan ortu, en rumah mobil lu juga lu minta ama ortu, dimana pride lu sebagai kepala rumah tangga?

Jangan salah. Banyak yg kayak gini. Entah beruntung, entah gak tau diuntung.

Yang pasti, aku bersyukur banget Eja sehat-sehat, aku sehat-sehat, jadi bisa kerja siang-malam, cari duit buat bangun keluarga kami. Beli rumah, beli isinya. Semua berantem, semua ngambek ini kalo diingat lagi pasti lucu, karena inilah perjuangan kami, selama menikah, untuk membangun keluarga.

Mungkin ada hikmahnya aku belum hamil dulu, biar bisa nabung beli rumah. Jadi nanti kalo udah punya anak, kami gak perlu malu karena gak punya uang. Kami gak perlu ngemis numpang tinggal makan gratis. Kami bisa berdiri di kaki kami sendiri.

Semoga, tahun depan, resolusi 2012 (yg juga resolusi tahun 2011, tapi gak tercapai) untuk punya anak, untuk jadi istri en ibu yang baik, bisa tercapai. Amiiin..ya rabbalalamiin..

Wednesday, December 14, 2011

Menganalisa si Bapak Notaris

*lega*
Udah siap akad kredit. Ternyata gitu toh, yg namanya akad kredit. Kebayangnya pake salaman gitu, trus saling mengucap janji akan melunasi, ternyata enggak.
Jadi, jam 14.30 kami sampai di kantor notaris. Gitu sampai kami masuk ke ruangan si pak notaris, tapi si bapak belum muncul. Yang muncul stafnya, minta kami nunggu.

Sambil nunggu, kami saling membuat analisa (sangking kurang kerjaannya kaaan..) tentang si bapak notaris dengan ngamatin isi ruangannya.

» Pertama, si bapak ini pasti bukan orang yang terorganisir, bukan orang yang rapi, maksudnya. Buku di lemari buku berserakan, gak rapi sesuai abjad. Bahkan ada beberapa buku yang diletakkan sembarangan melintang gitu aja.

» Kedua, dia suka laut. Hiasan di lemari buku paling atas adalah kapal, dikelilingin ama keong-keong cantik yang udah full polish. Di dekat meja kerja juga ada patung kuda laut kecil yang dipigura mewah.

» Ketiga, si bapak ini suka travelling ke luar negeri. Menikmati hidup laaah.. Foto² banyak di luar negeri, di Belanda, Eropa, Cina, en ada di Universal Studio. Samalah ama gue, beda tipis aja. Si bapak di Universal Studio Hollywood, gue di Universal Studio Singapore.. *okay, boleh ngeluarkan suara dengusan sekarang*

» Keempat, si bapak en istrinya pasti lama merit baru punya anak. Gampang sih taunya. Dari foto pernikahan mereka yg adat Minang, tu foto udah jaduuuul abis. Mungkin pas zaman kuda masih doyan cendol tu foto dibuat. Sedangkan di pigura satu lagi, ada foto bayi kembar mereka yg lahir tahun 2003. Wah, liat dari jadulnya foto wedding (yg sama jadulnya ama foto wedding papa en mama gue), maka ni bapak pasti udah beruban en kakek².

Okay, tiba2 masuklah si bapak notaris kita tadi, dan *gasp* he's old! Seumuran papa, tapi rambut bagian depannya udah pada putih semua. Ck, kasian.
En *hmmph* bau ketek! Ah, bikin ilfil nih, masa notaris tajir melipir, kantornya guede, kliennya banyak, gak bisa beli parfum mahal?!

Akhirnya tu bapak menandatanganin surat-surat kami, en sambil gitu terlihatlah cincin berlian bling-bling gede di jari manis kanannya. Gede banget tu berlian! Bisa buat beli pabrik parfum, kaliii.. *hmpph*

So, kesimpulan akhirnya, notaris paling tajir pun can't buy style. That bling-bling diamond ring is overrated for a man, that Cartier glasses is too glossy for a man, and *hmmph* he definitely has to hire a fashion stylist, or simply someone to spray him with lotsa expensive parfume.

*dibuat sambil mengernyitkan hidung karena masih terngiang bau keti si bapak*
*HMMPH*

Tuesday, December 13, 2011

Next : Rumah Sendiri

Ah, leganya setelah proses yg lebih dari sebulanan besok bisa resmi KPR, resmi udah boleh pegang kunci rumah brand new kami, en hiks, resmi mesti 'berhutang'. Akhirnya kami punya rumah sendiri. Ah, relieved.

Bukannya aku gak suka tinggal di rumah mama (yg besar kamarnya beda dikit aja ama besar rumah. :D ), tapi ini lebih ke tanggung jawab setelah menikah. Setahun lebih kami 'numpang' ama mama, yah kapan mandirinya. Standar kemandirian, selain pekerjaan tetap, mobil, ya rumah. Pekerjaan Alhamdulillah udah settle, mobil Alhamdulillah udah ada pemberian papa mertua, en this is it, our house. We have to own a house.

Gak nyangka juga bisa ngumpulin uang muka agak banyak, biar cicilan per bulan bisa murah. Ah, ternyata yang bilang punya rumah itu beraaat, belum tau efeknya berhemat. Makan di luar, udah jaraaaang bgt. Nonton, gak sesering dulu. En ini, beli sepatu, aku tahan2in 2 bulan ini gak beli apapun dari online. Semua tabungan full untuk bayar uang muka rumah. En we did it! *salaman*

Semoga, semoga, semoga, setelah rumah ada, baby yg ditunggu² akhirnya akan muncul. For now, we're so excited to fill the house with things we love.

Things that so us.
:)

Monday, December 12, 2011

Sunday with UP

Me and sistah @opehime, wearing Pandora Sailor and Tree Brown.
Haha, she slipped her feet few times. But overall, everything was nice!
Lovely.

Monday, December 5, 2011

Last Week, with Pandora Sailor

Love Pandora Sailor. It's light, perfectly fit, and cute red ribbon completes.

(Shoes : Pandora Sailor by @iwearUP, Jeans : already had it since college, Dress : bought at Pasar Petisah Medan 4 years ago.)

;))))

Saturday, December 3, 2011

One Year One Step

Year 2010. I'm gettin' married.
Year 2011. We're moving to our own house.
Year 2012. I wish we're gonna have kids.

AMIIIIIIIINNN!!

Thursday, December 1, 2011

Diskriminasi Terhadap ODHA is So Last Decade!

Hari ini tanggal 1 Desember 2011. Publik taunya hari ini adalah Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day. Seperti biasa, di twitter akan banyak yang menyampaikan pesan-pesan supaya jangan mendiskriminasikan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), yah walopun pesan ini harus kita ingat setiap hari, tapi pada hari ini sepertinya semua orang punya ingatan cemerlang dan hati yang putih bersih untuk tidak mendiskriminasi.

Jadi ingat, suatu hari aku jadi MC di acara kampus, tentang seminar HIV/AIDS, temanya seputar Stop Diskriminasi Terhadap ODHA. Hari itu tepat 1 Desember. Pembicara ada 3 orang, 1 dokter umum, 2 lagi dari komunitas HIV/AIDS di Medan. Salah satu pembicara, mbak Bebi namanya, menyampaikan materi dengan sangat baik. Badannya kekar bagus, sinar matanya cemerlang, rambutnya panjang, dan intonasi bahasanya baik. Setelah sampai di materi diskriminasi terhadap ODHA, dia bilang "saya ini HIV+" dan satu ruangan langsung sunyi senyap. Pause lama, sampai akhirnya ada salah satu peserta yang bertepuk tangan karena salut terhadap keberanian mbak Bebi buat 'coming out'. Kata mbak Bebi, "saya lebih takut kalian menulari saya kuman. Saya harus punya gunting kuku saya sendiri, saya harus punya tempat makan saya sendiri, karena saya rentan terhadap penularan kuman dari orang lain".

See, mereka lebih takut tertular penyakit dari kita loh, karena sistem imun mereka lemah. Tapi kok ya, yang banyak kejadian malah orang-orang sehat (tidak/belum tau mengidap HIV/tidak) malah menjauhi takut tertular. Kebalik, jek.

Kita bisa dengan gampang menularkan flu dari bersin ke mereka. Flu di kita yang hanya 2-3 hari, di mereka bisa berminggu-minggu. Tau kan, kalo HIV itu gak nular melalui bersin, ciuman, berenang, dan berbagai aktivitas normal lainnya? Belum tau? Lah, katanya manusia modern.. Masa gak tau?

Diskriminasi terhadap ODHA ini yang membuat penderita HIV+ jadi putus harapan. Gak sedikit yang bunuh diri. Hayo, pasti ada yang mikir "mampus lah, rasain akibat perbuatan mereka sendiri". That's super cruel, 'coz I have a story about Aprilia here, seorang anak usia 2 tahun, penderita marasmus, dengan HIV+. Dia meninggal minggu lalu. Apakah salah dia sampai kena' HIV? Think again, dude.

Kalo kamu di satu ruangan dengan 1 orang mabuk dan 1 penderita HIV+. kamu harus pilih duduk di salah satu kursi mereka.. Sebagian dari kamu bakal milih duduk di dekat si pemabuk. Tapi aku, bakal milih duduk dekat penderita HIV+. Jauh lebih tidak berbahaya. Your call, to stop any discrimination.



Wednesday, November 30, 2011

Painless Period

Hari ini aku "dapet". It's painless, and I'm so thankful for that. Mulai hari ini, bakal terapi lagi minum Profertil, Eja juga minum vitamin yang ada zincnya, dan semoga bulan depan bisa langsung hamil. Amiin.

Yang penting udah gak sakit lagi kalo lagi dapet. Alhamdulillah banget. Meskipun ada sedikiiiit rasa kecewa kok ya aku haid lagi, hehehe. *ketok*

Friday, November 25, 2011

Tempat Mengungsi

Oke, jadi hari ini hari ke-2 demo anarkis di Batam. Berita tentang kerusuhan, sebab musababnya bisa dibaca di sini --» http://t.co/QZBXefa2 (via @MetroTV)

Dan karena ini pengalaman pertama gue liat kerusuhan sampai 2 hari, dan makin lama makin destruktif, so mari kita siapkan plan B untuk mengungsi.

Rumah gue di Plamo Garden, Batam Centre. Tadi siang sekitar 500meter dari rumah, pos polisi di simpang Kabil habis dirusak massa. 1 unit DLLAJ dibakar. Padahal ya Tuhan, itu benerin pos polisi muahaaal! Mobil dinas itu, muahaaal! Щ(ºДºЩ)
Gue ama Eja hampir kejebak. 5 menit aja kami lambat jalan, bakal stuck, dan jadi saksi hidup (amit² jabang bayik kalo jd saksi mati) gimana kerusuhan ini.

Soo..plan B adalah, mengungsi ke tempat yang lebih aman. Beberapa alternatif :

• Kepri Mall
Alasannya, karena paling dekat dengan rumah. Berdoa aja semoga bisa lewat Simpang Kabil dengan aman sebelum sampai di Kepri Mall. Kepri Mall ada J.Co, ada Killiney, Resto Sunda, Solaria, dan Ayam Penyet Ria. Jadi, masalah kelaparan teratasi. Baju dan sepatu bisa diambil di Matahari dan di 61. Di sini juga ada Carrefour, siapa tau kurang alat mandi, bisa ambil di sini. Dengan persediaan yang ada di Kepri Mall, bisa lah kami bertahan sebulan di sini. Sayang aja Blitz Megaplex baru bulan depan dibangun. Kalo gak kan bisa nonton-nonton cantik sambil nunggu kerusuhan reda.

• Apartemen Superblok Imperium
Apartemen lantai 18. Kecil kemungkinan perusuh repot-repot naik lift atau tangga demi ngerusuhin kami di lantai 18. Cuma sayangnya, persediaan sembako gak ada karena jarang nginep sini. Tapi enak, bisa berenang dan fitnes dulu di sini biar bugar. Siapa tau harus berjibaku lawan perusuh.

• RS Casa Medika
Lumayan jauh, dan dekat dengan sumber kerusuhan. Eja kerja di sini. Jadi kami ngungsi sekalian nemenin Eja kerja. Gak mungkin dia gak kerja, gimana kami bisa bayar cicilan rumah? Huhu.. Ntar bisa minta kamar pasien VIP tempat kami tinggal. Makanan sehari-hari ya gabung ama pasien. Sedih sih, tapi setidaknya kalo ada luka-luka jadi aman karena udah di RS.

• Pelabuhan Batam Centre
Ide bagus. Cuma jalan ke sana yg maut kali. Di depannya kantor walikota yang udah jadi ajang lempar jumrah para demonstran. Bahaya kaan.. Tapi bagusnya kalo udah di pelabuhan gini, kalo mau kabur gampang. Kabur lewat laut siapa juga yang kurang kerjaan buat ngejar. Ide bagus kaan? Ah, jadi inget bawa paspor pas ntar ngungsi.

Btw, itu tadi beberapa tempat yang bisa dijadiin tempat mengungsi kalau bener terjadi kerusuhan besar-besaran.

Untuk sekarang, aku berlindung aja di balik selimut, di dalam kamar, di dalam rumah, sambil berdoa semoga tentang "Tempat Mengungsi" ini gak kejadiaaan.

Bilang apa?
Bilang AMIIIIIINN!!

Wednesday, November 23, 2011

Things I Can't Change

"Life can never promise us to be always happy, but life gets better after you accept things you can't change"
(Via @ItsLifesQuotes)

Things I can't change.
» Other's mind about me
» The fact I'm not pregnant yet
» Mystery when will God believes that I can be a mother

Pandora Sailor

Pandora Sailor featuring my PDH. This is the lightest @iwearUP shoes ever. But frankly, I don't think wearing it to work seems nice. Pandora Sailor is so playful, great colour, and should be paired with tight blue jeans or colourful dress.

I'll try it next time. ;)

Tuesday, November 22, 2011

Bad Thoughts

This is bad. I can't picture myself anymore being a mom. In my mind, recently, I picture myself as a very busy career woman, driving her car alone, wearing expensive sunglasses, and holding the it-bag. Not as a mom, pushing baby trolley around, and busy to feed the kids.

Do I still have a faith that I can be a mother someday? I really wanna be a mom, have wonderful babies, but..since there's no sign till now, it just makes me..lil' bit hopeless.

Everything must have process in it. Everyone ask me to take it slow. They just don't know that, slowly, I begin to lose faith.

Monday, November 21, 2011

Juara Sepakbola vs Juara Umum SEA GAMES

Bad news, kita kalah di final bola malam ini.
Well, Timnas U23 udah main bagus banget. 2 set, 30menit perpanjangan waktu, dan adu penalti yang sangat menguras mental. Dan akhirnya, kita kalah. Banyak yang sedih, gue juga sedih. Perasaan ini beda banget ama hari Sabtu, pas Indonesia menang 2-0 atas Vietnam. Sepanjang malam jadi senyum terus. Karena kita melaju di final. Nah, ini, Indonesia udah kalah di final sepakbola SEA GAMES. Lawan Malaysia pula.

Seandainya tadi Okto Maniani gak offside..
Seandainya bukan Ferdinand Sinaga sebagai eksekutor terakhir..
Seandainya tadi bola gak terlepas dari tangan Kurniawan Meiga di tendangan penalti terakhir..
Ah, seandainya lawan kita bukan Malaysia..

Oke, daftar 'seandainya' ini masih panjang. Tapi, apakah kita memang mau menghabiskan waktu dengan menyesali? Bukankah jiwa seorang pemenang itu adalah berani menerima kekalahan dan terus berusaha bagaimana bisa menang di pertandingan-pertandingan berikutnya?

Dan bukankah Indonesia sepanjang SEA GAMES 2011 sudah bertanding dengan sangat bagus di semua pertandingan? 150 emas, sodara-sodara. Kita juara umum!! Ini lebih membanggakan daripada menjadi juara sepakbola. Atlit Indonesia sudah berjuang sangat keras sampai di titik ini. Bahkan cabang sepatu roda sudah menyapu bersih semua emas. Betapa bikin bangga!

Tapi tetap saja kenyataan ini gak bisa menghapus raut sedih di wajah para Garuda Muda. Dan kita, para suporter..

Okay, take our time to mourn. Bersedihlah. Menyesallah. Mengutuklah. Menutup akunlah. Bantinglah sesuatu. Tapi jangan lama-lama. Ingat, kita kan gak kalah. Kita kan menang. Liat aja ntar siapa yang bakal dikasih penghargaan juara umum SEA GAMES 2011.

Itu kita, INDONESIA!!
Cheer up! :D

Final Sepakbola SEA GAMES 2011

Malam ini semua mata akan tertuju ke RCTI, sebagai official media partner penyelenggaraan SEA GAMES 2011. Kenapa? Karena final sepakbola akan dilangsungkan malam ini, kira-kira beberapa menit lagi. Lebih istimewa (atau lebih panas lagi? Hehe), final sepakbola malam ini antara negara kita tercinta, Indonesia vs negara tetangga kita yang loved but hated dan hated but loved, Malaysia.

Sejak kemarin, media udah panas aja. Memang, Indonesia bermasalah dengan Malaysia bukan Cuma kali ini aja. TKI, perebutan pulau dan wilayah, pembantaian orangutan, dan sejumlah persoalan lainnya (oh ya, jangan lupa soal Manohara. Hehe..). Bagai tetangga yang saling bersebelahan di satu komplek, yang sering berantem, begitu jugalah Indonesia dan Malaysia ini. Makanya, sebagian besar orang (termasuk saya) berpendapat bahwa malam ini kita harus MENANG! Walaupun juara umum SEA GAMES udah pasti di tangan, tapi seakan kurang lengkap tanpa medali emas dari cabang sepakbola.

Tapi ada hal yang bikin gak enak. Setiap kali lagu kebangsaan negara lain sebelum bertanding dimainkan, para suporter sepakbola Indonesia akan langsung meniup terompet keras-keras, mengejek riuh, ribut, dan siapapun tau kalo ini adalah sikap tidak hormat (bahasa halus dari menghina) negara lain. Ayolah, SEA GAMES ini kan ajang lomba antar negara biar kita makin bersahabat, bukan saling mencemooh. Apa jadinya kalo atlit kita nanti bertanding di luar negeri, lagu kebangsaan kita Indonesia Raya yang selalu kita nyanyikan dengan khidmat, malah diejek negara lain? Bagaimana kalo kita ada di posisi para suporter negara lain itu?

Hormatilah orang lain seperti kita ingin dihormati. Hormatilah lagu kebangsaan negara lain seperti kita ingin lagu kebangsaan kita dihormati.

Selamat bertanding Timnas U23 Indonesia. Kalah-menang, kalian tetap membuat kami bangga.

Thursday, November 17, 2011

Dinas Malam Di Asrama Haji

Sialnya dapat jadwal jaga malam di asrama haji embarkasi Batam. Dari kemaren udah coba menghindar dari dinas malam ini dengan alasan "kenapa sih, bukan yang masih single aja yg jaga? Kenapa sih harus dokter perempuan yang jaga malam? Kenapa bukan yang laki-laki aja, kan dia gak ada ngurus suami bla bla bla.." *ah lu Ka, alesan ngurus suami, padahal tiap hari yang bangun duluan juga Eja*

And crap. Tadi malam jadilah aku dinas malam di sini. Untung ada tempat tidur, lumayan empuk kok. Pasien cuma satu yang harus diobservasi, nenek-nenek, jadi pastilah aman. Jam 11 malam teng, aku udah mulai ambil posisi tidur.

.... zzz...

Tiba-tiba terbangun karena denger ngorok keras banget. Keras kayak ikan paus lagi horny. Bah! Itu ngorok apa jerit? Ternyata itu keluarga si nenek yang ikutan tidur jagain. Woy! Woy! Polusi suara woy!

*nangis*

Sampai Subuh aku gak bisa tidur lagi. -_________-"

Ya begitulah. Mari kita bersiap pulang dan puas-puasin tidur di kamar tercinta.

Sunday, November 13, 2011

Disetujui, Yay!

Setelah 2minggu lalu kami ngajuin KPR rumah ke Bank Mandiri, akhirnya semalam disetujui. Yay!

Artinya, developer bakal ngasih kunci, jadi rumah bisa diukur-ukur dulu. Bisa dikira-kira dulu perabotannya kayak gimana, sebelum bulan depan serah terima rumah.

Woh, this is a very big deal. Selangkah lagi ke hidup mandiri, hidup berdua, membangun keluarga, in our little house.

Kemaren sempet liat barang-barang rumah tangga di Ace Hardware. Sangat tertarik ama bunga palsu yang ada di sana. Semuanya cantik. Gak sabar pengen menghias rumah. Dudududu.. Trus juga suka liat pedestal fan, bentuknya unik, gak bersuara, dinginnya sama kayak AC. Bedanya dia bisa diangkat dan dipindahin.

Ah.
Pokoknya Alhamdulillah banget KPR disetujui, gak ada kendala macem-macem. Tinggal hemat-hemat aja karena sekarang pengeluaran udah makin banyak.

We can do it.
;D

Monday, November 7, 2011

To @faisyalreza

#disclaimer : karena sekarang bukan lagi zaman surat-suratan, pake perangko, amplop love, jadi surat semacam inilah yang bisa dibuat.

To @faisyalreza.

Hi babe,
I can't sleep. I'm hungry, and also I miss u so bad. How's the night shift, honey? I hope u're doing pretty well at ER tonite.

Well, let's take a look at my suddenly insomnia. Maybe I miss ur soft snoring. Lil' bit annoying at first, but see, I can't sleep without that voice. That voice, reminds me that u'll still there beside me.

Do u know why I often hold your hands while sleeping? That's because I'm afraid of bad dreams. Somehow it calms me down. I don't need to be hugged when I sleep, but by touching your hand, I know you're there.

We've been talked a lot today. Some topics like having child, religion, dreams, belief, and I'm still amazed how you could be so patient listening to my unstoppable talking. Hahaha. U're a very good listener, darling. And I'm afraid many women out there found this kindness on you. I know u're not that heartless to reject their requests.

Oh I remember one time when we were still at college, there's one friend of mine who always need ur help. More than I do. I hate that. I told u about this, and voila, you can reject any requests like to take her home, to borrow ur notes, etc of that 'oh so childish but not' woman. *evil grin*

We've been grown up together, for six years. U're more like me, and I'm more like you. We're influencing each other. You make me balance. They said I'm lucky. Yeah, I'm that lucky bitch. Whom u love so much. *read ur blog and twitter profile* *giggle*

I say this everyday, and I'm gonna say it again now, I love you, I really do. My feeling is getting bigger and bigger all these years. We're gonna build our home, our family, and maybe our empire together. Make me ur partner. Show me the way, I'll follow. When u're in doubt, I'm here. Talk to me. When I need a shoulder to cry on, u're there. Calm me down when I lose faith. And I'll hold ur back, anytime u want me to.

Even if everyone in this world told me that u're lying, I will still trust you.

Good nite babe, miss u still. *kiss kiss*

-@fairuzalaily-

Saturday, November 5, 2011

"I'm Normal, I'm Sane!!"

Pagi ini chat dengan Kak Wulan (@wulskie). Dia senior aku di FK, sekarang lagi ppds anastesi.

We've never had any chat before in college, just said hi there, so this is the first time we actually did a long conversation.

Banyak kata-kata dia di sini yang bisa bikin aku kayak nyadar, terutama setelah aku ngeluh kenapa ini belum hamil juga. Kata dia "Ini ujian dr allah,kita berserah aja sama Allah.."
Pas aku bilang kalo aku ini anomali krn belum hamil juga, dia langsung protes, "Kok anomali,yg anomali itukan kalo punya anak pdhl blom merit..Ihihihihihi,yaa kun?"

Aku bilang, keinginan punya anak ini udah hampir obsesi. Dan dia berkali-kali ingetin tentang ini.
"Kalo ntar dah sampe jd obsessed,gak ada nikmatnya lg loo.. Lagian,nafsu & ambisi yg belebih itu kawannya setan..
Nikmati aja ik,gak ada yg perlu diburu.. Waktu gak bs dibeli kembali,jd jgn buang waktu dgn bersedih.. Itu aja,selebihnya tinggal masalah waktu,nikmati aja proses menunggu rejeki ini.. Biar kalo dah dpt rejekinya,kita akan jd sgt amat menghargainya.."

Kata dia, obsesi dan nafsu itu yang bakal bikin kita rusak, bikin orang-orang sekitar kita rusak. Yang ada nanti kita bakal ditinggalkan sendirian. And I don't want that to happen.

Trus, waktu aku bilang aku ini emang gak normal kayak wanita lain, she said "Ahahahaha,don't ever use the word 'normal' again please.. Just bcoz u don't have baby (yet),doesn't mean you're not normal.. Puhleaseee,jgn selebay itu akh ik.. Jgn merendahkan diri sendiri,gak bagus ik bwt kesehatan jiwamu.."

Apakah iya selama ini aku udah misjudge terhadap diri sendiri? Ngata2in diri sendiri gak normal. Ngata2in diri sendiri gak waras, karena ada Eja yang waras.

And kak Ulan juga bilang gitu, "Iyah,keknya ika suka merendahkan diri yaa..Normal,waras.. Pola pikir itu yg salah,itu yg tertanam & merusak.. Self destructive deh ika ini,pesimis & negatif!"

Geez, she slapped me with her words. She's damn rite. I'm doing self destructive right now with my silly mind. I let my negativity control my mind. And that's sucks.

Belum hamil, bukan berarti aku anomali, bukan berarti aku gak normal. Dan aku masih waras untuk berfikir jernih. Fokus ke yang sudah ada, mensyukuri nikmat yang sudah ada, bukan meratapi kenapa aku belum punya anak. Itu di luar kuasa kita. Di luar kuasa aku.

From now on, I have to plant it in my mind that I'm Normal, I'm Sane.
I'm Normal, I'm Sane.
I'm Normal, I'm Sane.

I'M NORMAL, I'M SANE!!!!
I'M NORMAL, IK

Monday, October 31, 2011

Get Out, Negativity!

I can't help but thinking about the happy faces of pregnant women out there, especially my friends while I'm here, holding my stomach, struggling to wake up from bed without being hurt. And failed.

Still thinking this is so unfair.

But..ah.

Oh please, get out u, negativity!

Penyakit Hilang, tapi Kesakitan Datang.

Bukan bermaksud ngeluh atau apa. Tapi cuma pengen share buat mereka yang mau dilaparoskopi. Laparoskopi ini bukan ilmu baru sih, tapi teknik operasi yang gak semua dokter bisa. Terutama karena untuk menggunakan alat laparoskopi ahli-ahli harus sekolah lagi.

Anyway, I'm not gonna talk about how laparoscopic procedure being done, or what medicine should we take before doing so, u just can simply google it. But, I'll tell u about laparoscopy by my point of view as a patient.

Setelah 1 minggu sebelumnya aku kesakitan sampai menggigil pas haid, akhirnya Kamis, 27 Okt, aku periksa lagi ke papa. Rencana papa buat laparotomi ternyata gak jadi, karena ngeliat ukuran kista yang kecil. Gak sebanding ama resikonya. Akhirnya papa hubungin temennya di Medan, dr. Ichwanul Adenin, SpOG, dan direncanakan untuk laparoskopi terapeutik di hari Sabtu di RS Stella Maris.

Sabtu, tanggal 29 Oktober 2011 ( 2 hari lalu), aku dilaparoskopi dengan diagnosis kista endometriosis 2cm, dengan sangkaan perlengketan tuba falopii. Operasi jam 1 siang. Dari jam 7 pagi aku udah puasa gak makan apa-apa lagi. Stres cuma sedikit, tapi segera hilang karena aku percaya aku bisa sembuh. Jam 12lewat aku diantar ke ruang operasi. Sampai di ruang operasi, aku dipasang alat-alat yang terhubung ke monitor. Sialnya karena aku gak bawa kacamata (emang gak boleh juga), aku gak bisa ngeliat monitor. That room, was the coldest room ever, it's beyond freezing. Kuku jadi biru, aku jadi ngeri. Aku minta ama perawat di sana kain untuk nutupin tangan en jari-jari aku.

Dokter anastesi datang, beliau ngajak aku ngobrol, orangnya baik banget, tapi aku gak kenal. Belakangan aku tau kalo namanya dr.Samsul, SpAn. Duh, gak sempet bilang makasih. Awalnya aku mau anastesi GA (general anasthesia/bius total) aja, karena takut sakit kalo di Spinal. Tapi dia berhasil yakinin aku buat Spinal aja. Akhirnya aku nurut, walopun stres karena udah kebayang bakal sakit banget. Ternyata ENGGAK SAKIT loh! Hebat! Aku langsung lega bangeet. Kaki mulai hangat, kebas, dan mati rasa. Kaki jadi gak bisa diangkat, dan aku sempet ngeri. Separoh badan jadinya mati rasa. Aku sempet terasa waktu mereka tarok alat-alat di badan, en waktu mereka ngarahkan kaki aku biar terbuka bener. Setelah itu..aku gak ingat apa-apa lagi.

Pas bangun, yang aku rasa cuma kesakitan banget di perut. Aku raba perut ada 4 plester di tempat berbeda. Aku inget yang pertama kali aku bilang ke perawat yang ada di sana itu "aduh sakit kali, mana analgetiknya?". Hahaha. Memang nyeri itu bisa bikin kita bangun ya. Setelah aku sadar gitu, langsung perawat lain bawa aku keluar ruangan, en disambut ama perawat dari ruang rawatan. Di luar udah ada Eja, mama, en yang lain nungguin aku. Tapi yang aku bilang cuma.."aduh,,sakit kali ini, Ika mau analgetiknya". Trus, aku coba ngumpulin sisa-sisa kesadaran, dan tetep nanyain mana ini penghilang nyerinya. Rasanya sangat sesak, karena memang laparoskopi itu akan memasukkan udara ke perut kita, untuk memperluas lapangan pandang operasi. Jadi sebagian udara masih ada di perut rasanya. Setiap gerak, perut seperti ketarik, dan itu sakiiiit banget.

Malamnya aku belum bisa kencing, akhirnya dipake kateter lepas. 4jam kemudian baru bisa pipis sendiri, tapi nyeri. Dari malam sampai pagi, aku pipis per 2jam. Kasian Eja harus dibangunin trus karena mesti ngantarin aku ke kamar mandi sambil pegang infus. Setiap pipis pasti nyeri. Pasti aku kena' ISK (Infeksi Saluran Kemih) nih. Bener aja, besoknya aku demam tinggi.

Oke, jadi penyakitnya hilang, kesakitannya datang. Nyeri post OP ini emang sakit banget. Mirip ama nyeri waktu dulu aku habis operasi usus buntu, tapi kali ini dengan 4 luka di 4 tempat berbeda.

Apapun itu, aku bersyukur karena kista berhasil diangkat, en tuba aku udah gak ada perlengketan lagi. Coba kalo kemaren haid gak nyeri banget, pasti aku gak bakal peduliin. Dan bisa aja ini penyakit makin luas dan parah. Kata dokternya, aku bisa hamil spontan / alamiah kok, karena tubanya udah bagus sekarang, kistanya udah gak ada lagi. Semoga iya, amiiiin.

*notes
•RS Stella Maris adalah RS pertama di Medan yang ada IVF (bayi tabung) programnya. RS ini khusus untuk ibu&anak, dan kalo mau melahirkan di sini harus pesan 1 bulan sebelumnya. Pelayanannya bagus. Perawatnya juga ramah dan cantik-cantik. Yang melahirkan di sana banyak. Selama aku di sana aja, udah ada sekitar 20 bayi yang seliweran dibawa ke tempat ibunya dirawat. So, bayangin aja gimana perasaan aku pas pulang RS, tapi gak bawa bayi. Yang liat juga pada heran. Karena pasien lain pulang sambil gendong bayinya.

•Biaya laparoskopi itu mahal. Dan aku diuntungkan karena aku dokter, dan yang ngoperasi juga temen papa, akhirnya biaya dokter gratis. Tapi biaya laparoskopinya enggak sih.. RS ini emang mahal. Sebagai ilustrasi, untuk SC aja, dengan kamar VIP, bisa total 20juta. Apalagi ini laparoskopi. Berbahagialah mereka yang gak harus sakit.

• Selama aku terbaring kesakitan gini, sampai sekarang, yang kebayang ama aku adalah wajah teman-teman lain yang bisa hamil dengan gampangnya. Bahkan ada yang keguguran, trus segera hamil lagi. Aku langsung sakit hati. Mereka nasibnya bagus, gak sakit, en gak kesakitan kayak aku. Dan di ujung dari sakit hati itu, tersisa pertanyaan "kenapa aku, ya Tuhan?" Tapi ada yang bilang bahwa sakit itu adalah ujian, juga ada yang bilang sakit itu adalah anugerah, biar kita bisa selalu bersyukur. Aku sangat bersyukur keluarga aku baik, mertua baik, sangat suportif, sangat peduli, dan gak nyalahin aku yang punya penyakit gini. Belum tentu juga mereka yang punya anak itu juga dikasih keluarga en mertua yang baik banget gini..

• Semoga masa penyembuhan ini bisa cepet. Biar aku bisa aktivitas kayak biasa lagi. Sekarang jalan masih susah, tidur gak nyenyak karena takut digerakin jadi sakit, makan juga belum selera. Semoga bisa cepet sembuh. Semangat, Ika!

Sunday, October 30, 2011

Post OP

Cuma mau bilang, kalo nyeri post OP adalah nyeri paling kurang ajar. Miring kiri sakit, miring kanan sakit, telentang tambah sakit.

Tapi Alhamdulillah kistanya bisa diangkat semua. Semoga penyembuhannya cepet ya. Gak tahan banget perut kembung en luka masih nyeri gini.

Semoga habis ini aku sembuh total. En bisa segera hamil.
Amiiin..

Thursday, October 27, 2011

Me and UP shoes! :))

I LOVE UP SHOES!


Pertama kali tau tentang UP dari blog dianarikasari. Jadi sepatu ini emang hasil kreativitas mbak Diana dan tim, dan 100% made in Indonesia. Jadi pengen punya. Akhirnya beli satu, beli satu lagi, dan beli beli lagi. Yuk liat.

Stella Black. Ini sepatu UP pertama yang aku punya. Waktu itu pesan no.39, tapi kebesaran. Hehehe.. Pas make sepatu ini, temen-temen kantor pada muji karena sepatunya gak pasaran. Gak ada di mall. Yes! Seneng!

ps. Stella cocok untuk yang kakinya melebar ke samping, tapi gak gendut. Tingginya 9cm, tapi gak bikin capek jalan. Oya, 1 bulan setelah make Stella yang ini, tiba-tiba tapaknya rusak. Langsung diganti ama UP lagi loh, dengan ukuran yang sama. Double happiness!

*me wearing Stella Black from UP*

*my 2nd Stella Black. Yang pertama rusak, dan langsung diganti ama UP. Yayyy!*


Nina Denim. Sepatu UP kedua. Pengen sepatu yang bisa dipake kerja, jadilah beli Nina Denim karena ada coklatnya, sesuai ama PDH yang coklat juga. Waah, pas make ini ke kantor, juga dipuji. Hahaha! tambah pede jaya pokoknya.

ps. Nina Denim pas buat dipake ke kantor. Tidak terlalu terbuka, dan enteng.

*me and Nina Denim. Pas banget kalo pake jeans biru. TOP!*


*me wearing Nina Denim. Cocok juga untuk sore santai dengan baju terusan floral kayak gini*


Stella Beige. Setelah sebelumnya Stella hanya ada 3 warna, item, coklat dan merah, akhirnya muncul beberapa Stella warna baru, salah satunya Beige. Sangat tergiur! hahaha.. Akhirnya beli, ukuran 38 donk (gak salah lagi), dan voila, cantik di kaki!

ps. Stella Beige bagusnya dipadukan ama tas warna serupa. Untungnya beberapa hari setelah punya Stella beige, aku dapat hadiah dari mahasiswa bimbingan. Tebak apa? Yup, tas cantik warna beige juga. Asiiik!


Tree Brown. Ini produk baru UP, dan aku memang pengen warna coklat lagi biar bisa dipake kerja. Agak susah pas dipake karena tali depannya hanya 1, tapi ternyata bagus kalo udah diliat dari jauh. Banyak juga temen kantor yang nanya, ini beli dimana. Walopun mereka pasti tau, sama kayak sepatu aku yang lain, ini beli di UP. Woh!

ps. Tree Brown gak cocok buat mereka yang kakinya lebar. Tapi ah, kalo emang suka modelnya, cuek ajalah. Sepatu UP pasti bagus en nyaman di kaki kok. ;))

* me wearing Tree Brown. Cocok kalo mau terlihat feminin, karena kaki jadi terekspos.*

* ternyata Tree Brown juga bagus kalo dipaduin ama jeans. Baju yang cerah en rame jadi dinetralkan ama warna Tree Brown yang calming. cantik!*

Sekarang lagi nunggu Pandora Sailor datang nih. 14 hari lagi yaaaa.. Can't wait! :))))


If U're Sick, Still, be Thankful

Like yesterdays, I opened twitter this morning. There was one tweet from @psychoblack: "Kadang, Tuhan menjawab doa kita di saat kita sampai pada titik pasrah dan tidak lagi mencoba melawan." Suddenly it strikes my head.

Yeah, I admit, I try to fight God all these times. I ask God why, think this is unfair, and I don't deserve this. But, in the end, I have to ask myself, Who Am I? And the answer is so obvious, I'm just an ordinary human being. I can't create my own destiny without God's will.

Pasrah dan tidak lagi melawan. Maybe that's what I need right now.

Tuesday, October 25, 2011

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Mereka bilang, "sabar Ikaa..semua akan indah pada waktunya.."

Dan aku akan otomatis balas, "tapi kapan?" -dalam hati.

This Close To Depression?

Just read few of my writings in this blog. Usually i write using my blackberry right after i'm feeling hurt the most. So, most of 'em are about dissapointment. From here, we can see, of course it's too obvious that, i'm this close to depression.

Am I?

Or,
i seldom being thankful for the gifts i got yesterday and today. Yeah, it's my bad.

:(

Monday, October 24, 2011

Hiding Tears Is Tiring


Menahan en nyembunyiin tangisan itu pekerjaan paling berat yang pernah aku lakuin dalam hidup. Kadang aku pengen terbangun, langsung aja di pagi ketika aku udah punya anak, biar aku gak usah ngerasain proses yang menyakitkan kayak gini. Kadang aku pengen fast forward ke beberapa tahun ke depan, biar semua kesedihan en kekecewaan ini gak sempet aku rasain.

Aku baru dapat kabar secara gak sengaja kalo salah seorang teman, yang juga udah 1thn lebih ini pengen punya anak, udah hamil dia. Bahkan aku gak bisa lagi nangis. Di saat aku lagi takut setengah mati ngeliat operasi yang udah di depan mata, aku malah dapat kabar kayak gini. Bener, aku terpukul banget.

Sebelum aku dapat jawaban dari Tuhan kenapa aku yang harus dapat cobaan kayak gini, aku gak bakalan bisa terima. Aku bakalan terus nangis, terus mengutuk diri sendiri, terus bilang "aku gak minta dilahirkan dengan kondisi begini, ya Tuhan..".

Aku takut semua usaha ini sia-sia aja. Obat, makan hormon, en sekarang operasi, aku takut semua hanya suatu proses menyakitkan tanpa hasil. Seandainya aja aku punya kekuatan buat menghilangkan penyakit ini, membuat hidup aku jadi normal seperti perempuan2 lain, menikah, punya anak, punya cucu, meninggal dengan damai. Tapi, aku harus ngerasain terluka, terpukul, en kecewa berkali-kali karena berita baik selalu menjadi milik orang lain, bukan aku. Kenapa aku yang harus ngelewatin semua proses nyakitin ini?

Hiding tears is still my toughest job so far. I have to hide it from my family and friends. I want them to see me as a tough person. That I can conquer every obstacles ahead. But deep down inside, my heart has broken to pieces, my layer of hopes become thinner and thinner along with the hurtful days we have to deal with. I don't know until when I can hide my tears like this.

Hh, I'm tired.

Saturday, October 22, 2011

Selasa, Operasi?

Mmm,, setelah diliat jadwal Eja, akhirnya diputuskan operasi hari Selasa aja. Anehnya aku gak takut. Aku ngerasa nothing to lose aja. Kalo memang begini maunya Allah, begini jalan penuh susah aku ama Eja, kami ikhlas jalanin. Perawatan pasca operasi itu yang paling aku takutin. Sakit, nyeri, gak bisa jalan, gak bisa makan, obat segudang, infus yang sakit, aaargh, jujur aku takut. Tapi, apapun itu, aku coba sabar. Aku lakuin aja. Sampai di titik kami gak sanggup lagi.

Sampai kami gak sanggup berusaha lagi.

Bloody Hell Period

Setelah 3 minggu berharap, akhirnya hari ini aku harus kembali kecewa. Menstruasi yang udah telat 3 minggu, hari ini datang dan sangat sakiiiit. Akhirnya aku setuju untuk dioperasi, karena gak kuat nahan sakitnya.

Obat penghilang nyeri udah 3 macam. Analsik, gak mempan. Katesse, gak mempan. Katesse gabung ama Cataflam barulah agak lumayan. Walopun aku masih belum bisa tidur. Gak pernah aku senyeri ini kalo haid, ini udah di luar nyeri yang bisa aku tanggung. Gak akan kuat kalo nyeri kayak gini datang tiap bulan.

Btw, Rencananya operasi Selasa/Rabu, papa aja yang jadi operatornya. Aku nolak rencana semula ke Medan buat laparoskopi. Aku gak mau naik pesawat. Aku pengen di Batam aja, papa yang ngeoperasi. Selesai operasi langsung pulang ke rumah bisa bedrest. Daripada di Medan harus pulang naik pesawat.

Semoga setelah operasi ini, haid jadi teratur, dan bisa segera punya anak.

Tuhan, Kau minta hamba-Mu untuk berusaha tanpa henti. Inilah usaha kami. Kali ini izinkanlah usaha kami membuahkan hasil.

Amiin.

Friday, October 21, 2011

Bersikap Profesional

Hari ini kami ada pertemuan sesama CPNS. Aku yang baru pulang pelatihan gak tau masalah, tiba-tiba diajak kumpul. Ya ayok aja sih.

Ada beberapa yang dibahas. Terutama tentang sikap, etika, bla bla bla bla, yg ribeeet banget. Sebagai orang yang menjunjung tinggi profesionalisme, pesan aku cuma sedikit aja buat mereka "jangan terlibat secara emosional, dan selalu bersikap profesional"

Tau gak apa yang paling bikin orang yg sirik ama kita tuh, jd kesel banget? Jawabannya, kalo dia liat kita tetap senyum ramah baik-baik aja, walopun dia udah nunggang nungging ngomongin jelek-jelek tentang kita.

That's what I did all the time. Aku tau mereka habis ngomongin jelek tentang aku, aku sakit hati juga. Tapi di depan mereka aku tetap ramah, tetap senyum, tetap tanggapin. Gak akan pernah sedikitpun aku kasih mereka kepuasan karena udah jahat ama aku. Mereka ngomong jahat ke aku, aku ketawain. Aku bilang Alhamdulillah. Hahaha.

So, itu yang aku bilang ke mereka. Hak kita buat marah, capek, kesel, malas, bosan, en pengen istirahat. Hak mereka juga untuk kasih komentar jelek, ngomongin di belakang, biarin. Selama mereka gak nyentuh kita, gak jambak rambut kita, gak ngelempar kita pake sepatu, cuekin aja. Ketawain aja. Kalo kita terpancing, ikutan marah, mereka bakal puas.

Ada orang-orang yang memang hidup dari konflik. Adrenalin terpacu kalo udah berhasil ngomporin orang lain. Orang-orang kayak gini didengerin aja pake kuping kanan, tapi habis itu keluarin lagi dari kuping kiri. Habis energi, waktu, en mood jadi jelek kalo semua hal terlalu dimasukin ke hati.

Bukan muna', dulu aku resign dari 3 tempat kerja karena ngerasa kesal ama pasien yang demanding banget. Itu karena aku terlalu terlibat secara emosional. Sejak itu aku belajar untuk menebalkan hati, membiasakan diri belajar profesional. Orang akan lebih suka pada mereka yang bisa manajemen konflik, dibanding orang reaktif, yang marah dulu baru mikir.

So, that's what happen today. Still, tomorrow I'll give them my best smile. It will hurt them most. Trust me.

Thursday, October 20, 2011

Hari Paling Ironis

Setiap melihat orang yang berkali-kali hamil, hati selalu menjerit "KAPAN GILIRAN AKU?"

Kemarin ada pasien yang sengaja 'bunuh' janinnya dengan menaruh obat-obatan tertentu ke vagina. Pas bayinya 'dilahirkan' ternyata perempuan, badannya udah terbentuk, tangannya keciiiil sekali, kakinya keciiil, matanya terbuka, menatap kosong, seakan dia bingung, 'kenapa aku dibunuh mama?'.

Hiks.

Hari paling ironis sepanjang hidup aku.

Di sini, aku berdiri di sebelah bayi yang dibunuhnya, sangat mengharapkan anak, terutama anak perempuan, tapi belum juga bisa terwujud.

Sedangkan di sana, dia, di kehamilan ke-6nya, malah 'membunuh' janinnya sendiri, dengan sadar, dengan kejamnya, dengan teganya. Coba sedetik aja dia mau mikirin betapa banyak ibu di luar sana yang bahkan rela mati, rela miskin, demi mendapatkan anak. Coba sedetik aja dia mau mensyukuri rezeki yang dipercayakan Tuhan ke dia, di saat kami yang masih berjuang, belum dipercaya Tuhan untuk merawat anak.

The most ironic time in my life.

Sunday, October 16, 2011

Letter To God

God, I'll make it short.

I will revise my wish. I don't need cutest child. I only need a child, a healthy one, I don't care whether it's a boy or a girl, as long as he/she comes from my womb.

For now God, I only wanna feel like a normal woman. Getting pregnant.

Please God.
Please.

Wednesday, October 12, 2011

Perjuangan Punya Rumah

Dulu, rencana punya rumah masih jauh dari pikiran kami. Kata papa, setelah mapan, baru boleh pindah dari rumah papa mama. Mapan kalo menurut aku, ada anak, cukup kerja, gaji banyak. Setahun, setahun setengah, anak yang ditunggu-tunggu gak ada juga. So, agaknya kami gak bisa lagi jadikan punya anak sebagai patokan kemapanan. Saat itulah kami berencana beli rumah.

Properti di Batam itu muahaaal! Kalo kita mau di daerah agak pinggir, mungkin bisa yang lebih terjangkau, tapi rawan banjir. So, dibela-belain beli rumah nantinya di kawasan agak baik dan yang pasti bebas banjir.

Sampai akhirnya aku liat iklan di koran tentang penjualan rumah di salah satu perumahan. Ajak mama, papa, en Eja buat survey ke sana, ternyata rumah yang dimaksud terlalu kecil dan adanya di jalan buntu. So, gak jadi. Kami pun muter-muterin perumahan itu, dan tiba-tiba kepentok ama cluster di bagian depan. Eh, masih ada yang baru dibangun ternyata. Oleh pak satpam di situ kami dikasih nomor kontak marketingnya.

2hari kemudian aku ama mama ke sana. Sekali liat tempatnya, langsung suka. Udah oke banget. Akhirnya bayar tanda jadi.

Sekarang rumahnya masih dibangun. Uang muka masih dicicil dan sisanya bakal pake KPR. Setiap 1minggu sekali pasti aku en Eja ke sana, sekadar melihat rumah itu, calon rumah kami. Kecil dibanding rumah mama, tapi yang penting muat untuk kami tinggali.

Aduh, ada perasaan hangat tiap kali membayangkan nantinya kami akan hidup berdua, gak di rumah mama lagi. Mungkin aku akan sangat repot, tapi setidaknya bisa mengatur rumah tangga sendiri.

Semoga setelah ini, setelah rumah kami tempati Januari nanti, anak yang ditunggu-tunggu bakal datang. Karena kami makin siap sekarang.

Amiin.

Tuesday, October 11, 2011

#fiksi: The Big Day

"Hi, how are you?"

"I'm fine. Thanks."

*jeda* "Well, tomorrow is your big day."

"Iya"

*hening* "Semoga dia bisa menyiapkan kopi kesukaanmu yang tidak terlalu manis. Semoga dia tidak lupa melipat selimut sebelum tidur, dengan lipatan ke arah luar. Semoga dia sabar menghadapi sifat bawel kamu tentang kerapian. Semoga dia bisa membahagiakanmu."

*sigh* "Aku..aku masih berharap namamu yang ada di undangan ini, bukan namanya"

"Kamu bisa bilang itu ke anakmu kelak. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang baik. Ajarkan dia untuk tidak menyakiti hati orang lain"

"Ini..undangan untukmu"

"Terima kasih. Selamat menempuh hidup baru"

Si wanita mengakhiri kalimatnya dengan tetesan air mata. Rambut panjangnya tergerai saat dia menunduk tidak mampu menahan tangisan. Pelan ia mengelus perutnya yang membuncit. Anak mereka.

Monday, October 10, 2011

Ironic. Yeah.

It's ironic no. 1. U're a certified IUD and implant doctor, u teach people to postpone, but u're still struggling to have kids.

It's ironic no.2. U have zero experience in pregnancy and delivery. But, in the next 10days u'll be a certified APN (Asuhan Persalinan Normal) doctor.

Now u imagine how does it feel.

Obsesi Saat Hujan

Akibat pengaruh komik Jepang yang udah aku konsumsi sejak masih umur 10 tahun, suatu saat aku berkhayal bakal ditembak cowok di tengah hujan deras. Pasti sangat romantis. Pada masa itu aku belum kepikiran kalo hujan deras bikin kita menggigil dan suara jadi gemelutuk kedinginan. Juga aku lupa fakta kalo hujan deras bikin rambut kriyep-kriyep, gak ada manis-manisnya sama sekali. Yah maklumlah, anak remaja cuma kepikiran hujan itu sangat romantis.

Setelah komik, muncullah film-film yang bikin aku makin pengen ditembak pas hujan deras. Kebetulan film-film remaja masa aku SMA semuanya ada adegan basah-basahan di tengah hujan. Belum lagi film India yang adegan nari pas hujan termasuk salah satu adegan wajib ada, selain nyanyi kelilingin pohon, dan adegan loncat dari kereta api langsung ke mobil yang hebat banget. Duh, makin pengen deh ditembak, ditanya "mau gak jadi pacar aku" di tengah hujan deras. Pokoknya jadi obsesi banget deh.

Apakah akhirnya aku jadi ditembak cowok di tengah hujan deras?

Oh, tidak.

Tapi aku ditembak cowok pas lagi main ice skating, persis seperti adegan di serial Korea Full House. Sangat romantis juga lho. Asap-asap es, dingin, wuidih, romantis banget.
Btw, ni cowok yang nembak aku, 5 tahun kemudian jadi suami.

Eh, aku lupa bilang ya, pas jaman kuliah dan sering nonton Full House, jadi bikin aku pengen ditembak cowok pas lagi main ice skating?

Mission accomplished.

Sunday, October 9, 2011

Interviewing Ika

Hi Ika. Selamat malam. Bisa minta waktunya sebentar? Ini ada sedikit pertanyaan. Ada beberapa sih. Kita mulai langsung ya.

Apa sih hadiah paling berkesan dari..
1. Dari Papa?
"Sepatu 2 pasang. Pas aku umur 6 tahun. Papa bilang aku dibeliin dua karena papa sayang aku. Ah, udah lupa sepatunya warna apa aja, yang masih inget tuh perasaan senengnya."

2. Dari Mama?
"Mmm..agak lupa-lupa ingat. Tapi kayaknya AC deh waktu aku ulang tahun ke-15. Jadinya gak panas kalo pulang sekolah. Langsung klik, jadi dingin. Walopun mama jadi tambah sering ngomel karena listrik jadi mahal. "

3. Dari Adek-adek?
"Mereka curang. Padahal bertiga, tapi kadonya selalu satu. Hahaha. Tahun ini mereka patungan beliin sepatu yang udah lama aku pengenin."

4. Dari Teman-teman?
"Tahun ini sih, mereka gak ada ngasih hadiah barang gitu. Cuma mereka doain aku, supaya cepat jadi ibu. Karena kata mereka umur 25tahun itu paling pas buat jadi ibu. Langsung aku amiiin yarabbalalamiin-kan bangeet."

5. Dari Eja?
"Paling berkesan hadiah ulang tahun yang ke-25 ini. Karena kadonya dia beli pake uang hasil kerja sendiri. Yes. Tapi sebenarnya..gak usah dikasih hadiah barang juga aku udah seneng. Selama ini dia udah jadi suami yang baik banget. Bahkan untuk pertanyaan bodoh aku semacam "kenapa bukan Ika yang hamil, kenapa orang lain?" yang bakal dia jawab dengan "Ika..rezeki orang beda-beda. Mungkin Ika dikasih rezeki di tempat lain, belum di anak". Just being that nice and loving me that much, even in my silliest moment, is just priceless.

6. Dari Diri sendiri?
"Ahahaha. Suka deh ama pertanyaan ini. Aku ngasih diri sendiri hadiah kedewasaan. Stop denial. Mulai menerima bahwa kita ini hanya manusia, harusnya pasrah, tapi terus berusaha. Bukan malah menantang Tuhan, dengan sikap marah aku selama ini.
7. Dari Tuhan?
"Ah, Tuhan sudah mengizinkan aku hidup sampai hari ini itu aja udah jadi hadiah paling berharga. Dikasih keluarga yang baik, suami yang sayang, pekerjaan yang lumayan, dan aku yang harus menoyor kepala sendiri karena malah tidak bersyukur. Tapi bukan manusia namanya kalo gak minta lebih. Tahun ini aku mau hadiahnya anak, ya Tuhan.. Boleh ya, Tuhan?"

Oke Ika. Terimakasih untuk waktunya ya. Silahkan kembali beraktivitas.

Saturday, October 8, 2011

#fiksi : Jendela Jeruji Besi

Ini saat favoritnya. Melihat ke luar, ke arah jendela yang dengan senang hati menampung titik-titik air hujan. Sambil menyesap teh hangat yang baru saja diseduh, dia ambil kursi. Memandang jauh ke luar jendela. Hmmm, hujan gerimis ini cantik sekali, pikirnya. Sekilas dia menyapu pandangan ke pohon pinus di ujung sana. Ah, mereka pasti bersukaria setelah sekian lama kehausan. Setelah ini pasti mereka akan tumbuh besar, rindang, dan membuat orang lain bahagia cukup dengan melihat indahnya mereka.

Dia mulai merasa kedinginan. Sambil mengeratkan pelukan tangan ke badan, berharap akan mendapat sedikit kehangatan. Seandainya saat seperti ini ada orang yang memakaikan selimut, pasti aku akan bahagia sekali, kembali batinnya berbicara. Tapi siapakah kita ini yang bisa menentukan nasib, kita hanya bisa pasrah. Sekian lama dia berada di sana, baru sekarang rasa damai itu datang. Rasa marah pada Tuhan, marah pada keadaan, berganti menjadi rasa syukur untuk hidup yang pernah dicecapi. Kadang pahit, tetapi dia masih bisa mengingat saat-saat bahagia, saat tawanya masih lebar. Kenangan itu yang membuat dia masih bisa bertahan untuk terus meneruskan hidup ini. Biarkanlah Tuhan yang menentukan hidupnya, kita manusia hanya bisa pasrah.

Ya Tuhan, dingin sekali ini, akhirnya dia bergumam sendiri. Ah, sudah lama dia tidak menyebut nama Tuhan. Saat paling putus asa, dia hampir tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Tetapi hari ini beda, Tuhan rasanya dekat sekali. Tuhan sayang sama saya, yakinnya berkali-kali. Ini memang sudah jalannya dari Tuhan. Saya pasrah ya Tuhan, gumamnya di sela-sela doa.

"Utari Kirana!!"
Ah! Dia tersentak kaget. Lalu 2 orang wanita menghampiri, salah seorang dari mereka membawa map. Mereka juga diikuti oleh 2 orang pria lain yang berseragam polisi.
"Apakah benar Anda bernama Utari Kirana?"
Dia menelan ludah sebelum menjawab. "Iya, benar."
"Anda didakwa atas pasal pembunuhan berencana atas suami Anda sendiri pada tanggal 7 Oktober 2005. Untuk itu Anda dikenakan hukuman mati. Ada permintaan terakhir?"

Seulas senyum menghiasi bibirnya. Matanya memandang jauh ke balik jeruji besi, ke arah jendela, dengan titik-titik hujan cantik.
"Saya ingin berada di luar sana", tunjuknya sambil menunjuk ke arah jendela. "Saya ingin merasakan hujan", sambungnya lagi.

Kedua wanita itu saling berpandangan.

Friday, October 7, 2011

Hey, kiddo..

Hey kiddo,
I wish one day I could tell you all of these words. By making a message for you, even tough you're not coming yet, makes my heart blows in happiness. That I do still have a chance to have u one day.

Hey kiddo, there's something I need to talk to you.
I know it's too early, but when you're here, and I'm sure one day you will, please respect us, your parents.
You have no idea how much efforts and tears we shed for having you. You don't wanna know the nights I spent crying alone in my bed, while holding my negative test packs. You'll be sad knowing that I almost giving up to have you. I blamed your future dad, even I blamed God for making me suffer like this.

No, don't get me wrong kiddo, I do love your future dad so much. I won't giving up our marriage. You know what, either you believe it or not, we, I mean me and your future dad, we've talked about this, about what if we can't have kids, what if in the end there will be only two of us, looong ago before I said "I do" to him. But can't believe it, we're facing it now. Really can't believe it.

Hey, kiddo..
By the time I wrote this letter to you, I'm still struggling to make peace with myself. I'm calming my self down. I have to change. I can't be like a soda water, easily to explode. Maybe you're asking why. Because I have to reject all the negativity from my mind. Even if I don't have power to decide whether I'll have you this month, this day, or even this century, but I do can control my mind. Having faith. Believe in something good. That you'll come here, with us, soon.

Hey kiddo,
No one in this world could guarantee when you come, we'll be happier. Many couples split up because of their children. Many parents cry and die in sadness caused by their kids. And countless kids make their parents in danger and total pain. But, we'll take that risks. We're ready for it. You hear that kiddo, we'll take any risks.

Hey kiddo,
If you're up there, please tell God we're ready here. We're ready to have u, now.

Thursday, October 6, 2011

Telur Dadar Award

Telur dadar adalah salah satu masakan paling pertama yang aku bisa masak dengan benar. Urutannya harus tepat. Pecahin telur, masukkan sejumput garam, aduk sebentar pakai garpu, panaskan minyak, tuang telur, dan naaah, di sini bagian yang penting. Kapan mesti membalik telur dan jaga supaya jangan berhamburan.

Okay, aku bukan Farah Quinn yang bisa ngasih kuliah 2 sks (1 sks tentang telur dadar, 1 sks tentang membesarkan dada) masak memasak, so let me begin this story with a day after my wedding night.

*yang ngeres udah pasang mata baik-baik nih pasti*

Kebetulan yang langka, aku nikah ama orang yang fobia/anti/enek ama telur rebus dan telur mata sapi. So, satu2nya pilihan untuk menyajikan telur buat suami tercinta adalah telur dadar. Ah, gampang kan? Kecillah, kalo cuma telur dadar aja. Masalahnya, cuma itulah masakan yang aku bisa masak menurut aturan tata laksana yang berlaku.

So, pagi hari setelah nikah, seperti biasa Eja harus sarapan jam 06.30pagi. (Biar gak kaget, sebagai ilustrasi 06.30 itu waktu aku bangun pagi). Sarapan pagi itu tebak apa. Yak, telur dadar. Aku yang buat.

Pakai telur dua. (Ya iyalah, ikaa, skip!)
Pakai daun bawang potong miring.
Pakai tomat potong dadu.
Pakai bawang merah iris bulat-bulat.
Pakai bawang putih iris tipis.
Pakai cabe merah dipotong kecil-kecil.
Pakai cabe rawit potong.

Ceeesss!!
Adonan telur dadar spesial udah dituang ke kuali. Oke, ini masalah. Kualinya belum panas, apinya aku gedein. Oh, ternyata minyaknya kebanyakan, adonan telur jadi mengambang.

Jangan menyerah, Ika.

Pinggirnya udah agak gosong, jadi aku balik telor dadarnya. Hop! Sekali balik donk, langsung bisaa *bangga*. Pinggirnya udah agak coklat, langsung aku matiin api kompor, dan angkat tuh telur dadar ke piring.

Pasti aku dipuji deh ini. Isinya banyak, macam2, wanginya udah semerbak asoi.

Eja ambil garpu, mulai motong telur. Ceesss.. Dalamnya belum mateng alias masih mentah.

*nangis*

Sejak itu aku tambah sering masak telur dadar, berkali-kali lagi kurang matang, kurang asin, kurang hambar, kurang lebar, tapi tetep Eja makan sampai habis.

Kata dia, telur dadar buatan aku juara banget. Why? Because I put love sprinkles there.

#repost Untuk Calon Anak Kami...

*10 bulan lalu aku bikin postingan ini. Tapi kesedihannya masih sama.*

Dear Calon Anak Kami (Yang Entah Kapan)...

Bahkan sebelum surat ini siap pun, aku yakin kamu gak akan baca.

Kenapa? Yah, karena aku gak tau kapan kamu akan datang, kapan kamu akan tinggal di rahim ku, kapan kamu akan manggil kami dengan mama dan papa.

Tapi satu hal yang pasti, kapanpun Tuhan mau titipkan kamu ke kami, insyaAllah kami sudah lebih siap sekarang. Calon mama dan papamu ini sudah jarang berantem lagi, sudah lebih kompak, sudah tidak boros, dan pekerjaan juga sudah tetap. Kami mau kamu tidak kekurangan satu apapun. Kami mau memberikan kamu limpahan kasih sayang dan materi yang cukup. Biar kamu tumbuh jadi anak baik dan sehat.

Hanya buat kamu, calon anak kami yang entah kapan..

Kamu tau gak, di profesi aku, hampir tiap hari aku liat orang hamil. Ada yang baru menikah 1 bulan langsung test pack nya positif. Ya, test pack itu alat melihat hamil atau tidak. Ada juga yang sudah punya anak 4, tapi kali ini hamil lagi. Semua tampak mudah di mereka. Tiap kali melihat itu, aku sering nangis dalam hati, sambil bertanya-tanya kapan giliran aku yang test packnya positif. Apalagi kalo aku dengar berita mereka yang menggugurkan kandungannya. Sangat miris.

Kenapa gak dikasih ke aku aja, ya Tuhan? Sedih sekali rasanya.

Dear calon anak kami yang entah kapan..

Nanti, kalo aku dikasih kesempatan untuk mengandung kamu, aku janji tidak malas dengerin musik klasik, yang katanya bisa bikin kamu pinter. Aku juga janji mau makan sayur, segala macam sayur, supaya kamu sehat. Aku janji akan minum susu dan berbagai vitamin, walaupun aku sangat mual mencium aroma susu. Aku janji mengurangi waktu jalan-jalan dengan teman-temanku, dan perbanyak istirahat. Aku juga janji gak akan tidur larut, kebiasaan jelek yang bikin calon papa kamu itu marah-marah, dan harus dicium dulu pipinya biar gak marah lagi.

Sekarang ini, entah kamu denger atau gak, doain calon mamamu ini berhasil pengobatannya ya. Sudah 10 bulan kami berusaha biar kamu datang, tapi ternyata Tuhan masih minta kami sabar, dan benar-benar dalam kondisi fit sebelum punya kamu. Doain ya. Katanya doa anak untuk orang tuanya itu manjur loh.

Semoga suatu saat kamu memang datang ke kehidupan calon papa dan mamamu ini ya. Sampai saat itu tiba, kami gak akan berhenti berdoa dan melakukan segala yang perlu biar siap didatangin kamu. Cuma buat kamu, anak kami yang entah kapan..

Ya sudah, aku harus kerja lagi ya. Ini ada pasien yang nunggu buat diperiksa, dan pasti mereka heran liat mata aku yang bengkak. Oh ya, cerita ini jangan sampai dibaca calon papamu ya, pasti nanti dia nangis. Orangnya lembut hati, calon papamu itu. Gampang terharu. Tapi nanti pasti dia akan sayang sekali sama kamu, karena dia memang suka anak-anak.

Dear calon anak kami yang entah kapan..

Jangan lupa datang ya, kami masih menunggu di sini.

Ayo, nanti kami ajak kamu melihat dunia

Dipermainkan Nasib

Pintar. Nilai bagus di kuliah. Jadi dokter dengan IP tertinggi. Sekarang jadi dokter umum biasa.

Nilai biasa-biasa aja. Lulus kuliah dengan IP standar. Bukan anak orang kaya. Sekarang lagi sekolah PPDS.

Nilai jeblok. Lulus kuliah dengan IP yang didongkrak, eh bisa sekolah ke luar negeri.

Kita semua dipermainkan nasib di sini. Tinggal bagaimana kita menangani nasib, dan tidak terpuruk oleh nasib yang buruk.

Wednesday, October 5, 2011

21 tahun setelah #TK

TK di sini maksudnya Taman Kanak-Kanak ya.

Mari kita mengandalkan memori otak sampai sejauh mana dia bisa mengingat kenangan 21 tahun lalu. (Tunggu, apaaa!? 21 tahun laluuu?! *backsound menggelegar ala sinetron pas adegan ternyata si A bukan anak kandung si B, ternyata ketuker*)

Baaiklaaah,
Prestasi waktu TK, dimulai :
- aku masuk TK pas umur masih 4 tahun. Karena mama gak tahan ama kelakuan aku yang super evil, diantaranya, jalan kaki di parit depan rumah, suka gigitin bahu mama, suka cubitin pipi adek aku yang masih bayi, suka manjat pohon cherry sampai pucuk pohon, dll dll yang terlalu nista disebutin di sini.

- aku bisa ngayun ayunan sambil berdiri di atas bangku ayunan. Pokoknya rasanya kayak terbang di langit deh pas ayunan lagi kenceng banget itu. I'm on the top of the world! Rasanya gak perlu aku sebutin di sini kalo aku nangis karena ayunannya gak bisa berhenti. Untung ditangkap ama pak guru. *sniff*

- aku pernah mancing kodok di kolam ikan, pake tali pinggang temen. Oke, sekarang ketawalah kalian. Tapi zaman itu otak aku juga masih kecil, jadi wajar kalo gak tau kalo kodok gak bakalan tertarik ama tali pinggang.

- aku bisa manjat panjat-panjatan sampai paling atas. Waktu itu aku belum terlalu peduli kalo celana dalam keliatan kemana-mana. Yang penting sampai paling atas trus dudukin kursinya.

-waktu karnaval, udah pinter minta pake kostum dokter. Untung sekarang kesampean jadi dokter.

21 tahun setelah selesai TK, aku masih ingat beberapa prestasi (atau kenakalan, kalo kita lihat di zaman jahiliyah itu), dan beberapa materi pelajaran. TK zaman aku dulu, bener-bener Taman Kanak-Kanak. Hanya main, susun balok, mewarnai, bukan membaca dan berhitung seperti TK zaman sekarang.

TK buat aku dulu, adalah salah satu kemewahan masa kanak-kanak. Lebih banyak porsi ketawa dibanding sedih. Berbanding terbalik ama kehidupan dewasa 21 tahun kemudian.

Tuesday, October 4, 2011

Jangan Sampai Hilang

Di jalan waktu pulang kantor beberapa hari yang lalu, ada temen yang nanya gimana dulu waktu aku pacaran ama Eja. Well, kami pacaran hampir 5 tahun, pokoknya sepanjang masa kuliah. Kalo aku ditanya pernah gak ngalamin masalah yang beraaat banget sampe mau putus, jelas aku bilang enggak. Mungkin karena Eja tuh orangnya sangat tidak macam-macam. Gak pernah ngatur aku harus gini harus gitu. Gak pernah cemburu. Gak pernah gak percaya ama aku. Buat dia, daripada menyiksa diri dengan pikiran negatif curiga aku sama orang lain, mending perbanyak pikiran positif.

Pernah jengkel liat pasangan yang kerjaannya suka meriksain hape kita kalo ketemu? Well, aku gak pernah ngalamin. Karena Eja sama sekali gak pernah ganggu privacy aku. Bahkan sekarang, waktu kami udah nikah pun, tiap liat aku sibuk ama BB (hehe..), dia cuma bilang, "ika bikin apa sik, serius kali", trus aku langsung nyengir-nyengir en mulai ceritain apa yang aku baca/ apa yang aku tulis. Bukan dengan nada marah, karena ngerasa dicuekin. Karena sikap dia yang super percaya gini, aku jadi gak khawatir sama sekali. Walaupun dia di Rumah Sakit dikelilingi banyak perawat yang masih muda-muda dan cantik, aku sama sekali gak khawatir.

Pokoknya dalam satu hubungan itu kalo mau awet, saling jaga kepercayaan aja. Percaya kalo kita emang satu-satunya yang ada di pikiran dia saat ini. Pake prinsip ini, hubungan kami awet sampai hampir 6 tahun. Itu aja sih, yang jangan sampai hilang.

2 Tahun Dulu?

Ada dokter kandungan yang nyaranin kami tunggu sampai usia 2thn perkawinan dulu, baru nanti kistanya dilaparoskopi. Karena ada kasus yg juga kista endometriosis, setelah 2thn nikah, bisa hamil normal.

Masih pikir-pikir. Karena sekarang sakitnya udah gak ada lagi sih. Lagian papa juga baru sembuh.

Ya Allah, semoga ini memang bisa hamil alami. Aku takut kalo mesti dilaparoskopi segala. Amiiin..

Monday, October 3, 2011

TujuhTimeLine

1. Timeline
Time (n) : what is measured in minutes, hours, etc.
Line (c) : an imaginary limit or border between one thing or another.
(From Oxford Dictionary)

2. Timeline
Sekumpulan kalimat yang disampaikan beberapa orang dalam waktu bersamaan di akun twitter mereka masing-masing. Tempat dimana aku mengenal beberapa orang hebat, pikiran-pikiran inspiratif, motivasi, ilmu, yang mereka bagikan gratis di sana.

3. Timeline
Dimana aku pernah merasa sangat tersanjung karena banyak mention, seakan-akan dunia bersikap sangat ramah. Dimana aku juga pernah terseok sakit hati melihat berita kehamilan beberapa teman. Dimana aku bahagia menerima banyak ucapan selamat ulang tahun, walaupun aku tau sebenarnya mereka tidak ingat. Dimana aku bisa berkomunikasi langsung dengan beberapa orang yang aku kagumi, dan sangat senang ketika mereka membalas.

4. Timeline
Waktu 1 tahun yang dia habiskan untuk membuat aku mau mengatakan ya, bersedia jadi pacarnya.

5. Timeline
Tidak kurang dari 4 tahun 6 bulan kami berproses saling mengenal, saling berkompromi, berbagi tawa, air mata, sampai akhirnya aku bilang "of course" saat dia tanya "would u be my wife?".

6. Timeline
Maret 2010 hingga Oktober 2011. Usia pernikahan kami masih muda. Kalau balita, ini belum bisa jalan, masih merangkak. Begitu juga dengan kami. Masih meraba, merangkak, dan beberapa kali tersungkur mendengar kenyataan Allah belum percaya kami punya keturunan. Tidak terhitung berapa banyak bahunya menjadi tempat air mata ini tumpah. Tetapi kami masih berbagi tawa, saling menguatkan. Dan membuang jauh-jauh pikiran bahwa kami hanya akan hidup berdua.

7. Timeline
Waktu yang tidak pasti. Sampai entah kapan aku harus menunggu. Menunggu anak kami yang akan memanggil aku ibu.

Sunday, October 2, 2011

Cinlok? Yes, WE ARE!

-cerita dua tokoh ini bukan fiksi-

September, 2004

-Ika-
Hari ini hari pertama di kampus. Wuidih, jadi anak FK, euy! Seneeeeng.. Jadi istri dokter udah lama jadi cita-cita aku. Sejak kecil malah. Makanya dari SD udah belajar bagus-bagus, biar bisa jadi dokter en punya pacar dokter, trus jadi istri dokter. Alhamdulillah PMDKnya diterima. Yihaaa!! Mmmm..di jadwal kuliah tiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Sesuai dengan nomor induk mahasiswa yang ganjil, aku ada di kelas A, masuk dari jam 7 pagi dilanjutkan praktikum jam 10 sampai jam 1 siang. Pokoknya di FK ini aku harus banyak teman, ikut banyak kegiatan. , jadi panitia ini-itu. Oke, kayaknya kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) asik nih. Eh, ada penerimaan panitia Try Out SPMB, kegiatan tahunan FK USU sih, panitianya memang dari semester 1. Lumayan.. pokoknya aku punya 6 tahun waktu untuk nyari cowok mana yang baik dan bisa dijadiin suami. Yeah, i'm that shallow. Biariiinnn..

-Reza-
Alhamdulillah diterima di FK USU. Gak sia-sia mama doain ya. Baru hari pertama di kampus, aku udah ditunjuk jadi komting, komisaris tingkat. Semacam ketua kelas. Sesuai NIM yang genap, aku masuk ke kelas B, praktikum jam 7 pagi, lanjut belajar di kelas jam 10 sampai jam 1 siang. Sekelas ada 100 mahasiswa gini, apa nanti bisa ingat nama-nama mereka ya? Belum lagi harus ingat temen seangkatan di kelas A. Ya udah. Kita liat nanti aja. Aku maunya bisa aktif di sini, kan udah jadi mahasiswa, bukan anak SMA lagi. Makanya aku ikut HMI, dan jadi panitia Try Out SPMB. Menambah teman, nambah kenalan.

-Ika-
Jam 1 ini ada pertemuan anggota muda HMI. Datang ajalah, toh kuliah juga udah kelar. Eh, ada komting B itu, aku lupa namanya. Padahal dia juga panitia TryOut, satu divisi ama aku lagi. Duh, duh lupa. Reza ya, kalo gak salah. Nantilah, aku tanyain aja ama Dina. Biasanya Dina cepat hapal nama orang. Oke, mari kita dengarkan pengarahan. *yawn*

-Reza-
Sudah sampai di komisariat HMI. Tadi di depan pintu ketemu cewek rambutnya pendek. Cuma dia sendiri yang pake rok selutut, baju kemeja, gak berjilbab di sini. Aku gak kenal. Pernah liat kayaknya waktu rapat TryOut kemaren. Tuh, ada temennya manggil dia Ika. Oke, gampanglah, lembar absen ada di aku kok, tinggal cari namanya gampang. Loh, loh, ini pengarahan kok tiba-tiba udah siap?

-Ika-
Jumpa lagi ama Reza itu di pintu keluar. Hmm, tasnya Rusty, sepatunya Nike, lumayan, lumayan, pasti tajir. Dia bawa kunci mobil kayaknya. Lumayan. Yah, yah, si Dina udah duluan pergi. Bisa ketinggalan naik angkot kalo gak ama Dina ini. Cabut. Cabut.

-Reza-
Aduh, si Ika itu ngeliatin, jadi grogi masang sepatu ini. Aduh, kebalik ini yang kanan malah mau dipasangin di kiri. Sial. Loh, kok udah pergi Ikanya? Bentar, bentar.

-Ika-
Hop. Aman, Dina udah di samping. Tinggal nyebrang aja, nyari angkot pulang.

-Reza-
"Ikaa!"

-Ika-
Loh, si Reza itu manggil aku. Ini ada apa ya. "Kenapa?"

-Reza-
Manisnya si Ika waktu noleh ke belakang tadi. Jadi lupa mau tanya apa. "Mau pulang? Naik apa?"

-Ika-
Yah, cuma nanya aku naik apa pulang ini. Kirain mau nawarin ngantar pulang. "Naik angkot, ama Dina"

-Reza-
"Oh, ya udah" Sial. Kenapa jadi gak berani nawarin biar aku yang ngantar dia pulang? Bego. bego.

Januari, 2005

-Reza-
Ini jari tangan pada bego semua. Daritadi ngetik proposal salah-salah terus. Apa karena ada Ika di sini ya? Aduh, mana duduknya dekat banget. Wangi. Sial, salah lagi. Delete.

-Ika-
Lagi di rumah Reza, sama Harbi en yang lain, ngerjain proposal TryOut SPMB. Yah, baru hari Sabtu gini yang sempat ngerjain. Tugas kuliah banyak banget, kayak kerja rodi. Btw, rumahnya bagus. Oh, ternyata adeknya ada 2 yang cowok, kakak perempuan 1. Baguslah proposalnya udah mau siap. Tinggal aku cari tumpangan ke depan, trus naik angkot pulang. Semoga gak keburu Maghrib di sini.

-Reza-
Oke, siap proposalnya. Si Harbi minta antar pulang. Sekalian aja aku tawarin Ika mau gak diantar pulang. Ternyata dia mau.

-Ika-
Barusan aja diantar Reza pulang ke rumah tante. Sempet susah banget pas dia masukin mobil ke gang yang sempit kayak lubang neraka ini. Hahaha. Tadi di jalan kami ngobrol banyak, jadi tau kalo dulu dia sebenarnya mau masuk teknik mesin, tapi lulus di kedokteran. Eh, bentar, ada sms dari Reza nih.

-Reza-
"Ika malam ini ada acara gak?"-sent. Setelah setengah jam lebih mikirin sms Ika apa enggak, akhirnya terkirim juga. Tinggal setengah mati nahan sakit perut nunggu Ika balas apa.

-Ika-
Aaaaakk!! Aku jawab apa ini!!! Jawab apaaa!!
"Gak, emang kenapa?" -sent. Standar banget sih jawabnya emang. Nunggu 1 menit..2 menit..Arghh! Mana balasannya?

-Reza-
Beres dari toilet. Ternyata tadi emang sakit perut beneran. Holy shit, ada balasan dari Ika. Aku langsung balas aja "Kita jalan yok. Nonton kek, atau makan, yang penting jalan lah. Mau gak?- sent.

-Ika-
AAAAakkk!! Aku diajak ngedate! Ini pertama kalinya ada yang ngajak ngedate sejak kuliah.. Duh, capek lonjak-lonjak kesenengan. "Oke, boleh"- sent. Kata kak Inda jawab aja pendek-pendek, biar gak keliatan kali ngarepnya.

-Reza-
Yes! Ika mau. "Aku jemput jam 7 ya, Ka"-sent. Bersihin mobil dulu, minjem parfum mobil ama Kak Ida, trus cari jaket kesayangan ada dimana. Dududu..

-Ika-
Mampus ini! Aku pake baju apa!? Pake sepatu apaaaa?! Gawaaaat!! Whole world, help me!!

-setelah beberapa kali ngedate, ikut kepanitiaan yang sama, ikut organisasi yang sama, akhirnya dua tokoh kita ini pun semakin dekat.-

Desember, 2005

Reza : "Ka, mau gak kalo sama-sama aku terus?"
Ika : "Maksudnya, jadi pacar, gitu?"
Reza : "Iya, mau gak?"
Ika : "mmm..boleh"

Maret, 2009

Reza : "Ka, would you be my wife?
Ika : "Of course"

Maret, 2010

Reza : "Saya terima nikahnya Fairuza Laily binti Amuransyah dengan mas kawin tersebut"
Ika : "Alhamdulillah.."

Hari-hari sekarang,

Teman : "Kalian dulu satu kampus ya, makanya bisa ketemu?"
Ika : "Iya, satu angkatan malah."
Teman : "Wah, cinlok dong"
Ika : "Cinlok? yes, we are!"

-fin-




Hari Udah Berganti

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Dalam sekejap mata, tahun 2011 inipun akan berakhir. Dan masih belum ada tanda-tanda kehamilan dari aku. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Sebentar lagi November, lalu Desember, dan dalam sekejap mata sudah 2012. Lalu dalam sekejap saja, 2 tahun sudah pernikahan kami, tanpa keturunan. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Semakin banyak teman yang hamil, semakin banyak teman yang nikah dan langsung hamil, semakin banyak teman yang masang foto bayinya jadi display picture ввм. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Tapi aku masih sakit setiap kali liat kebahagiaan mereka yang punya anak. Aku iri. Aku sakit hati. Aku menangis dalam hati. Aku mengutuk diri sendiri. Aku mau kebahagiaan yang sama seperti mereka. Kenapa harus aku yang nunggu segini lama? *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Masih sangat susah bersyukur atas apa yang telah aku raih. Dan terus berfokus pada satu hal yang belum aku punya, anak. Beribu hal lain yang harus aku syukuri karena orang lain gak punya, jadi gak punya arti dibanding satu hal itu. Beribu hal baik lain yang telah kami raih, jadi hilang artinya karena satu hal itu. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Dari bulan Januari ini kami sudah berdoa semoga tahun ini jadi orangtua. Tapi apa daya, kuasa itu bukan di tangan kami. *sigh*

Hari udah berganti jadi tanggal 2 Oktober. Tapi keinginan aku masih sama, tahun ini aku mau jadi ibu.

*sigh*